Intensive Parenting: Saat Anak Tak Lagi Punya Hak Untuk Mengurus Dirinya Sendiri

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Ketika (nyaris) seluruh waktu kita habis untuk mengurus anak, benarkah kita sudah melakukan yang terbaik? Dan tetap memerhatikan pengembangan diri sendiri?

Intensive Parenting - Mommies Daily

Dari masa ke masa, setiap orangtua punya beragam konsep tentang hakikat seorang anak dalam konteks pendidikan. Ada yang mengumpamakan anak seperti ranting pohon yang lentur, bisa ditekuk ke sana kemari semasa mudanya, sebelum menetap lurus atau bengkok di masa tuanya. Ada yang memandang anak seperti kertas putih polos, siap ditulisi apa saja oleh orangtuanya. Ada pula yang beranggapan anak itu ibarat playdough, kita bisa membentuknya menjadi apa saja sesuka kita. -Ellen Kristi, Cinta Yang Berpikir-

Baca juga: Pola Asuh Orangtua Dulu yang Bisa Kita Contoh

Anak zaman sekarang, sibuknya bukan main. Ada banyak program menarik yang bisa diikuti. Sejak masih toddler, sudah bisa dikirim ke kursus piano klasik, baby ballet, baby jam (mulai dari usia 6 bulan!), baby gymnastic, renang, dan sebagainya.  Untuk usia 5 tahun dan di atas balita, malah lebih banyak lagi pilihannya. Berbagai klub dan aktivitas olahraga, melukis, karate, taekwondo, musik, balet, vokal, berkuda, memanah, bahasa asing, coding, animasi, manga, edugame, dan tak terhitung lagi aktivitas pengayaan lainnya.

Tak sedikit lembaga-lembaga yang menawarkan program yang saya sebutkan di atas untuk anak dari usia sedini mungkin. Belum lagi, program yang sifatnya temporer atau event yang diselenggarakan oleh komunitas, sekarang makin menjamur. Dari mulai event public speaking, klub sains, kelas filsafat untuk anak, workshop ini itu, kelas menulis, tur sejarah, dan lainnya. Menggoda, bukan? Semua tampak penting. Tapi, kalau dituruti semua, waduh!

Wow banget! Saya sering dibuat takjub oleh talenta bocah-bocah kecil sekarang. Bahasa asingnya cas cis cus, olahraganya jago, hasil lukisannya sophisticated, jari jemarinya lincah memainkan komposisi Mozart, pintar ngulik komputer, luwes nge-vlog lagi! Anak-anak yang punya multitalenta ini zaman sekarang mudah ditemui. Tidak percaya? Coba saja diintip-intip postingan Facebook atau Instagram teman-teman dan orang yang Anda kenal, yang senang bercerita tentang progress anak-anak mereka. Hebat-hebat semua.

Baca juga: Belajar dari Anak: Hey Kid, What’s Trending Now?

Terus terang, dulu saya pernah merasa terintimidasi dengan teman-teman saya. Para orangtua yang anaknya diikutkan beragam kegiatan. Les ini itu, sehingga anak-anaknya ‘bersinar’ di banyak bidang. Sementara, (untungnya), anak saya tidak punya energi sebanyak itu untuk mengikuti banyak kegiatan. Dalam rentang waktu satu tahun, paling banter dua program ekstra kurikuler saja yang diikuti, sudah membuatnya kewalahan. Dalam hal ini, selama beberapa waktu, anak saya hanya pernah mengikuti les piano dan handicraft. Itupun karena saya paksakan, dan dia tidak berontak. Untuk aktivitas seperti olahraga (apa pun itu), dia tidak berminat. Menggambar, sepertinya tidak ada bakat. Hanya untuk dua kegiatan itu saja, rasanya sudah cukup mahal biaya yang harus dikeluarkan. Sebesar Rp 430 ribu untuk piano dan Rp200 ribu untuk handicraft per bulan, untuk empat kali pertemuan.   

