Anak Akan Masuk SD, Yakin Sudah Matangkah Usianya?

Dulu banget, saya pernah patah hati ketika anak kedua saya Rimba ditolak masuk SD mana-mana. Kebetulan memang sekolah-sekolah yang saya incar untuk Rimba mengharuskan ia melakukan psikotes terlebih dahulu.

Total ada 3 sekolah yang menolak Rimba karena dianggap belum matang usianya. Padahal usianya saat itu sudah 6 tahun lebih dan sebagian besar teman-temannya diterima-terima aja, tuh. Padahal usianya nggak jauh beda.

Apa Itu HOTS yang Katanya Akan Diterapkan Untuk UN SD dan SMP? - Mommies Daily

Anak saya memang mengalami Sensory Processing Disorder, tapi, kan, selama di TK dia sudah ikut terapi Sensori Integrasi. Dari semua hasil psikotes di 3 sekolah tersebut, Rimba diminta untuk mengulang lagi level TK-Bnya demi mematangkan kognitif dan psikologisnya.

Yah, namanya juga emak-emak denial, ya. Saya merasa harusnya Rimba bisa masuk SD kala itu. Walau dengan berat hati, saya memasukkan Rimba kembali ke TK B, tapi beda sekolah dengan sekolahnya yang dulu.

Ternyata, oh, ternyata, hasil psikotes itu benar adanya. Tadinya saya khawatir kalau Rimba butuh shadow teacher, tapi berkat terapi dan ia mengulang lagi level TK B nya, begitu masuk SD di usianya yang 7 tahun lebih, ia tidak perlu bantuan guru bayangan. dan sampai saat ini dia kian mandiri, walau ada kondisi-kondisi tertentu yang masih butuh bantuan.

Yang saya tahu dan dengar, banyak orangtua merasa keberatan dengan ketetapan Mendikbud bahwa untuk masuk SD disyaratkan bahwa anak haruslah berusia 7 tahun minimal 6 tahun.

Jangan keburu kesal dan protes dulu, karena Kementerian pasti tidak gegabah dan sudah melakukan riset dan penelitian dong. Bukan berarti anak sudah bisa membaca dan berhitung lantas dianggap siap masuk SD karena saat itu pun, Rimba sudah bisa baca dan berhitung, lho.

Tetap saja hasil psikotes tidak menunjukkan kematangan usia. Nah, supaya lebih jelas, berikut alasan yang menetapkan kenapa masuk SD sebaiknya 7 tahun meski bisa di usia 6 tahun jika anak sudah siap.

Aspek Fisik

Ketika anak berada di usia 7 tahun, ia dianggap paling siap secara fisik. Kegiatan belajar mengajar biasanya sudah lebih lama dari kegiatan di TK jadi anak butuh gerakan motorik yang lebih bagus, otot dan saraf yang sudah terbentuk agar dapat bertahan belajar lebih lama, memegang pensil dengan benar, dan lain-lain. Ada anak di usia 6 tahun ada yang sudah bisa seperti itu, tapi ada juga yang belum. Jadi sebenarnya tak perlu dipaksakan.

Aspek Psikologis

Anak ditengarai mulai bisa berkonsentrasi dengan baik pada usia di atas 6 tahun. Itulah sebabnya terkadang ketika ada anak yang berusia 6,5 tahun sudah bisa mulai berkonsentrasi, tapi temannya yang rentang usianya hanya terpaut 6 bulan, tidak bisa melakukan hal yang sama.

Semakin bertambah usia anak, maka kemampuan konsentrasinya akan semakin meningkat. Belajar di tingkat sekolah dasar membutuhkan tingkat konsentrasi yang lebih lama, sekitar 30-45 menit, dilansir dari website Sahabat Keluarga milik Kemendikbud.

Aspek Kognitif

Untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar di tingkat sekolah dasar, anak diharapkan mampu membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Anak juga diharapkan mampu mengikuti instruksi, paham dan bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Aspek Emosi

Iya, sih, ada anak-anak yang usianya ngepas 6 tahun atau kurang sedikit sudah bisa baca, berhitung, dan matang secara akademik. Namun di usia itu rata-rata kematangan emosi dan kemandiriannya belum optimal.

Sementara berbeda dengan kebiasaan di jenjang TK, di SD mereka tidak akan mendapat perhatian yang sama. Contohnya, walaupun ia bisa mengerjakan tugas yang diberikan, tapi karena belum matang secara emosi, dia lebih memilih bermain daripada mengerjakan tugasnya. Nah, guru-guru SD kan tidak seperti guru TK yang masih harus meladeni layaknya saat mereka masih di TK.

Lakukan psikotes mandiri

Berkaca dari pengalaman pribadi, sebenarnya kita sendiri bisa, lho, berkonsultasi pada psikolog anak dan meminta psikotes secara mandiri. Nggak perlu tunggu sekolah incaran yang mengadakan tesnya.

Hal ini saya percaya demi kelangsungan dan kelancaran kehidupan si anak di sekolah dasar. Karena biasanya yang lebih napsu memasukkan anak ke SD, adalah orangtuanya. Padahal sebenarnya anak juga bisa menentukan sendiri, namun perlu dibantu dengan psikotes itu tadi.

Sudah banyak lembaga-lembaga mandiri yang menyediakan psikotes tersebut, kok. Dan harganya juga terjangkau. Buat saya, lebih baik sabar kalau memang si kecil terlihat belum matang masuk SD, daripada ia jadi tidak nyaman bersekolah.


Post Comment