Menjadi Orangtua yang Bertumbuh

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Pernahkah bertanya ke diri kita sendiri, kenapa kita mau menjadi orang tua? Kenapa kita mau (repot-repot) menjadi orang tua?

Percakapan yang sedang ramai di salah satu WAG saya adalah tentang pemberitaan mengenai FM (29) yang tega membunuh bayinya yang baru berumur 3 bulan. Ibu muda asal Bandung ini mengaku mendapat bisikan halus untuk membunuh bayinya karena ia merasa tidak bisa mengurus bayi. Mak dheg rasanya mendengar ini.

Membuat saya jadi bertanya-tanya, kalau begitu, kenapa awalnya ia mau memiliki anak? Lebih jauh lagi, pertanyaan itu ingin saya tujukan secara luas, kenapa orang mau atau ingin punya anak? Kenapa mau jadi orang tua? Pertanyaan yang juga menjadi refleksi saya sungguh-sungguh.

Mereka yang sangat menginginkan kehadiran anak dan sedang berjuang untuk memiliki anak, tentunya sudah memikirkan jawabannya dengan baik. Bagi sebagian orang, pertanyaan semacam itu mungkin tampak elementer sehingga tak perlu dijawab. Kalau mau dibongkar, bisa saja alasan memiliki anak adalah dorongan biologis, motif ekonomi (bisa jadi) karena percaya banyak anak banyak rezeki, takut kesepian, keinginan membangun keluarga, panggilan spiritual, atau sekadar memenuhi norma sosial. Daripada nanti ditanya-tanya terus, kapan punya anak?

Saya sendiri? Sebelum sempat memikirkan apakah saya menginginkan anak atau tidak, keburu hadir. Hamil karena menikah. Mau gimana lagi? Sekarang, ketika keinginan itu beneran muncul, ada banyak pertimbangan rasional yang membuat saya urung.

Lantas setelah menjadi orang tua -dengan alasan apa pun itu- apakah kita siap? Mampukah kita? Terlebih lagi menjadi ibu, mengingat beban pengasuhan dan pendidikan dalam masyarakat kita masih sangat timpang antara perempuan dan laki-laki. Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Kita tidak pernah dipersiapkan, bagaimana kehidupan setelah pernikahan, setelah anak lahir.

Kesibukan yang tiada akhir dari pagi sampai malam. Jalan yang penuh dengan penderitaan, melelahkan, bahkan kadang membuat frustasi. Sebagai ibu, banyak hal yang harus dikorbankan: kehilangan waktu untuk bersantai, waktu tidur nyenyak, waktu bermesraan dengan pasangan, hang out, bekerja, karier (mungkin), belum lagi berkorban biaya. Tapi kenapa kita mau menjalaninya?

Menjadi Orangtua yang Bertumbuh - Mommies Daily

Ada jawaban menarik yang saya dapatkan dari sebuah workshop mengenai Mother Culture yang baru saya ikuti. “Marriage and raising children provide you opportunities to grow up,” begitu menurut Ellen Kristie, penulis buku Cinta yang Berpikir. Ya, segala penderitaan yang kita alami dalam pernikahan dan membesarkan anak memberi kesempatan pada kita untuk bertumbuh.

Saya tersentuh sekali dengan kata-kata bertumbuh. Kesibukan sebagai orang tua seringkali membuat kita lupa untuk bertumbuh. Saya seperti diingatkan, bukan hanya anak-anak yang bertumbuh. Sebagai makhluk spiritual, manusia perlu terus bertumbuh, termasuk kita. Bertumbuh secara spiritual berarti menjadi versi diri kita yang lebih baik, hari demi hari.

“Kalau Anda ingin anak tumbuh menjadi pribadi positif dan berkarakter, yang harus bertumbuh secara spiritual itu siapa? Apakah Anda sudah bertumbuh? Apakah Anda sedang bertumbuh?” pertanyaan Ellen yang patut direnungkan.

Kembali ke pertanyaan tentang alasan menjadi orang tua, saya kira alasan itu tidak lagi penting. Lebih penting untuk menyadari tugas suci yang disandang oleh orang tua. Mengutip tokoh pendidikan Charlotte Mason, “Menjadi orang tua adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia, yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.”

“Para orang tua yang menyadari akan hal ini, akan memiliki energi untuk membesarkan anaknya. Walaupun anaknya hanya satu, dia akan bisa mendidik anaknya agar menjadi berkat bagi dia, bagi dunia,” jelas Ellen.

Kalau memang bertumbuh itu perlu, tapi kenapa tidak semua orang mau melakukannya? Siapa bilang bertumbuh itu mudah. Kenapa sulit untuk menjadi orang yang lebih baik? Lebih sabar, lebih disiplin, lebih penyayang, dan sebagainya. Seperti kata Maya Angelou, “Most people don’t grow up. It’s too damn difficult. What happen is most people get older.”

Bertumbuh adalah hal yang sulit karena sesungguhnya yang kita lakukan itu adalah melawan hukum alam. “Kodrat manusia ditarik ke bawah. Kecuali kalau ia mau melakukan sesuatu untuk mengangkat dirinya. Bagaimana dengan dunia spiritual? Kalau kita membiarkan, makin lama kita makin malas. Secara spiritual, kita akan berhadapan dengan entropi.”

Saya amini, meski saya bukan ibu yang baik, menjadi orang tua membuat saya menjadi pribadi yang jauh lebih baik dibanding saya yang dulu. Akan tetapi, masih ada banyak PeeR besar untuk saya. Sebab, jalannya (penderitaan) masih sangat panjang.


Post Comment