4 Hal yang Ditakuti Ibu Bekerja

Career

vanshe・16 Sep 2015

detail-thumb

Sesaat begitu saya kembali menapaki peran sebagai working mom, bertubi-tubi muncul komentar. "Wah, enak dong bisa kerja lagi!" atau, "Akhirnya, ya, buu," serta satu pertanyaan yang sepertinya mandatory alias wajib disampaikan ke saya, ya yang ini: "Terus anak kamu sama siapa?"

Itu juga hal pertama yang terbersit di otak saya begitu dikabari harus mulai masuk kerja lagi. "Bumy sama siapaa?!"

Meskipun initial reaction-nya waktu itu panik, tapi saya nggak perlu mikir panjang-lebar untuk menjawabnya. Otomatis saya berpikir untuk mencari daycare. Sama seperti 2,5 tahun yang lalu, saat kami pindah rumah dan merenggut Bumy dari asuhan sang oma (hehehe), cuma daycare jawaban yang ada di kepala saya dan suami.

Pertimbangannya masih sama seperti waktu itu, rasanya nggak sreg aja meninggalkan Bumy dengan si embak saja di rumah. Padahal kalau melihat sekeliling, ada banyak anak yang diasuh oleh embak di rumah. Seharusnya kami nggak perlu kontra-kontra amat sama ide itu, bukan?

Ketakutan ibu bekerja

Jujur saja, ke-tidaksreg-an itu pemicunya cuma satu: rasa parno. Kalau begitu, apakah saya sudah sangat sreg ketika memilih menitipkan anak di daycare? Err, ujug-ujug muncul kabar tentang kejahatan yang diduga terjadi di daycare! Saya pun sibuk mencari "testimonial" dari para Mommies yang pernah atau sedang memakai jasa daycare lewat forum Mommies Daily. Dari situ saya menyadari dilema baru: ternyata sulit menemukan daycare yang "sempurna." Daycare A meskipun bagus di faktor yang satu, tapi buruk di faktor yang lain. Daycare B dekat dari kantor, tapi punya kekurangan ini-itu. Daaan seterusnya.

Jika ditarik benang merahnya, ibu bekerja memang punya banyak kekhawatiran tersendiri. Yuk, kita kupas satu persatu!

1. Keselamatan anak

Seperti disebutkan tadi, urusan keselamatan anak ini memang tricky. Pilihan apapun yang diambil, pasti ada risikonya. Sekarang, saya sedang berpikiran untuk memulangkan anak ke rumah saja daripada ke daycar. Melalui proses trial and error yang terus-menerus ini, saya pelan-pelan tersadarkan. Da aku mah apa atuh... cuma seorang manusia biasa yang punya banyak keterbatasan, tapi banyak maunya! Ya, seperti halnya tidak ada daycare, embak ART, supir, atau support system apapun yang sempurna, saya juga tidak sempurna. Makanya, seharusnya saya hanya melakukan 'porsi' saya, yaitu berusaha mencari pihak ketiga dengan sebaik mungkin. Selebihnya urusan yang Maha Mencukupkan dan Maha Menjaga, bukan?

Maklumi, yah, Mommies kalau untuk urusan ini saya jadi nyerempet ke spiritual. Karena memang tidak ada yang bisa menjamin 'hasil' selain Tuhan, bukan?

Karenanya, dalam porsi saya untuk mencari embak ART dengan sebaik mungkin, ini yang saya lakukan:

- Mencari yayasan atau pihak penyalur ART yang punya reputasi baik.

Caranya gimana? Kalau saya, dengan melihat track record penyalur ART yang digunakan tetangga-tetangga saya. Jasa penyalur yang akhirnya saya pakai sejauh ini, sih, memang menyediakan ART yang awet dan perilakunya baik. Semoga saja nasib saya juga sebaik tetangga-tetangga saya, yah, Mommies.. hehehe.

- Meminta identitas jelas penyalur dan ART.

Kita bisa meminta identitas kedua pihak itu untuk ditunjukkan langsung kemudian difotokopi. Sedikit menginterogasi juga tak apa. Bahkan saya pernah dengar kalau ibu Elly Risman menganjurkan kita membawa pihak ketiga yang akan dipekerjakan di rumah untuk turut 'diwawancara' oleh kakek, nenek, dan saudara-saudara lainnya.

- Menguji kesehatan ART yang akan bekerja di rumah kita.

Tujuannya tak lain supaya kita tahu apa ada potensi penyakit yan dapat ditularkan.

- Memakai alat bantu gadget seperti  CCTV, jam tangan dengan fungsi GPS tracker untuk anak, dan lain-lain.

Apa Mommies punya kiat lain yang bisa ditambahkan? Selain masalah keselamatan anak, ada 3 hal lain yang bikin saya parno. Lengkapnya di laman berikut, ya.

2. Anak kebanyakan nonton TV atau main gadget

Ketakutan ini muncul akibat stigma yang kerap saya dengar tentang anak yang diasuh oleh embak ART.   Jangankan sama ART, waktu sama oma-nya saja, screen time Bumy tidak terkendali. Menghadapi ketakutan ini, saya teringat masa kecil saya yang juga 'ditinggal' ibu untuk bekerja dan 'diasuh' oleh embak ART. Rasanya saya nggak doyan nonton TV lama-lama, deh. Kenapa, ya? Hmm mungkin karena saya lebih banyak beraktivitas outdoor daripada diam di rumah. Nah, untuk anak, saya akan mencoba:

- Mengikutkan anak kegiatan sepulang sekolah.

