Do You Silently Judge Other Parents?

Etc

ameeel・10 Dec 2013

detail-thumb

Meski lagi tren di kalangan orangtua muda masa kini mengenai ‘kampanye’ untuk stop  judging other parents dengan alasan we’re not in his/her shoes (atau bla bla bla alasan mulia lain), tapi, kok, saya tidak sepenuhnya percaya, ya.

Parents actually judge. You know this is true.

Ada seorang blogger, sebut saja X, gondok luar biasa karena merasa dianggap tidak becus jadi ibu saat gagal ASIX dan kasih sufor ke anaknya. Dia membela diri bahwa orang lain tidak seharusnya nge-judge dia. Tapi apa yang terjadi begitu beberapa waktu lalu ada segerombolan ibu yang kontra-imunisasi? Si X ‘menyerang’ ibu-ibu kontra-imunisasi ini, menganggap mereka ngaco karena tidak melindungi anak dari potensi terserang virus.

Lucu ya. Tidak mau di-judge, tapi sendirinya nge-judge pilihan orangtua lain. Bagaimana dengan saya? Hmmm… tadinya saya merasa tidak termasuk judgy mom. Tapi, kok, setelah dipikir-pikir lagi, saya itu sebenarnya suka nge-judge. Sering banget malah pas dulu berstatus newbie mom. Tahu sendiri, kan, ya, karena pengalaman membesarkan anak baru seuprit (belum ketemu banyak 'rintangan'), newbie mom suka sok paling hebring dan menganggap pola asuhnya luar biasa ciamik saat anaknya dirasa ‘lebih’ dibanding anak lain.

Apalagi, saya pun selalu menganggap diri saya sebagai ibu muda nan cerdas yang tahu segala info terbaru mengenai tumbuh kembang balita, hahaha. Pokoknya sotoy dan nyebelin abis, apalagi sama yang punya pendapat berbeda.

Mereka yang ber-smartphone tapi gagal ASIX (bukan karena alasan medis), dulu pasti saya cibir. Begitupun mereka yang anaknya supercengeng, suka tantrum, penakut, luar biasa pemalu, atau terjadi sibling rivalry, pasti saya anggap ada yang salah pada pola asuh orangtuanya sampai anaknya begitu. Bahkan mereka yang masih beliin anaknya baby walker pun tidak ketinggalan saya cela, hahaha. Rese abis, ya?

Now that I think about it, I'm embarrassed to admit that many times I have judged my friends based on their parental decisions and/or their child's behavior.

Ya, meski sekarang pun kadang-kadang masih nge-judge, tapi frekuensinya sudah jauuuh lebih berkurang dibanding dulu. Jadi bagi siapapun yang pernah tersinggung oleh seorang Amelia Yustiana yang mulutnya jarang diayak ini, mohon maafkan, ya... walau tidak menjamin di kemudian hari nanti saya akan berkata manis selalu, sih, hahaha.

Saya rasa, bukan saya saja yang pernah nge-judge. Tanpa bermaksud nuduh, tapi semua ibu-ibu—setidaknya saat masih newbie mom—pasti pernah melakukannya. Ada yang cuma nge-judge dalam hati, ada yang blak-blakan lewat lisan, ada juga yang lewat ujung jari di socmed.

Yaaa meski ada juga yang 'munak' (munafik, maksudnya :D). Menganggap dirinya tidak suka nge-judge, padahal kalau diperhatikan gaya bahasanya di socmed, mah, kebaca banget bahwa mereka itu aslinya judgemental. Ada yang nge-judge orangtua Dul, nge-judge orangtua yang mendadani anaknya berlebihan di kontes putri-putrian, nge-judge orangtua yang anaknya lebih lengket dengan babysitter, nge-judge keluarga yang sibuk dengan gadget masing-masing saat makan bersama di restoran, dll.

Bahkan, mereka yang mengganggap dirinya 'cool' karena tidak suka nge-judge, bisa jadi sebenarnya lagi nge-judge orangtua lain yang suka nge-judge. Err, jadi kusut gini kalimatnya, tapi paham maksud saya, kan, ya?

Meski tidak dapat dibenarkan, tapi judging other parents menurut saya merupakan hal manusiawi. It's human nature to compare ourselves to others we see around us.

Sebagai orangtua, we want to feel that we are doing the best for our kids. Tapi faktanya, tidak semua hal bisa kita lakukan dengan 'benar', sehingga it much easier to feel good about our parenting saat menemukan 'kekurangan' orangtua lain.

Oke, MPASI yang kita berikan ke anak selalu homemade dan bebas gula garam, sehingga kita nge-judge tetangga yang suka kasih MPASI instan. Padahal di sisi lain, ternyata kita dan suami suka mengajak anak boncengan bertiga naik motor (dengan pembenaran, toh, perginya cuma ke minimarket depan komplek), sementara tetangga yang memberi anaknya MPASI instan tidak pernah melakukannya. Dia patuh pada aturan batas maksimal sepeda motor yang hanya boleh dua orang.

Saat kita fokus pada pemberian nutrisi anak, tetangga fokus pada keselamatan anak. Tapi, faktanya tetap saja kita mengganggap cara kita mengasuh lebih baik daripada tetangga, apalagi kalau anaknya bentar-bentar sakit—meski tetangga pun mungkin berpikiran serupa dan dalam hati juga nge-judge kita :D

We are insecure about the choices we’re making, that’s why we’re judging each other. Bukan begitu Mommies?

*gambar dari sini

How about you?

Do you ever judge?

Do you silently judge other parents?

Hah, tidak pernah?

Yakin?

Coba, saya kasih tahu beberapa hal, ya.

Begini…

  • Karena geli bila disuruh memegang ceker, tulang, dan apapun bahan pembuat kaldu, untuk semua masakan yang berkuah saya selalu mengandalkan kaldu bubuk.
  • Restoran fast food adalah rumah kedua Rakata-Ranaka.
  • Ranaka sudah minum teh botol dari umur 8 bulan, dan minum kopi di usia 11 bulan. Oh, dan tentu saja tidak satupun di antara Rakata-Ranaka yang makan di highchair.
  • Saya punya stok sekantong besar permen di rumah. Saya memberikannya sebagai reward bagi yang makannya banyak.
  • Saya tahu A-Z mengenai RUM, tapi tidak menjalankannya. Anak demam, batuk, pilek, biasanya langsung saya kasih obat.
  • Saya pernah beberapa kali menyetir mobil sambil menyusui, bahkan ada yang di jalur pantura.
  • Kedua anak saya cuma duduk di car seat sampai umurnya masing-masing setahun. Setelahnya, kabin mobil = arena jumpalitan.
  • Saya dan suami sering bertengkar di depan anak-anak.
  • Rakata sudah empat bulan bolos sekolah karena seringnya saya dan suami baru bangun pukul 07.30-an, sementara sekolahnya masuk pukul 07.00.
  • Ubin rumah saya ketemu kain pel cuma seminggu sekali. Begitu juga gigi Ranaka dengan odol.
  • Karena percaya bahwa moralitas tidak ada hubungannya dengan religiusitas, hingga kini saya belum mengenalkan agama pada Rakata-Ranaka, apalagi menggunakannya sebagai landasan pola asuh.
  • ...and no, they are not the center of my universe. Anak memang bagian penting dalam kehidupan saya, tapi bukan segala-galanya.
  • There, I said it.

    Okay, now go on, judge me! :D