5 Tanda Kita Sudah Melakukan Terlalu Banyak Hal Sebagai Seorang Ibu

Mungkin kita merasa itu kewajiban kita sebagai seorang ibu. Tapi apakah kita melakukannya sesuai porsi kemampuan atau kita terlalu memaksa diri? Kenali tanda-tandanya.

Memang apa yang salah kalau kita, sebagai seorang ibu melakukan banyak hal? Terlebih jika itu semua untuk kepentingan anak. Nggak sih, nggak ada yang salah , asaaaaaaaal kita melakukannya sesuai dengan kapasitas diri kita, sesuai dengan kapasitas emosi kita.

Faktanya, sebagai seorang ibu, di satu sisi kita kerap merasa bangga saat kita mampu berperan sebagai juggler, juggling all the things, iya bangga! Akui saja. Ada perasaan, yes saya mampu. Ada jiwa kompetisi dalam diri kita. Kita adalah superwoman.

Tapi, mari kita tekan ego dan ambisi. Rehat sejenak. Dengarkan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh jiwa kita. Oleh tubuh kita. Benarkah mereka membutuhkan semua hal yang selama ini kita lakukan?

So, mari kita bertanya ke diri kita: Am I doing too much?

averie-woodard-Av_NirIguEc-unsplash

Berikut beberapa tanda bahwa kita mungkin sudah melakukan terlalu banyak hal di luar kemampuan kita ….

1. Kita tidak lagi fokus pada kehidupan saat ini

Untuk kita, para ibu yang masuk kategori ambisius atau perfeksionis, seringkali terjebak dalam situasi nomor satu ini. Karena apa? Karena kita selalu berfokus pada apa yang akan terjadi di masa depan? We are a worker, a planner, a go-getter. Padahal konon kabarnya, mempersiapkan masa depan si kecil atau masa pensiun kita, adalah penting, bukan?

Masalahnya, saat kita selalu memikirkan apa yang akan terjadi, kita menjadi lupa untuk menghargai apa yang kita miliki saat ini. Kita menjadi terlalu sibuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh si kecil. Karena kita terlalu fokus pada masa depannya. Planning the next move (tanpa kita sadar). Dibutuhkan usaha untuk menyadari, kapan kita harus berhenti dan live in the moment.

Caranya? Ingat saja, bahwa anak kita cepat sekali bertumbuh menjadi besar, remaja dan akhirnya dewasa.
Mungkin sudah waktunya untuk let something go so we can make more memories exactly where we are today!

2. Kita sering merasa khawatir tanpa alasan yang jelas

Kita khawatir ketika kita merasa tak punya cukup waktu dalam sehari untuk menyelesaikan semua rencana-rencana kita. Terlalu banyak aspek dalam hidup yang berkeliaran di dalam kepala kita. Tentang anak, tentang pasangan, tentang menu harian, tentang sekolah anak, tentang rencana liburan keluarga, tentang rekan kerja yang menyebalkan, tentang tugas dari atasan, tentang anak sakit, tentang bisa atau tidak kita hadir dalam acara sekolah anak, tentang anak yang malas makan, tentang ASI yang keluarnya sedikit, tentang dana pendidikan anak, tentang dana pensiun kita, tentang cicilan, dan sejuta tentang lainnya. Mana yang harus kita dahulukan, mana yang harus kita korbankan sementara?

Bagaimana jika tak perlu ada yang kita korbankan, hanya butuh sedikit penyesuaian?! Dari rencana membuat sarapan maha sempurna dan komplit untuk si kecil, mari kita ubah menjadi potongan buah dan sereal serta susu. That’s enough.

Atau mungkin, kita belajar untuk mengatakan tidak ketika anak atau suami membutuhkan bantuan kita, di saat mereka sebenarnya bisa melakukannya sendiri. Ketika beban kita dikurangi sedikit, maka rasa tenang kita akan bertambah.

3. Kita merasa kesal dengan keluarga kita sendiri

Pernah mengalami, kita melakukan sesuatu hal, tapi di dalam hati merasa sebal dengan suami karena merasa harusnya dia yang melakukan hal tersebut. Atau, mendongeng untuk anak tapi dengan nada marah karena sebenarnya kita merasa lelah dan tak ingin mendongeng.Paham kan, bagaimana kita membiarkan diri kita terlalu sibuk tanpa kita sadar, tapi di sisi lain kita merasa pasangan kita juga seharusnya memiliki ‘beban’ kesibukan yang sama. Maka, mari belajar untuk meminta pertolongan.

4. Kita tak memiliki waktu lagi untuk melakukan apa yang kita suka

Kita terlalu sibuk menempatkan kebutuhan anggota keluarga lain di atas keperluan kita sendiri. Bahkan termasuk dalam urusan bersenang-senang. Padahal, nggak salah lho kalau kita meluangkan waktu untuk bersenang-senang. Karena, ketika kita menempatkan diri sebagai ‘martir’ untuk keluarga kita, who does everything for everybody and tidak pernah bersenang-senang, we are going to crash and burn quickly. Jangan biarkan status kita sebagai ibu membuat kita kehilangan jati diri personal kita.

5. Di saat semua orang mengatakan “you are doing too much”

Jangan abaikan ketika semua orang di sekitar kita mengatakan bahwa kita terlalu sibuk melakukan semua hal untuk keluarga. Take note! Just because we can say yes to all the things, doesn’t mean we should! Just because you can do it better, doesn’t mean you should. Just because it feels good to be needed, doesn’t mean everyone has to need only you, all the time.


Post Comment