Love More, Judge Less

Beberapa minggu terakhir, dunia para mom blogger diramaikan oleh kontroversi Maria Kang. Maria Kang adalah seorang personal trainer, instruktur fitness dan ibu tiga anak. Berikut fotonya:

Tidak perlu waktu lama, gelombang protes menyerbu Kang. Puluhan ribu komentar yang merespon unggahan foto tersebut justru merupakan respon negatif. Kang dianggap mem-bully para ibu yang tidak memiliki tubuh sepertinya. Segera saja kasus foto Kang tersebut mencapai hit di media, berawal dari reaksi di Facebook-nya, kemudian respon yang ditulis para mom blogger, sampai diangkat di surat kabar umum dan menjadi tema talkshow di televisi.

Ada banyak ibu lain, dengan tubuh seideal Kang, baik selebriti atau bukan. Tapi mengapa Kang yang menerima badai protes? Pemicunya ada pada kalimat, “What’s Your Excuse?” Kalimat itu dianggap membawa pesan bahwa jika Kang bisa dan mampu menjaga tubuhnya tetap ideal, maka seharusnya pun semua orang bisa dan mampu, tidak ada pengecualian. Pernyataan ini dirasakan menghakimi para ibu lainnya yang tidak memiliki tubuh ideal seperti Kang.

Kasus Kang hanya salah satu contoh dari sekian banyak tren saling menghakimi antara sesama ibu. ASI vs Formula, working mother vs stay at home mother, persalinan normal vs persalinan cesar, sampai hal sepelemente (bagi saya) seperti didorong di stroller atau digendong, bisa menjadi tema yang berujung pada perang saudara yang tak kunjung berakhir. Saling hakim-menghakimi ini terjadi karena ketika seorang ibu memihak satu pendapat, maka baginya pendapat yang lain adalah salah.

Menjadi ibu adalah proses belajar seumur hidup, dan kita semua tahu, proses itu tidak pernah mudah. Saran, nasihat, buku-buku, dan semua informasi tentang motherhood dan parenting hanya salah satu sumber. Guru terbaik, justru berasal dari pengalaman. Sejak awal saya menjadi ibu, tidak terhitung banyaknya kesalahan karena ketidaktahuan –atau malah- kesoktahuan yang saya lakukan. Dari pengalaman itu saya belajar untuk memperbaiki diri dan membuat pilihan-pilihan. Jika kondisi dan pengalaman setiap orang berbeda, mengapa kita harus berperang satu sama lain demi berusaha membuat dunia ini homogen?

 

Picture taken from here.

Kita seringkali lupa, bahwa tidak semua manusia 100% sama. Apa yang berhasil bagi orang lain, belum tentu berhasil bagi yang lainnya. Acapkali karena kita mencapai keberhasilan dalam suatu hal, maka kita menganggapnya sebagai kebenaran (absolut) dan mengabaikan pilihan lainnya. Kita mengampanyekan pilihan tersebut melalui berbagai cara, baik di kehidupan offline maupun online. Secara tidak langsung kita menunjukkan bahwa pilihan kita sempurna, maka hidup kita pun sempurna, dan bahwa orang lain yang tidak mengikuti pilihan tersebut bisa jadi tidak sempurna.

Mungkin sudah dari sononya bahwa wanita cenderung untuk subjektif dibanding objektif, dan dibekali kemampuan lebih dalam hal detail dibanding pria. “Bakat” ini menggiring wanita untuk mudah menghakimi orang lain berdasar sudut pandang pribadinya. “Bakat” ini juga membuat wanita lebih cenderung pamer. Pamer dan menghakimi, sebenarnya adalah upaya pembuktian diri bahwa hidup kita “berhasil dengan baik”, dan memproteksi diri dari potensi dianggap “gagal” sebagai ibu.

Padahal kesalahan (bukan kegagalan) yang kita lakukan selama menjadi ibu, adalah hal yang amat sangat wajar. Senyatanya, sebagai ibu kita memiliki banyak hal yang harus dikerjakan dan dipikirkan, begitu kompleksnya, sehingga mustahil untuk menjadi ibu yang sempurna. Sama mustahilnya dengan menyeragamkan satu pilihan sempurna untuk semua ibu dengan ragam dan warnanya masing-masing.

