Tunda Anak Masuk SD, Agar Tak Bosan di TK, Bagaimana Caranya?

Di antara mommies ada yang terkondisikan menunda si kecil masuk SD karena satu dan lain hal? Supaya anak tidak bosan dan lebih siap menunggu tahun berikutnya aktif sebagai murid SD, simak penjelasannya dari pakar berikut ini.

Tunda anak masuk SD - Mommies DailyImage: Jerry Wang on Unsplash

Di lingkungan pertemanan saya, mulai bergulir obrolan mengenai ada kemungkinan kami menunda si kecil masuk SD. Salah satu alasan yang paling banyak dilontarkan, demi kematangan usia mereka. Jadi kalau dari serangkaian tes memang belum memenuhi kriteria kesiapan seorang anak menjadi murid SD, ya tidak apa-apa menunda. Masalahnya sekarang, bagaimana caranya, supaya mereka tidak bosan? Dan dalam kurun waktu menunggu tahun depan, apa yang  bisa kita lakukan untuk membuat anak siap mengikuti rutinitas di jenjang SD?

Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih detail, dan berbasis ilmu psikologi anak, saya melontarkan beberapa pertanyaan, kepada Carmelia Riyadhni, S.Psi, Founder Rumah Dandelion dan praktisi dunia pendidikan anak.

Hai Mbak Carmel, sebetulnya usia yang disarankan anak masuk SD ketika usia berapa? Dan alasannya?

Perlu diketahui bahwa saat anak masuk usia sekolah (dimulai dari SD), tuntutan akan semakin banyak. Contohnya, anak diharapkan dapat lebih fokus saat di kelas, pengerjaan tugas dengan paper-pencil lebih sering, dituntut lebih mandiri terhadap kebutuhan dasarnya, dan juga anak harus dapat mengikuti aturan dan mampu berkomunikasi dengan guru serta teman. Maka dari itu, diharapkan adanya kesiapan sekolah (school readiness) sebelum anak masuk SD (akan dibahas detail pada pertanyaan nomor 2).

Di sisi lain, Pemerintah memberi saran usia 7 tahun untuk usia sekolah. Secara kognitif, anak usia 7 tahun sudah memasuki tahapan kognitif concrete operational (Piaget, 1954), dimana anak mulai lebih paham mengikuti aturan yang jelas dan logis (misalnya: mulai memahami mana yang benar dan salah, apa yang harus dilsayakan sebelum bertindak, dan lain-lain) serta sedang mengembangkan kemampuan memecahkan masalah pada situasi konkret. Melihat hal ini, anak berusia 7 tahun diharapkan lebih matang untuk dapat mengikuti kegiatan di SD.

Buat saya, orangtua dapat melihat terlebih dahulu kesiapan sekolah anak sebelum memutuskan apakah ia dapat dimasukkan SD atau tidak. Setidaknya orangtua dapat membantu sang anak dalam mempersiapkannya. Tidak dipungkiri bahwa setiap anak berbeda dan memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri. Jika anaknya usia 6 tahun dan sudah sangat matang, saya rasa dapat dimasukkan ke SD. Namun jika tidak, lebih baik ditunda.

Selain usia, aspek apa saja yang menjadi indikator anak siap masuk SD mbak?

Kesiapan sekolah menurut Unicef (2012) merupakan kemampuan anak untuk siap belajar pada situasi belajar terstruktur (sekolah). Kemampuan dasar yang perlu dimiliki anak sebelum masuk sekolah termasuk kemampuan literasi, numeric, kemampuan mengikuti instruksi, dan dapat bermain/bekerja sama dengan anak lain dan lingkungan (Rouse, Brooks Gunn, & Mclanahan, 2005).

