Anti Vaksin, Berisiko Membunuh Bayi Orang Lain

Kenapa vaksinasi ditbutuhkan? bukan semata-mata untuk diri sendiri, tapi juga untuk kepentingan lingkungan sekitarnya. Tapi, apa jadinya jika masih saja ada yang enggan memberikan vaksin kepada anak?

Anti Vaksin, Berisiko Membunuh Bayi Orang Lain

Bahkan setelah MUI menerbitkan fatwa bahwa vaksinasi itu halal, setelah sebagian vaksin bisa diproduksi sendiri oleh Indonesia, setelah klaim MMR penyebab autis dan klaim paper dr. Wakefield dipatahkan, para pentolan anti vaksin masih terus saja mem-brainwash para orang tua yang ragu-ragu.

Para peragu ini, yang menyebut dirinya galauers vaksin, sebetulnya di satu sisi tidak benar-benar anti vaksin, tapi di sisi lain mereka takut juga membaca klaim-klaim para anti vaksin. Seperti kebanyakan orangtua, mereka hanya mau yang terbaik buat anak-anaknya. Tapi sayang cerita yang sampai duluan ke para galauers ini adalah hoax vaksin ketimbang informasi yang benar. Jadilah kebanyakan mereka sempat memvaksinasi anaknya dengan beberapa vaksin wajib di awal usia si anak, tapi lalu berhenti tidak melanjutkan booster-nya atau menunda-nunda jadwal vaksin berikutnya.

Setelah beberapa tahun efek kampanye anti vaksin ini baru terlihat dan para galauers ‘lah yang merasakan efeknya di garis depan. Korban gap Herd Immunity mulai berjatuhan karena angka minimal peserta vaksin sebesar 90-95% tidak tercapai untuk dapat menutup lubang Herd Immunity dan wabah merebak. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat pun wabah atas campak yang tahun 2000an sudah hampir tereliminasi, muncul lagi berkat kegigihan para anti vaksin berkampanye.

Giliran sudah tertular, sesal kemudian tidak berguna. Anak batuk nggak berhenti sampai tersengal dan sesak napas karena pertusis. Berminggu-minggu di rumah sakit. Kolaps karena campak, yang lalu sekaligus komplikasi pneumonia. Atau… tiba-tiba panas, lemas, dan kejang lalu koma dan tidak tertolong karena radang otak.

Dan para penggiat anti vaksin pun melenggang pergi. Toh bukan anak mereka yang kena. Mau komplain pun kemana? Paling-paling mereka balik menyalahkan kenapa nggak pada beli jualan mereka yang diklaim bisa menggantikan vaksin, seperti madu, obat dan minyak herbal? Atau menyalahkan kenapa nggak full ASI saat bayi?

Jualan? Iya ‘lah. Ini memang atas nama dagangan. Apalagi kalau bukan?

Konspirasi Yahudi untuk melemahkan umat? Oh, come on, kalau wabah terjadi pada umat, siapa yang lemah?

Menyebabkan autisme? Sudah dipatahkan. Kalau pun di beberapa kasus nampak berhubungan, itu karena autisme sifatnya lebih ke genetis. Jadi penderita memang sudah ada riwayat keluarga yang menderita autisme sebelumnya. Coba saja hitung prosentasenya, dari sekian juta anak yang diimunisasi, berapa persen yang jadi autis dan berapa persen yang baik-baik saja?

Selain itu, pernahkah terlintas bahwa by being anti vaccine, you might harm or even kill other people’s child or unborn baby? Oke ‘lah bersikeras nggak mengimunisasi anak sendiri. Kalau sampai sakit, bahkan meninggal pun diterima sebagai takdir. Nah, kalau menulari anak orang lain yang kebetulan belum atau tidak bisa mendapatkan imunisasi? Kalau sampai anak tersebut sakit parah dan meninggal?

Bagaimana kalau menulari ibu hamil? Mungkin guru TK kesayangan anak kita yang kebetulan baru saja hamil setelah bertahun-tahun menikah? Beberapa penyakit seperti cacar air/varicella dan campak jerman/rubella bila menyerang ibu hamil dapat mengganggu perkembangan janin dan mengakibatkan cacat fisik, seperti gangguan pendengaran, kelainan syaraf, bahkan kematian janin.

Bagaimana pula bila kita ‘lah yang bertanggung jawab atas terbukanya lubang Herd Immunity dan memicu wabah yang meminta banyak korban? Mungkin anak-anak tetangga? Teman-teman sekolah anak kita?

Bisakah kita menanggung konsekuensi ini? Entah bagaimana dengan Anda, tapi saya tidak bisa. Karena saya tidak hanya bertanggung jawab atas anak dan keluarga saya, tapi juga masyarakat yang lebih luas dimana saya menjadi bagian darinya.


Post Comment