Modus Online Eksploitasi Seksual Anak, Apa Saja yang Harus Diperhatikan?

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Di era teknologi komunikasi seperti sekarang, ada banyak alasan yang membuat kita sebagai orang tua tampaknya tidak bisa melepaskan kewaspadaan barang sejenak terhadap anak.

Sejak seorang anak ‘resmi’ sudah memegang ponsel sendiri, bertambah lagi satu tantangan sebagai orangtua. Selain faktor kecanduan gadget, konten ramah anak, perundungan siber, adab berkomunikasi, ada satu hal lagi yang tidak kalah menakutkan: Pelecehan seksual secara online!

6 Gangguan Emosi Jika Anak Terlalu Aktif Bermain Gadget - Mommies Daily

Di Inggris, isu tentang pelecehan seksual anak melalui internet sedang menjadi perhatian besar. Angkanya meningkat dua kali lipat dalam empat tahun terakhir. Jumlahnya dari hanya 4000 pada 2015-2016, menjadi 8224 pada 2018-2019 atau jika dirata-ratakan sebanyak 22 kasus setiap hari. Para pedofil kini banyak yang menggunakan internet untuk melakukan kejahatan seksual terhadap anak. Pelaku menyasar korban melalui penggunaan internet, game online, dan media sosial.

Menurut organisasi nirlaba Internet Watch Foundation (IWF), kasus yang sedang marak di Inggris adalah ditemukannya banyak foto dan video anak yang mengandung konten seksual eksplisit. Ironisnya, gambar-gambar tersebut dibuat sendiri oleh si anak.

Menurut temuan IWF, terdapat lebih dari 22 ribu anak menjadi korban dari modus yang dikenal sebagai sexual grooming, atau grooming online untuk tujuan seksual. Konten yang dihasilkan sendiri oleh anak, ini jumlahnya menempati sepertiga dari total konten pornografi anak online yang ditangani oleh IWF tahun ini
Dalam konteks eksploitasi seksual, modus lain yang bisa terjadi adalah sextortion atau pemerasan seksual. Seseorang dipaksa untuk memberikan imbalan seks, uang, ataupun barang berharga, atau memproduksi materi seksual.

(Baca: Jangan Double Standard pada Anak tentang Pemakaian Gadget)

Sextortion ini bisa terjadi lewat perundungan siber. Ada pula, modus, seorang anak dipaksa untuk tampil di depan kamera atau webcam untuk melakukan aktivitas seksual atau menjadi subjek dari kekerasan seksual. Hal lain, bisa pula terjadi, anak diajak ketemuan oleh pelaku, lewat bujuk rayu di chat. Ngeri, bukan?
Kenapa hal ini bisa terjadi? Para pedofil menghubungi anak-anak yang akan dijadikan korbannya secara online, lalu membuat mereka untuk merekam atau memotret diri mereka sendiri, lalu mengirimnya ke pedofil. Gambar-gambar ini lantas dipublikasikan ataupun dijual untuk konsumsi para predator seksual.

Sexual grooming bisa terjadi karena ada ada proses yang dilakukan untuk menjalin sebuah hubungan dengan si anak melalui perangkat gadget mereka, dengan maksud memancing, membujuk, memanipulasi agar anak bersedia melakukan kegiatan seksual yang diminta si pelaku. Bagaimana menghindari sexual grooming ini menghampiri anak? Ada beberapa hal yang patut kita ketahui sebagai orang tua.

Jangan berasumsi bahwa kalau anak di rumah berarti mereka aman. Bukannya menakut-nakuti, tetapi memahami dan mempelajari tentang modus kejahatan apa saja dari internet yang bisa mengancam anak, bisa membuat kita lebih aware dan bijak dalam membuat peraturan yang terbaik.

Tidak memberi kebebasan mutlak pada anak dalam pemakaian gadget. Orang tua perlu tahu apa yang dilakukan anak dengan gadgetnya saat mereka sendirian di kamar.

Celah komunikasi tidak hanya datang dari WhatsApp. Bisa jadi, kontak di whatsapp anak hanya kita, orang tuanya. Tetapi, jangan lupa, generasi Z dan alfa sudah jauh lebih complicated dari kita dalam memanfaatkan gadget. Mereka bisa bercakap-cakap dengan orang asing lewat media sosial, aplikasi discord, bahkan beberapa game punya aplikasi chat yang memungkinkan anak berkomunikasi dari orang asing dari seluruh dunia.

Batasi komunikasi pesan teks pribadi dari orang dewasa yang ditujukan ke anak. Jika pesan teks ditujukan ke anak dalam kapasitas seorang pelatih atau guru, lebih pantas jika ditujukan untuk grup, seluruh kelompok siswa, atau untuk orang tua.

Jalin keakraban dengan anak dan dorong anak agar mau terbuka pada kita. Jangan sampai anak menyimpan rahasia dari Anda. Ciptakan atmosfer hubungan agar anak merasa aman bercerita apa pun dengan Anda, tanpa merasa terhakimi. Jelaskan kepada anak, bahwa jika orang dewasa lain memberi tahu mereka untuk menjaga rahasia dari orang tua mereka, itu adalah tindakan yang salah.


Post Comment