Secara sederhana, anak perlu dilihat:

  1. Aspek perkembangannya : meliputi kemampuan motorik kasar, motorik halus, serta kemampuan bahasa apakah sudah sesuai pada tahapan usianya.
  2. Aspek kemandirian : anak sudah mampu pergi ke toilet secara mandiri (melepas/memakai baju, serta membersihkan diri), bertanggung jawab terhadap diri, dan dapat meminta tolong saat mengalami kesulitan.
  3. Aspek sosial : Saat di sekolah, anak mulai membangun relasi dengan teman-temannya sehingga kemampuan bersosialisasi sebelum masuk sekolah perlu dicermati. Selain itu, mengajak anak mengikuti aturan yang berlaku, dimulai dari aturan di rumah.

Jika teman-temannya di rumah atau saudara-saudara sepantarannya sudah lebih dulu masuk SD. Kalau dia tanya, “Kok saya belum masuk SD seperti mereka mah?”. Sebaiknya penjelasan seperti apa yang bisa kita kasih ke mereka, supaya tenang, dan nggak merasa “lain sendiri.”

Kita dapat memberi penjelasan bahwa setiap orang dapat berbeda-beda dan unik, ada yang lebih cepat-ada yang lebih lambat. Tambah lagi, setiap keluarga memiliki aturan-aturan berbeda-beda. Misalnya “Wah, kamu sudah ingin masuk SD ya? Si X sudah masuk SD mungkin ia lebih siap. Tidak apa jika kamu belum. Kamu bisa ikut kegiatan lain  sambil menunggu tahun depan masuk SD.”

Sebaiknya mengulang TK, atau ikut les mbak?

Masuk sekolah merupakan salah satu fase transisi anak, sehingga dibutuhkan persiapan yang matang dan rutinitas yang dibentuk. Akan lebih mudah jika orangtua dapat memberikan kegiatan rutin kembali seperti TK. Saat harus mengulang kedua kali TK B, orangua dapat berdiskusi dengan guru di sekolah untuk membantu anak mempersiapkan sebelum masuk SD (pengulangan TK). 

Jika memilih untuk mengikuti les terkadang secara waktu tidak seperti sekolah formal (sekolah biasanya senin-jumat dengan jam tertentu). Jika ingin mengikuti les, pastikan orangtua membentuk rutintas dan kegiatan di rumah secara terstruktur supaya anak belajar perlahan-lahan mengikuti aturan.

Kalau ikut les, les apa saja yang disarankan supaya bisa sekaligus mengasah kemampuan dia, yang dibutuhkan ketika SD nanti?  Dalam seminggu supaya nggak bosan maksimal berapa kali?

Jika mengikuti les, maka perlu dibarengi dengan kegiatan permainan di rumah. Anak bisa mengikuti les bola atau senam (untuk melatih motorik kasarnya secara terstruktur), kegiatan bermain dengan blocks (melatih kemampuan spasial), atau art class (membantu melatih kemampuan motorik halusnya).

Berapa kali seminggu? Lakukan sesuai dengan kebutuhan anak dan juga kemampuan orangtua (contoh: untuk mengantarkan ke tempat les perlu dipertimbangkan akses dan ketersediaan waktu orangtua atau pendamping).

Diselingi kegiatan di rumah, yang tetap ada unsur fun-nya, sebaiknya bisa berupa apa saja, mbak?

Kegiatan di rumah yang dapat mendukung kesiapan anak sekolah misalnya:

  1. Menciptakan waktu untuk saling bercerita antara orangtua dan anak untuk melatih kemampuan komunikasi.
  2. Bermain dengan kegiatan motorik halus seperti meremas sponge sambil memindahkan air, bermain meronce, atau membuat bangunan dari balok. Hal ini akan mengembangkan kemampuan motorik halus anak.
  3. Libatkan anak untuk menentukan aturan bersama anak dengan membuat gambar secara visual (gambar) supaya menyenangkan, misalnya kapan harus bangun tidur, dan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan sendiri setelah bangun pagi. Biasanya anak tertarik mengikuti rutintas jika mereka dilibatkan dalam pembuatan aturan di rumah.
  4. Membuat playdate di rumah supaya anak dapat belajar berinteraksi dan belajar menghadapi konflik dengan sesama teman.
  5. Bermain motorik kasar (outdoor) untuk mengembangkan ketahanan fisik

 Semoga tercerahkan, ya, mommies. 


Post Comment