Anak Masuk SD: Yang Harus Disiapkan Hadiri Pertemuan Orangtua & Sekolah

Ketika anak masuk SD, manfaatkan pertemuan mommies dengan pihak guru-guru dari sekolah SD yang diincar, mencari formula berkolaborasi dengan pihak sekolah, untuk kelangsungan pendidikan si kecil selama enam tahun.

Anak Masuk SD: Yang Harus Disiapkan Hadiri Pertemuan Orangtua & Sekolah - Mommies DailyImage: by Amy Hirschi on Unsplash

Dua bulan terakhir ini isi otak saya penuh dengan urusan anak masuk SD. Mulai dari survei sekolah, menemani si kecil observasi, hingga kami orangtua juga ikuta di wawancara. Sungguh ya, masuk SD swasta sekarang beban mentalnya hampir sama seperti masuk kerja. Minimal setengah tahun sebelumnya, kita harus daftar dan melunasi biaya pendaftaran.

Baca juga: Sudahkah Kita Mengenal Pengajar Anak Kita?

Salah satu poin menarik yang saya ambil selama masa pencarian SD ini adalah kolaborasi antara pihak sekolah dan orangtua murid. Hal ini terungkap ketika sesi wawancara berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ke saya adalah bekal awal bagi pihak sekolah “kenalan” dengan calon murid mereka. Misalnya, ceritakan tentang karakter anak ibu? bagaimana karakter anak terkait keinginanannya mendapatkan sesuatu yang dia inginkan? Bagaimana kebiasaan screen time di rumah?  dan lain-lain.

Pada saat itu, saya merasakan obrolan dengan pihak sekolah kurang maksimal. Yang mendapat perhatian penuh, lebih ke mental Jordy mengikuti observasi. Untuk diri sendiri, kurang disiapkan. Karena itu, saya mengambil kesimpulan, ke depannya, saat menghadiri pertemuan antara guru dan sekolah, wajib mempersiapkan hal-hal berikut ini.

1. Merencanakan pertanyaan

Pas survei sekolah banyak banget daftar pertanyaan saya. Eh pas sesi saya diwawancara pihak sekolah, blasss lho, nggak ada satu pun pertanyaan saya siapkan. Padahal bisa banget saya juga bertanya balik tentang sesuatu yang masih ingin digali lebih detail.

2. Guru+orangtua murid = tim

Walau belum resmi menjadi orangtua murid di sana. Rumus di atas (IMHO) sebaiknya ditanamkan bahwa ke depannya mommies dan guru akan menjadi tim mengawal kegiatan belajar mengajar anak di sekolah. Jadi wajar kok kalau mommies bertanya hal-hal yang bisa diantisipasi, misalnya: “bagaimana langkah nyata pihak sekolah, jika ada murid yang di-bully. Baik itu untuk pelaku dan korbannya?”

3. Menjadi pendengar yang baik

Bagaimanapun guru punya pengalaman lebih banyak menghadapi berbagai macam karakter anak. Jadi ketika mereka sedang menjelaskan sesuatu, dengarkan dengan saksama.

4. Biasakan ada tindak lanjut

Setelah ngobrol, biasanya pas sampai rumah baru kepikiran sesuatu. Jika ada yang perlu dikritisi lebih lanjut, jangan sungkan mengajukan pertanyaan susulan.

-

Dikutip dari fatherly.com, seorang Amanda Morin, guru yang berpengalaman 10 tahun, penulis buku “The Everything Kids’ Learning Activites Book”, salah satu tujuan utama pertemuan antara orangtua dan guru adalah untuk mengetahui kemajuan anak dan memastikan dalam proses belajarnya dia memiliki semua dukungan yang diperlukan untuk melakukannya. 

Baca juga: Anak Berpikir Kritis Tak Hanya Aktif Bertanya, Kenalkan & Latih dengan 5 Cara Ini!

Selain itu menurut saya, apa saja kesulitan yang dihadapi anak? baik itu untuk kegiatan belajar formal dan kemampuan anak bersosialiasi dengan teman dan seluruh elemen sekolah. 

Kata Amanda lagi, idealnya orangtua dan guru punya hubungan yang baik. Karena ujung-ujungnya untuk memastikan anak mendapatkan dukungan maksimal dari kedua belah pihak, sehingga masalah apapun yang terjadi di sekolah bisa diatasi bersama.

Baca juga: Tunda Anak Masuk SD, Agar Tak Bosan di TK, Bagaimana Caranya?


Post Comment