Pengasuhan Intensif

Percayalah! Di balik anak-anak yang demikian aktif mengikuti berbagai kegiatan, ada mamak spartan yang siap mengantar ke mana-mana, mengikuti kepadatan jadwal anak (Iya, biasanya ibu-ibu, bukan bapaknya). Pola pengasuhan di mana orangtua terlibat dan melibatkan anak dengan banyak kegiatan semacam ini, dikenal juga sebagai intensive parenting atau pengasuhan intensif. Fenomena ini belakangan dianggap sebagai cara terbaik untuk membesarkan anak. Semakin tinggi kemampuan ekonomi orangtua, cenderung semakin banyak kegiatan yang diikuti anaknya.

Baca juga: Sudahkah Kita Bertanggung Jawab Terhadap Pola Asuh yang Diterapkan?

Ada sebuah tulisan menarik di NYTimes yang menyoroti fenomena ini. Dalam sebuah artikel berjudul The Relentless of Modern Parenting, salah satu faktor yang mendasari pengasuhan intensif adalah kecemasan ekonomi. “Pengasuhan intensif adalah cara bagi para ibu kelas menengah untuk memastikan anak-anak mereka mempertahankan status sosial,” begitu pendapat sosiolog dari Indiana University, Jessica Calarco.

Kapan Perlu Diwaspadai?

Menurut artikel NYTimes tersebut, sebetulnya tidak ada yang salah dengan mengikutkan anak pada berbagai aktivitas, akan tetapi, sejauh mana ikut campur orangtua terhadap kehidupan anak. Hubungannya adalah, semakin banyak aktivitas yang dipaparkan ke anak, semakin tinggi intervensi orangtua pada anak. Ibaratnya, berbeda dengan orangtua zaman dulu, di mana ada ungkapan, children grow by themselves. Anak tumbuh dengan sendirinya, kok. Tugas orangtua hanyalah memastikan anak makan dan tidur. Sisanya, anak beraktivitas bebas. Bermain di luar rumah atau dengan teman-teman sebayanya.

Di satu sisi, terlalu membebaskan anak, terkesan orangtua terlalu abai. Stimulasi dan kebutuhan intelektualitas kurang diperhatikan. Pada titik ekstrem lain, orangtua yang terlalu care, dengan pengasuhan intensif, sampai-sampai, anak tidak punya ruang independensi untuk mengurus dirinya sendiri. “Para psikolog mengkhawatirkan tingkat stres dan ketergantungan tinggi anak-anak pada orangtua mereka. Anak punya kebutuhan untuk mengembangkan kemandirian, kemampuan mengandalkan diri sendiri, dan daya juang. Penelitian menunjukkan, anak dengan orangtua yang terlalu intervensi, memiliki lebih banyak kecemasan dan rendahnya tingkat kepuasan,” demikian yang ditulis oleh Claire Cain Miller.

Dalam artikel yang sama, Claire menambahkan, yang perlu dicermati dari pengasuhan intensif adalah, bagaimana dengan kehidupan orangtua itu sendiri? Pada saat ia menerapkan child centered, banyak hal yang dikorbankan. Mungkin karier, waktu bersosialisasi, pekerjaan rumah, kesempatan untuk pengembangan diri, belum lagi dari segi finansial yang tidak sedikit.

“Orangtua, terutama ibu, seringkali merasa stres, kelelahan, dan didera rasa bersalah, pada tuntutan pengasuhan anak dengan cara ini. Terlebih lagi, jika ia bekerja,” ujar Claire.

Kalau ada istilah work life balance, mungkin dalam hal pengasuhan juga perlu ada balance: parenting-life balance. 

Baca juga: Menjadi Orangtua yang Bertumbuh


One Comment - Write a Comment

  1. Thanks atas postingan ini. Ini jadi reminder & eye-opener buat saya. Saya punya anak balita & suka wondering apakah salah jika memberikan anak waktu main lebih banyak dibanding dijejalin aktifitas2 smart dengan ikut kursus dll. Saya percaya anak jika sesekali membuat anak bosan, imaginasi, kreatifitas & inisiatifnya akan terbentuk, sehingga menjadi lebih berani mencoba hal baru dibanding apa2 harus diatur oleh org tua.

Post Comment