Agar Anak Tak Selalu Berpikir Negatif

Saya sih capek menghadapi orang yang pikirannya selalu negatif, makanya nggak mau anak saya tumbuh menjadi pribadi yang pikirannya negatif terus.

Saya termasuk orang yang positif dalam melihat berbagai hal. Jadi kalau ada yang suka berpikiran negatif di lingkungan saya, sebaiknya balik badan saja, kita nggak usah temenan. Jauh-jauh, deh. Termasuk nggak akan milih calon pemimpin yang suka pesimis dan negatif dalam menghadapi masa depan Indonesia. Hahaha…Ups!

Yaiyalah, dalam berbagai hal, tentu kita harus optimis dan berpikir positif kalau mau berhasil, kan? Kalaupun nanti usaha yang kita lakukan gagal, ya tinggal sedih atau ngegerendeng sesaat lalu bangkit lagi, dan coba lagi. Nah, sekarang bagaimana caranya menurunkan sikap positif terhadap anak dan nggak membuatnya sibuk dengan pikiran negatif?

Agar Anak Tak Selalu Berpikir Negatif - Mommies Daily

Dimulai dari orangtua

Pertama-tama untuk menurunkan sikap positif dan optimis tentu dimulai dari kita duluan, orangtuanya. Kita ingin mereka punya sikap positif, tapi di depan mereka kita suka menghakimi orang lain, sedikit-sedikit ngomel tentang hal-hal kecil yang kita rasa nggak sesuai sama kita. Dari mana, dong, mereka belajar untuk bersikap positif? Kita perlu memberi contoh bukannya malah menunjukkan kepada anak-anak pandangan negatif kita pada dunia. Iya, sih, terkadang banyak hal yang memicu kita untuk kesal lalu mengeluarkan sikap dan ucapan negatif (termasuk di tahun politik seperti tahun ini), tapi mungkin ditahan saja, keluarkan ketika kita lagi bareng pasangan berdua, atau teman-teman sepemahaman.

Pakai bahasa yang positif

Cara kita berbicara sangat memengaruhi anak-anak kita, lho. Banyak-banyak memberikan pujian. Bukan cuma buat anak, tapi buat apa pun yang ada di sekitar kita yang memang pantas dipuji. Misalnya sesederhana melihat orang lain memberikan tempat duduknya untuk ibu hamil atau orang yang sudah tua. Sering-sering mengucap rasa syukur, serta mendominasi pembicaraan (baik ketika berbicara dengan anak, atau berbicara dengan siapa pun ketika sedang bersama anak) dengan hal-hal yang menyenangkan dan bermanfaat. Bukan berarti kita nggak boleh juga ngomongin soal bencana alam, atau tentang bully yang dialami temannya di sekolah. Justru itu bisa jadi bahan diskusi, hikmah positif apa yang bisa diambil dan kira-kira hal sederhana apa yang bisa dilakukan oleh anak supaya yang negatif bisa jadi positif.

Jangan kasih komen negatif untuk usahanya

Kita tahu banget kalau dia sudah berusaha, walau pada akhirnya gagal, usahakan untuk nggak kasih dia komen negatif. “Kamu, sih, latihannya kurang keras,” ketika dia gagal masuk semi final kejuaraan taekwondo. Pilih kalimat yang encourage anak untuk berusaha lebih baik lagi ke depannya, sambil selipkan kata-kata positif macam, “Insha Allah ke depannya bisa masuk semifinal, tapi nggak boleh malas latihan.”

Tunjukkan ekspresi yang positif

Bukan cuma mulut, raut wajah juga menyampaikan seribu ekspresi. Iya, sih, nggak ngomong apa-apa ketika dia nggak lolos seleksi tim sepakbola unggulan, tapi raut wajah kita ditekuk terus dan kelihatan banget kecewanya. Baiknya, sih, jangan tunjukin. Iya, iya, kita sudah susah payah mengantarkan dia latihan tiap hari Minggu pagi. Hari ketika kita seharusnya santai di rumah, goler-goler di kasur setelah 5 hari kerja. Anak-anak sadar betul, kok, kalau mereka sudah membuat kita kecewa.

Bikin daftar hal positif setiap hari

Ringan saja, nggak perlu yang berat-berat. Ketika sedang makan malam bersama, tanyakan pada anak-anak 5 hal yang bikin dia senang dan merasakan kebaikan. Misalnya, hari ini dibagi donat sama teman ketika snack time, atau dipuji sama guru karena pas disuruh ngerjain soal matematika di depan, jawabannya benar. Sederhana tapi mengajarkan anak untuk menghargai hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya.


Post Comment