Kenapa Sekolah Perlu Terlibat dan Meminta Surat Keterangan Imunisasi?

Health & Nutrition

adiesty・12 Jul 2017

detail-thumb

Nggak cuma kita sebagai orangtua yang perlu sadar bahwa memberikan imunisasi atau vaksin sangat penting untuk kesehatan si kecil. Sekolah, sebagai lembaga pendidikan dan rumah kedua anak-anak juga perlu ikut terlibat.

Sudah tahu belum kalau bulan Agustus dan September 2017 ini ada Kampanye Imunisasi Measles Rubella (Imunisasi MR)? Kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) merupakan gerakan imunisasi secara massal sebagai upaya untuk memutuskan transmisi penularan virus campak dan rubella pada anak usia 9 bulan sampai dengan  15 tahun, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya.

Saya sendiri cukup sadar kalau imunisasi ini penting, ada banyak alasan mengapa anak butuh vaksinasi. Bahkan untuk orang lain dan lingkungan sekitarnya. Pernah kebayang nggak akibatnya seperti apa kalau anak kita sedang sakit campak atau rubella, namun kita merasa ‘santai’ bahkan menganggap ‘ah, penyakit itu kan datang kapan saja. Penyakit itu Tuhan yang kasih,’. Ya, benar, sih, toh apapun yang terjadi pada diri termasuk penyakit memang atas kehendak-Nya. Tapi bukan berarti bikin kita jadi pasrah, nggak mau melakukan pencegahan, dong?

Baca juga : Anti Vaksin Berisiko Membunuh Bayi Orang Lain

imuninasi- mommiesdaily

Belum lagi saat si kecil kena campak atau kena rubella, lalu menularkan pada anak lain. Sudah pasti bikin anak orang ikut ketularan. Sakit, bikin orangtuanya juga ikutan susah. Tega? Kalau saya, sih, nggak. Dan yang paling meyedihkan, kalau virus tersebut tanpa sengaja menularkan ibu yang sedang hamil. Sudah tahu, dong, betapa bahayanya virus bagi ibu hamil?

Duh, membayangkannya saja sudah bikin saya ‘mules’. Bagaimana dengan mereka yang mengalaminya?

Kasus nyata yang bisa kita lihat dan banyak memberikan pelajaran adalah pengalaman Grace Melia, Mamanya Ubii dan Aiden. Tanpa ia ketahui, ternyata puteri pertamanya Ubii terkena virus TORCH yang mengakibatkan Sindroma Rubella Konginetal  yang mengakibatkan Ubii terlahir tuli, punya kebocoran jantung, pengapuran otak, dan cerebral palsy. Pemicunya, ya, jelas karena ketika hamil Grace Melia terkena rubella.

Baca juga : Mimpi Buruk untuk Ibu Hamil Torch

Kalau dilihat, mungkin rubella merupakan penyakit ringan yang ‘sepele’. Lah wong, gejalanya seperti common cold. Demam, sakit kepala, hidung beringus, yang berujung pada timbulnya ruam berbentuk bintik-bintik kemerahan. Malah, sering kali anak masih bisa beraktivitas seperti biasanya. Sementara, campak bisa menyebabkan komplikasi yang serius, seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), hingga kematian.

Mengingat sampai sekarang memang belum ada pengobatan untuk penyakit campak dan rubella, bisa dipastikan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah melakukan pencegahan dengan vaksin MR. Sayangnya, vaksin ini memang sulit untuk didapatkan, begitu ada harga juga cukup mahal. Beruntung, dalam waktu dekat akan ada kampenye Imuninasi MR yang dilaksanakan bulan Agustus sampai September 2017.  Imunisasi MR ditujukan untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan usia kurang dari 15 tahun.

Mengingat sasaran kampanye ini memang anak-anak usia sekolah, sudah bisa dipastikan kalau kampanye imuninasi ini akan dilakukan di sekolah-sekolah,  mulai dai SD, MI, SMP, MTS. Bahkan kalau ada sudah duduk di bangku SMA namun masih berusia 15 tahun juga perlu melakukan imunisasi MR.

Baca juga : Imunisasi Halal dan Baik

Sedangkan bulan September, kampanye Imunisasi MR ini akan dilaksanakan di Posyandu, Puskesmas dan Sarana Pelayanan Kesehatan lainnya untuk Bayi Usia 9 bulan sampai anak anak usia kurang 7 tahun . Imunisasi ini juga gratis, lho.

Begitu mendengar berita soal ini, saya pribadi sangat  senang. Begitu juga dengan teman-teman di Mommies Daily, seperti Fia, Thatha, dan beberapa teman kontributor. Di WAG kami ‘ramai’ ngomongin soal pentingnya vaksin MR. Kami juga sepakat kalau pihak sekolah punya kontribusi yang cukup besar mengenai imunisasi siswa dan siswinya. Kalau perlu pihak sekolah meminta surat keterangan imunisasi dari calon didiknya. Sayangnya memang saat ini tiak semua sekolah memberlakukannya.

Sekolah Gemala Ananda merupakan salah satu contoh sekolah yang sudah menerapkannya, meminta keterangan imunisasi calon muridnya.  Hal ini diceritakan oleh Amanda Santoso yang menyekolahkan anaknya di sana.

“Waktu awal masuk memang diminta surat keterangan imunisasi dan info kesehatan. Memang penting, sih, soalnya kalau ada anggota komunitas  sekolah yang memang punya pendirian nggak mau  kasih vaksin untuk anaknya, sekolah perlu tahu. Jadi, kalau memang ada apa-apa, sekolah tahu harus bertindak seperti apa. Misalnya, nih, si anak ada break out cacar, pihak sekolah bisa segera memberikan informasi ke orangtuanya. Bukan tidak mungkin karena memang tidak divaksin, anak tersebut kenanya lebih parah dibandingkan anak yang sudah divaksin,” paparnya.

Hal senada diakui oleh Novita Imelda, Operational Director Female Daily Network bahwa di sekolah memang perlu meminta surat keterangan imunisasi. Malah katanya, “Dengan diminta surat keterangan imunisasi ini bikin kita, para orangtua jadi ingat apakah ada vaksin yang terlewat atau tidak.”

Fia menambahkan, “Nggak hanya memberikan surat keterangan imunisasi saja,  di sekolah anak-anak juga kalau ada muridnya yang sakit menular saat masuk sekolah lagi, harus membawa lampiran surat keterngan dari dokter yang mengizinkan anak tersebut masuk. Jadi sudah nggak ada risiko lagi teman-temannya ketularan”.

Selain pihak sekolah yang perlu terlibat dalam pencegahan virus rubella dan campak, yang paling penting sebenarnya justru diri  kita, sebagai orangtua. Kita perlu sadar bahwa memberikan vaksin merupakan hak anak, sama halnya dengan ASI. Kalau memang sayang dan ingin melindungi anak dari kesakitan bahkan kematian akibat campak, rubella, termasuk penyakit gondongan yang sempat mewabah  beberapa bulan lalu, kenapa harus ragu melakukan pencegahan dengan Imunisasi MR ? Masih ragu kalau vaksin itu haram atau halal? Mungkin saatnya lebih banyak mencari informasi lagi, baik lewat tenaga medis ataupun membaca beragam literatur.