Ketika Anak Biasa-biasa Saja, Bisakah Kita Berdamai?

Ditulis Oleh: Ficky Yusrini

Bagaimana membesarkan anak yang biasa-biasa saja dan tetap menjadi orangtua yang santuyyy.

Saat Anak Tidak Sempurna - Mommies Daily

Belum lama, saya mendapat kesempatan mengajar yoga untuk anak-anak. Dalam satu ruangan itu, ada beberapa anak berusia antara 5-6 tahun. Mereka cepat sekali menerima instruksi dan bisa melakukan semua pose yang diminta tanpa kesulitan sedikit pun. Setelah 10 menit, saya baru sadar, ternyata audience saya ini semuanya anak jagoan. Mereka memiliki kelenturan di atas rata-rata. Di akhir kelas, saya ngobrol dengan para mama mereka. Rupanya, anak-anak ini, selain yoga, rajin juga diikutkan balet, kungfu, dan gymnastik. Wow! Saya takjub sendiri mendengarnya.

Ketika saya ceritakan hal ini pada teman, mereka pun menimpali. “Hari ini aku menolak mengajarkan membaca anak umur 3,5 tahun. Salah satu syarat masuk ke salah satu TK sekolah internasional, sudah harus bisa baca. Jadi bapak ibunya kebat-kebit, tahun depan harus bisa baca,” ujar salah seorang teman saya.

Memang ada sebagian anak terlahir gifted. Punya bakat bawaan. Namun, ada juga yang karena pengaruh effort orangtua. Entah itu diikutkan les ini itu, atau dididik keras dengan target-target tinggi, sampai-sampai tak punya lagi waktu tersisa untuk bermain bebas. Makanya, jangan heran jika ada batita berusia 2 tahun yang sudah hafal 42 surat Al Qur’an. Ada pula, anak artis yang baru berumur 1 tahun sudah diajari 3 bahasa.

Baca juga:

Ketika Anak Terlalu Ambisius, Orangtua Harus Bagaimana?

Terus terang, saya pernah iri sekali pada teman saya, yang walaupun nggak pernah menemani anak belajar, tapi anaknya jago banget matematika, tanpa harus les. Dia tidak tahu bagaimana susahnya mengajari anak untuk bisa matematika. Saya juga suka iri, kok, anak-anak lain gambarnya bagus-bagus ya. Punya jiwa artistik. Anak saya tidak seperti itu.

Manusia Unggul

Keresahan ketika membandingkan kemampuan anak dengan anak orang lain ini ternyata bukan hanya saya saja yang merasakan. Beberapa teman ngobrol juga mengamininya. Sepertinya banyak orangtua sekarang yang berpikir bahwa jalan untuk membuktikan dirinya adalah manusia yang baik, sukses, pintar, dan bisa diterima di masyarakat adalah dengan mendidik anaknya menjadi anak yang pintar dan bertalenta, kalau perlu di atas rata-rata.

Baca juga:

Intensive Parenting: Saat Anak Tak Lagi Punya Hak Untuk Mengurus Dirinya Sendiri

Tapi tentang bagaimana membentuk anak menjadi bintang, tentu setiap orang hanya bisa menebak-nebak dan berusaha dengan caranya sendiri. Tidak ada yang mau punya anak yang biasa-biasa saja, tak ada prestasi yang bisa dipamerkan. Di satu sisi, anak dituntut dan dibentuk untuk menjadi manusia unggul dan sempurna, di sisi lain, orangtua juga berusaha keras untuk menjadi orangtua yang sempurna di mata anak.

Mengenai hal ini, ada pendapat menarik yang dikemukakan oleh sosiolog UC Berkeley, Christine Carter. Menurutnya, orang tua yang baik adalah yang bisa membantu anak berdamai dengan ketidaksempurnaannya. Hal ini penting, sebab tak ada anak yang sempurna, sehingga ketika tujuan orangtua adalah mendidik anak untuk menjadi manusia dewasa yang unggul dan sempurna, hal tersebut adalah hal tidak realistis dan bisa berujung pada kekecewaan.

Baca juga:

Idealis Itu Melelahkan, Saya Pilih Menjadi Ibu yang Realistis

Kesuksesan versus kebahagiaan

Di sini, faktor kebahagiaan dianggap lebih penting dibanding kesuksesan itu sendiri. Salah satu kunci menuju kebahagiaan -kata para spiritualis- adalah memahami bahwa menikmati hidup adalah tentang proses, bukan tujuan. Penelitian terbaru tentang kebahagiaan menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu merupakan masalah pencapaian, tetapi lebih pada perasaan telah hidup dengan cara yang membuat kita merasa nyaman.

Terkait kemampuan untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan, menurut Brené Brown, penulis buku The Gift of Imperfect Parenting, “Cara pandang ini akan membantu kita mengajar anak-anak kita untuk memiliki keberanian menjadi autentik, penuh kasih sayang pada diri sendiri dan orang lain, dan memiliki keterhubungan pada kesejatian hidup.”

Berdamai dengan ketidaksempurnaan bukan berarti menerima begitu saja atau membatasi anak untuk mengoptimalkan kemampuannya. Mengikutkan anak untuk les ini itu sah-sah saja. Orangtua belajar teori parenting segala macam juga hal yang baik. Hal ini terkait dengan cara pandang orangtua perlu membuat anak mengerti, mereka tidak perlu sempurna untuk memiliki kehidupan yang memuaskan dan bermakna.

Dengan mengubah cara pandang yang seperti ini, implikasinya akan berbeda. Misalnya, ketika anak tidak mendapatkan nilai 8 saat ulangan, atau menghadapi anak yang lemah matematika, kita bisa menghadapi dengan lebih cool, tanpa harus menekan anak melebihi batas kemampuannya.

Baca juga:

Inner Child: Masa Lalu yang Menghantui Masa Kini


Post Comment