Sebelum Mengajarkan Anak, Sudahkah Kita Mengajar Diri Kita Sendiri?

Betapa kita sebagai orang dewasa yang kerap mengajarkan anak kita berjuta-juta kebaikan dan nilai kehidupan yang super penting malah abai atau malas untuk mengajarkan diri kita hal yang sama.

Pasca pilpres berlangsung, timeline social media saya ramai dengan cuitan dari para pendukung kedua kubu capres. Mau tahu apa yang membuat saya gerah? Ketika melihat status-status media sosial dari mereka yang sulit menerima kekalahan dan dari mereka yang begitu jumawa dengan kemenangan yang diperolehnya. Sorry, tapi saya harus unfollow kalian dari pertemanan di dunia maya agar kepala saya nggak pusing dan emosi saya stabil, hahaha.

Dari sini kemudian saya menyadari, betapa kita sebagai orang dewasa yang kerap mengajarkan anak kita berjuta-juta kebaikan dan nilai-nilai kehidupan yang super penting malah abai atau malas untuk mengajarkan diri kita hal yang sama. Hal-hal yang kita ingin ada di dalam diri anak kita, namun malah tidak kita temukan di dalam diri kita sendiri? Sedih ya!

Sebelum Mengajarkan Anak, Sudahkah Kita Mengajar Diri Kita Sendiri? - Mommies Daily

Tentang Kemampuan Menerima Kekalahan

Masih ingat, bagaimana kita membesarkan hati si kecil ketika misalnya dia kalah dalam sebuah perlombaan? Kita mengatakan bahwa selalu ada menang dan kalah dalam hidup. Bahwa tidak semua yang kita inginkan harus selalu terpenuhi. Bahwa dia sudah berusaha yang terbaik, maka dari itu kalah menang menjadi tidak penting, yang terpenting usaha yang sudah dia lakukan.

Ketika anak kita kalah, apa kemudian kita menyeret si kiecil mendatangi juri perlombaan dan mengatakan bahwa para juri ini telah berbuat curang dan mendzolimi anak kita? Atau mengajak orangtua lain dari anak-anak yang kalah untuk demo atau bahkan membully anak yang menang? Kayaknya sih tidak. Karena kita ingin anak kita berjiwa besar menerima kekalahan.

Lantas, ketika calon presiden junjungan kita untuk sementara kalah berdasarkan hasil quick count, kenapa kita melakukan semua hal yang bertolak belakang dari apa yang kita ajarkan kepada si kecil? Menganggap KPU curang, tidak sabar menanti hasil hitung hingga menghujat pihak yang menang?

Tentang kemampuan untuk bersikap rendah hati dan tidak menghina

Saat si kecil berhasil membuat kita bangga karena dia menjadi juara, entah dalam kegiatan apa pun itu, pasti kita mengucapkan selamat, dan mengingatkannya untuk jangan bersikap sombong dan menghina yang kalah. Pasti kita menyuruhnya untuk menjaga perasaan yang kalah, karena suatu saat dia bisa jadi berada di posisi yang kalah itu.

Lantas ketika (lagi-lagi) berdasarkan hasil hitung cepat, calon presiden kecintaan kita ternyata memimpin perolehan suara, kenapa kita jadi lupa dengan pelajaran rendah hati yang kita dengungkan terus menerus di telinga anak kita? Menjadi sombong dan menuliskan status-status memancing emosi dari pihak yang kalah? Merayakan kemenangan sah-sah saja, tapi merayakan dengan merendahkan pihak yang kalah itu sungguh menyebalkan. Percaya deh, nggak perlu menyombongkan jagoan kita kalau hasil kerjanya memang sudah membuktikan dia itu jagoan :)

Tentang kemampuan untuk menyebarkan kebenaran

Seberapa sering kita meminta anak kita untuk jangan mudah menyebarkan berita atau cerita bohong? Seberapa sering kita meminta anak kita untuk jangan menjadi bagian dari kelompok pembohong? Setiap saat pastinya.

Lantas, ketika kita dengan mudah menekan tombol share dari sebuah berita yang belum tentu kebenarannya, di mana nilai kejujuran yang selama ini coba kita tanamkan ke anak kita?

Manusia dikaruniai akal, maka gunakan akal itu untuk mengecek setiap berita yang kita dapat. Manusia diberikan hati, maka gunakan hati untuk menahan diri agar tidak membenci orang dengan membabi buta.

Setiap kali kita ingin melakukan sesuatu, coba tanya ke diri kita: Apakah kita akan bangga jika anak kita melakukan hal yang sama?

Jangan kita terlalu sibuk mendidik anak hingga kita lupa mendidik diri kita sendiri tentang hal-hal yang baik dan yang benar. Jangan kita terlalu sibuk memberi ‘makan’ otak kita hingga kita lupa memberi makan hati sekaligus jiwa kita.

Maka sekali lagi, coba tanya ke diri kita: Apakah apa yang saya ajarkan ke anak saya sudah saya terapkan ke diri saya sendiri?


Post Comment