Kebanyakan dari kita menonton TV atau main gadget karena bosan 'kan? Jadi lebih baik buat anak tidak sempat bengong di rumah dengan ikut kursus atau les sepulang sekolah. Nggak perlu banyak-banyak, sih, setidaknya yang bisa mengisi waktu dan juga menyalurkan hobby-nya.

- Membuat jadwal aktivitas dan meminta embak ART terlibat menjalani.

Jadwal nonton TV bagi anak saya akan tetap ada, tapi waktunya dibatasi. Jadwal kegiatan juga diisi dengan ragam aktivitas lain yang disukai anak alih-alih yang membosankan. Misalnya hari ini menggambar, besoknya main sepeda, besoknya main bulutangkis, dan lain sebagainya. Berbagai alternatif kegiatan untuk 'menjauhkan' anak dari layar bisa Mommies temukan juga di artikel ini.

- Menempatkan televisi, gadget, dan komputer di ruangan yang berisi banyak hiburan non-screen seperti buku, majalah, mainan, puzzle, board games, dll, untuk mendorong anak-anak melakukan hal selain menonton televisi.

ketakutan ibu

3. Asupan gizi anak tidak bagus

Kekhawatiran akan hal ini pernah saya lalui juga, puncaknya saat anak saya baru memulai mengonsumsi MPASI. Inginnya jadi ibu nan paripurna - meski sibuk bekerja tapi bisa menyiapkan sendiri makanan untuk anak dengan gizi yang seimbang.

Sekarang, meskipun bukan penganut clean eating garis keras, maunya sih saya bisa tetap menyediakan asupan gizi yang baik untuk anak dengan cara:

- Membuat meal plan.

Meski yang mengeksekusi masaknya tetaplah embak ART, paling tidak dengan membuat meal plan terlebih dahulu, kita jadi bisa mengontrol dan memilih jenis makanan agar asupan gizi seimbang.

- Mencoba membiasakan gaya hidup sehat.

dengan 'mengiklankan' enaknya makan sehat dan berolahraga, harapannya sih akan tertanam di alam bawah sadar anak untuk mengikuti jejak yang sama. Dengan begitu, saat ia ditawari jajanan yang nggak jelas atau junk food, dia bisa menolak atau setidaknya membatasi diri.

4. Anak salah pergaulan akibat kurang perhatian dan pengawasan orangtua.

Nah, ini juga semakin membuat parno seiring dengan anak beranjak dewasa. Berhubung belum mengalami langsung bagaimana rasanya mengasuh anak ABG, bisa dibilang saya baru sampai pada tahap membekali diri dengan ilmu, seperti:

- Membiasakan anak berpikir mandiri.

Dari buku karangan Alfie Kohn, saya jadi tahu bahwa orangtua jangan bangga punya anak penurut. Kalau saat masih kecil dia terbiasa disuruh, dipilihkan atau dipaksa mengikuti omongan orangtua, maka saat besar nanti, dia juga akan tetap jadi penurut. Tapi bedanya, dia akan punya sosok lain untuk 'dituruti,' dan kemungkinan besar sosok itu adalah teman-temannya. Yang ngeri adalah kalau anak jadi terjerumus ke hal-hal negatif akibat tidak pernah memilah apa yang baik bagi dirinya. Kemampuan memilah dan memilih sejatinya perlu dilatih. Semakin sering anak membuat pilihan-pilihannya sendiri, akan semakin jago pula ia untuk mengenal dirinya, berpikir tentang konsekuensi, menghitung untung-rugi dari suatu tindakan, dan sebagainya.

- Quality time is a must.

Apalagi sekarang, saat saya sudah kembali menjadi ibu bekerja, saya perlu kembali mempraktekkan apa yang saya tulis di artikel Ibu Bekerja dan Quality Time ini. Mungkin dengan sedikit tambahan seperti dengan mencari cara-cara bonding dan ritual keluarga yang bisa melekatkan hati. Ritual keluarga atau hal yang dilakukan secara rutin bersama-sama terbukti punya manfaat yang dahsyat bagi hubungan antara orangtua dan anak. Riset yang dilakukan oleh University of Maryland bahkan menyatakan bahwa hanya dengan ritual sesimpel makan malam bersama, terbukti dapat meminimalisir risiko anak memakai obat-obatan, merokok, minum-minum, dan berperilaku negatif lainnya.

- Stand beside the kid.

Seperti filosofi yang terkenal dari sosok pendidik Ki Hadjar Dewantara: ing madyo mangun karso - di tengah memberi semangat. Saat anak masih kecil, orangtua perlu berada di depan untuk memberi contoh kepada anak. Ketika anak beranjak dewasa, waktunya orangtua mulai mundur dan berdiri di samping anak. Maknanya yaitu untuk menjadi sahabat anak, sosok yang bisa mereka percaya dan mendampingi dalam masa-masa transisi anak menjadi dewasa. Dengan begitu, pada turning point kehidupannya, anak tidak akan merasa sendirian dan kebingungan. Semoga kita bisa menerapkannya, ya, Mommies.

Setelah satu bulan kembali bekerja, baru beberapa kekhawatiran ini yang terpikirkan. Apakah ada Mommies yang mau menambahkan? Bagaimanapun, sepertinya wajar saja ya kalau kita punya kekhawatiran ini dan itu, because after all, moms are designated worriers. It's in our genes!