Mungkin ada yang berdalih, “Saya hanya berbagi pengalaman kok, agar orang lain bisa mengambil manfaatnya.” Jangan lupa, Kang juga merasa melakukan hal yang sama. Ia merasa hanya berbagi pengalaman intensifnya dalam menurunkan berat badan, dan apapun hal yang dirasakan pembaca/penonton fotonya adalah hal lain di luar tanggung jawab pribadinya.

Belajar dari kasus Kang tersebut, sudah saatnya kita, para ibu, me-review kembali apakah selama ini kita –baik sengaja maupun tidak– telah menjadi orang yang cenderung menghakimi orang lain dibanding sekadar berbagi? Mari lebih membuka hati, menghargai perbedaan dan pilihan yang dibuat oleh ibu lainnya sekalipun berbeda dengan pilihan kita, karena sejatinya tujuannya adalah sama, memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mari mulai mendukung satu sama lain, dan berhenti saling menghakimi.

Because being mom is hard enough.

And because every mom is supermom, but no mom is perfect.

 

Picture taken from here.

 


8 Comments - Write a Comment

  1. Kalo gue mandangnya, setiap orang pasti ada setuju atau nggak setujunya dengan pendapat kita. Nggak bisa maksain semuanya harus sama dengan yang kita pilih. Toh kondisi setiap manusia nggak ada yang sama.
    Menjadi ibu, walaupun super menyenangkan, tapi pasti ada dukanya juga. We’re not on the same shoes, so yeah. Lets spread the love not the judgement :)

    TFS :)

    1. Bener banget, lit. Kadang gemes juga kalau ngelihat hal sepelemente pun bisa jadi pemicu perselisihan. Setiap orang punya preferensi dan alasan masing-masing, ini yang kita (gw juga) sering lupa. Semoga sama2 jadi reminder kita semua.

  2. Setuju bundaaa…
    Seperti penilaian ibu2 di sekitar yg mengkritik “masi makan bubur” – nya si ashraf. Plus ditakutin ini dan itu.
    Mana ada si, mama yg mau anaknya makan bubur terus, ya ga bunda?
    Tapi ga semua ibu mau mengerti, bahwa anak2 pun sudah pintar memilih apa yg disukai. Seperti orang dewasa juga, ada yg ga suka makan pisang, banyak juga yg ga mau makan jerohan ;)
    Apapun itu, yg pasti tiap ibu pasti ingin dan tahu yg terbaik untuk anak2nya. Walau mungkin berbeda jalan dengan ibu2 lainnya.

    1. I heart youuu Bet, Naj juga masih cinta buburnya (banget) ;). Kalau soal dikritik karena itu sih, udah langganan sehari-hari, haha. Tapi yasudahlah, selama dia makan dengan hepi dan menikmati. Mungkin keturunan, karena maknya ini pun pecinta bubur, hohoho. *pelukashraf*

  3. Habis comment pertanyaan seorang bunda di sebuah fanpage tentang menyusui. Yg intinya adalah apa ada pengaruhnya ke pertumbuhan kalo anak yg sdh saat nya makan makanan padat tapi masi dikasi makan bubur. Saat dijawab apa adanya, dengan plus dan minus nya, dan cth case gadis kecil yg masi makan bubur tapi tumbuh sesuai usianya bahkan cenderung lbh cerdas dibanding anak seusianya, saya direspon dengan : coba bunda gugling tentang pengaruh buruknya.

    Hehehe. Ya mungkin memang trend saat ini judge-ing orang lain menimbulkan kebanggaan -bahwa gue lebih baik dan lebih tahu dari lo. Tapi banyak yg lupa (trmsk saya), pilihan berbeda yg diambil seorang ibu bukan tanpa pembelajaran, bukan tanpa tahu manfaat dan resiko nya. :)

Post Comment