Ketika Anak Pre-Teen Menunjukkan Tanda-Tanda Kecanduan Pornografi

Coba ingat-ingat, zaman kita jelang puber dulu, umur berapa, sih, mengenal seks dalam artian seks yang melibatkan aktivitas reproduksi dan dibarengi lust atau hawa nafsu?

Nonton film porno? Aksesnya agak sulit ya, sudahlah itu kaset video betamax gede banget sehingga sangat sangat visible ketika mau pinjam di video rental (OMG, I’m so old, referensinya kaset video betamax), televisi plus video player pun adanya di ruang tamu, mau nonton kapan coba?

cegah anak terpapar konten pornografi

Saya coba tanya suami saya, umur berapa dia terpapar dengan hal-hal yang berbau pornografi? Dia menjawab sekitar kelas 2 SMP, deh, gara-gara temannya bawa buku stensilan. Maklum grass root, akses ke pornografi minim, harus pakai imajinasi penuh hasil baca stensil yang isinya tulisan semua, hahaha.

Beda dengan sekarang, yang akses pornografi kini berada di ujung jari. Sebagai orangtua dari anak yang juga jelang puber, saya jadi sedikit khawatir dengan akses dia pada pornografi. Mengenal seks di usia segini sebenarnya normal saja, kita juga dulu, toh, mengalaminya. Tapi akan lebih menyedihkan ketika kemudian anak menjadi kecanduan pornografi mengingat aksesnya kian hari kian mudah.

(Baca: Lakukan Cara Ini Agar Anak Terhindar dari Konten Pornografi)

Kalau sekarang dengan hanya menjentikkan jari saja mereka sudah dengan mudah mengakses konten tersebut, bisa jadi besok-besok begitu mengedipkan mata, kontennya sudah tersedia di depan dirinya.

Untuk itu saya ngobrol sama psikolog Irma Gustiana, M.Psi, Psi, seperti apa, sih, efek berlebihan akibat pornografi? Dari mana asalnya? Apa tanda-tandanya kalau anak jelang puber kecanduan konten pornografi? Apa yang harus dilakukan bila terlanjur kecanduan? Baca terus di bawah, ya.

Apa, sih, penyebab utama, atau penyebab yang paling sering membuat anak jelang remaja suka melihat video porno?

Ya, kalau saat ini, di era digital seperti sekarang, biasanya karena mereka suka atau terbiasa nonton video porno. Mereka tidak punya kesibukan yang positif, atau bisa juga karena pernah terpapar konten tersebut hingga ia menemukan rasa ‘senang’, akibatnya ia terus mengulang-ulang lagi untuk mendapatkan ‘kesenangan’ tersebut.

Share, dong, mbak. Bagaimana ciri-ciri anak sudah kecanduan video porno?

Kita harus waspada ketika:
– Pembicaraan anak sudah sering mengarah pada pornografi
– Anak melakukan tindakan atau menunjukkan perilaku yang mengarah tindakan seksual.
– Konsentrasi anak terhadap apa pun menurun.
– Prestasinya terlihat menurun.
– Anak mengalami perubahan perilaku yang signifikan, seperti menjadi malas berkegiatan dan maunya cek handphone-nya melulu.

(Baca: Kalau Sampai Anak Terpapar Konten Porno di Whatsapp, Siapa yang Tanggung Jawab?)

Apa akibat yang paling membahayakan ketika anak suka melihat video atau konten porno?

Yang pasti mentalnya akan terganggu, misalnya saja ia menjadi tidak fokus, banyak melamun, prestasi menurun, bahkan bisa sampai pada perbuatan yang menjurus ke arah pornoaksi ataupun hubungan intim di usia dini. Tanpa edukasi yang benar mengenai seks yang aman, dari hubungan intim tersebut bisa saja, kan, dia terinfeksi penyakit menular seksual/STD?

Nah, mbak, sebagai orangtua, tindak pencegahan apa yang paling baik dilakukan? Soalnya gini, smartphone, laptop, atau gadget memang memudahkan anak mendapatkan konten tersebut, tapi kita nggak mungkin melarang anak terkoneksi dengan semua itu, mengingat manfaatnya juga banyak.

Sebagai orangtua kita wajib memberikan edukasi mengenai masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi secara intens, termasuk risiko kehamilan dan penyakit seksual. Orangtua juga sebaiknya memperkuat pemahaman keagamaan, nilai-nilai norma sosial serta keluarga untuk membentengi mental anak. Jadi mau dia punya akses internet seluas apa pun dia bisa terhindar dari kecanduan-kecanduan seperti itu.

Saya punya teman, nih, mbak, yang anaknya sudah terlanjur kecanduan konten pornografi, apakah yang bisa dilakukan orangtua?

Kalau sudah begitu, anak butuh bantuan ahli seperti misalnya melakukan konsultasi ke psikolog untuk rehabilitasi mental. Dibarengi juga dengan mengarahkan anak pada kegiatan positif yang dia juga sukai. Jangan lupa untuk terus mengedukasi menerus mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi.

(Baca: Duh, Suamiku Ketagihan Nonton Film Porno!)

Di era modern seperti sekarang ini, menurut saya seks herannya masih menjadi masalah tabu dan enggan didiskusikan, terutama dengan anak. Padahal sudah banyak tips, lho, bagaimana mendiskusikan masalah ini ketika anak jelang puber. Moms punya tipsnya? Share, ya, di kolom komentar.


Post Comment