Tentang Inner Child: Masa Lalu yang Menghantui Masa Kini

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Untuk menjadi orang tua yang lebih baik, betulkah kita harus ‘selesai dengan diri sendiri?’

Pernah merasa kecewa, marah, atau sedih yang berlebihan, tapi tidak tahu apa penyebabnya? Bicara ke anak dengan nada tinggi, marah-marah terus, dan emosi sulit dikontrol, sampai kadang tanpa sadar tangan pun melayang ke anak.

Sejurus kemudian, penyesalan datang menyergap ketika kita tersadar, kenapa ya, harus marah segitunya? Namun, saat emosi terpancing, kembali situasi itu berulang dan berulang. “Sebenarnya nggak mau marah, sih. Tapi, nggak tahu kenapa munculnya begitu…”

5 Cara Anak Memperoleh Manfaat dari Berhenti Melakukan Sesuatu - Mommies Daily

Kalau kasus saya, saat emosi tinggi, ekspresi yang keluar bisa berbeda-beda. Kadang intonasi tinggi dan tidak sabar saat berbicara ke anak, tapi kadang malah cenderung pasif. Menarik diri alias ngambek, diam, kalau sudah tak bisa ditahan, tanpa sadar pecah menjadi tangis yang lama, yang saya sendiri tidak tahu dorongannya dari mana.

Mengenali inner child

Di workshop parenting tentang Mother Culture, salah seorang peserta mengemukakan, dulu orang tua membesarkannya dengan kekerasan. Ia mati-matian berusaha menjadi orang tua yang berbeda dengan kedua orang tuanya dulu. Tapi, semakin ia berusaha, sisi inner child-nya selalu muncul. Terkadang, kemarahan keluar tanpa bisa ia kendalikan.

Dalam ranah psikologi Freudian, permasalah psikologis yang muncul, seperti harga diri yang rendah, ketidakseimbangan emosional, krisis identitas, masalah komitmen, perilaku obsesif, dan sebagainya, seringkali menuding inner child sebagai kambing hitam.

Dari sudut pandang teori tentang inner child, karakter kita yang sekarang bisa ditarik akarnya dari bagaimana orang tua membesarkan kita dulu. Istilah inner child populer dalam ilmu psikologi pada tahun 1970-an. inner child merupakan bagian dalam diri seseorang yang merupakan hasil dari pengalaman masa kecilnya.

Banyak orang tua yang kesulitan menegakkan otoritas pada anak. “Jadi mau tegas, nggak bisa. Selama masih banyak persoalan dalam hidupnya, maka ia akan kesulitan untuk menjadi fasilitator yang baik bagi anak,” tutur Ellen Kristie, penulis buku Cinta Yang Berpikir. Dengan kata lain, menurut Ellen, banyak orang tua yang belum selesai dengan dirinya.

Ellen mengamati, dalam masyarakat kita, cenderung tidak berempati pada orang yang punya problem psikis. Berbeda halnya jika orang sakit fisik, orang lain akan langsung berempati. Sedangkan, orang yang sakit secara emosional, yang ada malah akan dibenci, dijauhi, dinyinyiri, atau juga dihakimi.

Orang yang punya masalah emosional, seringkali dari luar kelihatan baik-baik saja. Cara ia berkomunikasi juga biasa-biasa saja. Sampai kemudian terjadi impuls yang bisa membahayakan orang lain. Dalam hal ini korbannya adalah anak, sebagai orang terdekat kita.

Terjebak Blame Game

Di dunia ini ada tiga urusan, kata Ellen. “Urusan Tuhan, urusan orang lain, dan urusan Anda sendiri.” Ellen menambahkan, “Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda, itu urusan siapa? Bisa nggak kita memaksa orang lain mengubah pikirannya?”

Kecenderungan untuk menyalahkan orang lain atas apa yang kita alami, kata Ellen, itulah yang disebut blame game. Kenapa disebut game? karena menyalahkan itu fun. Tanggung jawabnya ada di orang lain. Dan karena asyik, maka ini mencandu.

Lantas, kalau sudah tahu, bagaimana menghentikannya? “To stop a blame game, you have to stop. Caranya adalah dengan memaafkan. Mengambil alih tanggung jawab. Menerima bahwa sayalah yang menjadi nahkoda,” saran Ellen.

“Bagus juga mengenali itu. Tapi, setelah Anda tahu, apakah kemudian Anda berkata, saya menjadi seperti ini, karena ayah saya?” ungkap Ellen. Lebih jauh, Ellen menjelaskan, kita hanya bisa mengatur dan mengubah perilaku, pikiran, dan sikap kita. Jujurlah pada diri sendiri. Kalau Anda sudah tahu diri Anda seperti itu, maka Anda punya kekuasaan untuk mengatur diri sendiri. Jangan salahkan orang lain untuk apa yang Anda alami.

Mengganti Program Lama

Untuk bisa meninggalkan sifat negatif, seseorang harus punya kemauan untuk bertumbuh. “Penderitaan yang pernah dialami adalah pelajaran untuk bertumbuh. Semua masalah itu adalah petunjuk ke mana kita harus bertumbuh. Pertanyaannya, apakah kita mau menerima pelajarannya?”

Dalam istilah Carl Jung, seseorang harus bisa benar-benar berdamai dengan diri sendiri. Akan tetapi, ini adalah pekerjaan yang sangat sulit dan menyakitkan. Jujur saja, sulit untuk mengakui bahwa ada yang salah dengan diri kita. Bahwa kita tidak baik-baik saja.

Pada titik tertentu, seseorang mungkin membutuhkan pertolongan terapi dari ahli. Untuk terus menerus berperang dengan ‘program’ lama yang sudah tertanam dalam diri kita. Yang terjadi, banyak orang lebih memilih untuk lari dari kenyataan, membutakan diri dari konflik batin dan menikmati posisi sebagai korban. Karena itulah zona yang nyaman untuk dirinya.

Pada saat kita pernah berada di titik gelap, jadikan kegagalan itu sebagai kekuatan. Berdamai dengan diri sendiri, lalu berdamai dengan realitas. Terkadang kita memiliki sudut pandang yang bertentangan dengan realitas.

“Tidak semua orang diberi kesempatan mengalami ‘kegelapan’. Tinggal bagaimana Anda berjuang mengubah problem itu menjadi pelajaran. Transform your negative self. Maka hidup Anda akan menjadi lebih terang.”

Jadi, sudah mau keluar dari belenggu inner child? Atau belum? :)


Post Comment