Parenting with a Broken Heart

Menjadi orangtua adalah pekerjaan sepenuh waktu, bahkan ketika hati kita sedang patah dan berantakan. Karena anak tak bisa menunggu hingga hati kita kembali pulih.

Bicara status saya sebagai orangtua artinya bicara juga mengenai tanggung jawab. Yup, mana ada sih orangtua yang bisa ‘bebas’ dari yang namanya tanggung jawab terhadap anak? Sejak anak hadir di dalam rahim, kemudian dia lahir, bertumbuh menjadi anak remaja, dewasa hingga si anak menikah dan juga punya anak, ya selama itu juga saya merasa memiliki tanggung jawab pada anak saya.

Bentuknya aja akan berbeda.

So in the end, parenting is a full time, forever job!

Masalahnya adalah, ketika hati kita sebagai orangtua sedang patah. No matter what has happened in my life, I have had heartbreak. We live in a broken world where no one can escapes the tragedies of life. Kehilangan anggota keluarga, kehilangan sahabat masa kecil, bahkan ketika terjadi perceraian. And yet, I still have my job as a parent.

 Parenting with a Broken Heart - Mommies Daily

Tiga belas tahun menjadi ibu, ada beberapa kehilangan yang sempat membuat saya patah hati nggak kelar-kelar selama beberapa waktu.

Saya pernah patah hati ketika tetangga sebelah rumah saya yang sangat dekat dengan anak-anak meninggal. Beliau yang selama itu saya percaya untuk menemani anak-anak ketika saya harus bekerja, beliau juga yang kerap membantu memasak dan bersih-bersih rumah di saat ART tak kunjung kembali. Maka mendengar berita meninggalnya, saya sampai tidak sanggup melayat dan datang kerumahnya untuk mengucapkan belasungkawa!

Saya pernah patah hati ketika kakak ipar saya meninggal. Saya menangis berminggu-minggu. Saya menangis ketika melihat kemejanya di lemari kakak saya. Saya menangis melihat foto-foto kami di Facebook. Saya menangis ketika sedang berdoa. Saya bahkan menulis surat untuknya sebagai alat untuk melepaskan rasa rindu yang luar biasa.

Saya pernah patah hati ketika akhirnya saya bercerai dengan (mantan) suami saya. Berteriak kencang di dalam mobil untuk bertanya kepada Tuhan, kenapa harus rumah tangga kami?

Dan ketika hati kita sebagai orangtua sedang hancur berantakan, apa yang bisa kita lakukan?

Berdasarkan pengalaman saya, saya mencoba melakukan hal-hal ini ….

1. Biarkan diri kita berduka

Jangan dilawan, jangan dipendam, jangan diingkari,. Terima saja. Menangis jika ingin menangis. Teriak ketika ingin berteriak. Dan pahami bahwa kita memang sedang tidak baik-baik saja. Sadari bahwa kita memang sedang sedih, merasa kehilangan dan patah hati luar biasa. Karena pada akhirnya ini akan memberikan rasa lega yang jauh lebih sehat dampaknya ke emosi kita ke depannya.

2. Cari bantuan

Ketika saya sedang bersedih dan terlalu banyak menangis :D, saya menjadi sering lupa, saya merasa tidak bisa berfungsi dengan baik dan semestinya. Saya membutuhkan lebih banyak waktu untuk berkonsentrasi dan bekerja. Inilah waktunya saya mencari bantuan. Bantuan yang seperti apa? Saya mencari teman untuk berbagi cerita. Saya pergi ke psikolog untuk sekadar menangis. Saya meminta bantuan orang lain untuk menemani anak saya ketika mereka ingin jalan-jalan di saat weekend. Bahkan saya meminta bantuan kakak saya untuk menjemput anak-anak pulang sekolah ketika saya merasa tak sanggup untuk mengemudi. Find someone who does not try to fix or correct, but simply is present for you!

3. Pahami keterbatasan yang kita miliki

Emosi sedang tidak stabil. Kita mungkin juga sedang lelah jiwa dan raga. Dan ketika di dalam situasi ini kita mungkin diminta bantuan untuk melakukan sebuah tugas baru, boleh banget lho untuk mengatakan dengan jujur bahwa kita sedang tidak mampu menerima ‘tanggung jawab’ baru.

4. Biarkan anak kita memahami kesedihan kita

Saya menangis di depan anak-anak ketika saya kangen luar biasa dengan kakak ipar saya. Saya jelaskan ke mereka kenapa saya menangis dan apa yang saya rasakan. Karena sehebat apa pun kita menutupi rasa sakit yang kita rasakan, somehow anak-anak bisa merasakannya, kok! Jadi, nggak masalah sebenarnya menunjukkan kesedihan kita di hadapan anak selama masih di dalam batas yang wajar.

Anak akan belajar bahwa hidup itu tidak selamanya berisi tawa dan bahagia, kan. Anak juga akan belajar, bahwa semua akan berlalu dan kembali baik-baik saja.


Post Comment