Terapi Untuk Sensory Processing Disorder

Ditulis oleh: Dewi Warsito

Saat anak saya, Rimba, terdeteksi mengalami Sensory Processing Disorder, ia pun diharuskan menjalani terapi. Seperti apa terapi untuk Sensory Processing Disorder?

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, sejak usia 3,5 tahun, saya curiga ada gangguan tumbuh kembang pada Rimba, anak kedua saya, yang butuh penanganan serius. Setelah berkonsultasi dengan Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi. di klinik Anak Spesial Mandiri, Depok, ditemukan bahwa Rimba mengalami Sensory Processing Disorder (SPD).

Apakah sama dengan Autis?
Pada dasarnya SPD biasanya menjadi salah satu gangguan yang menyertai autisme, ADHD, dan gangguan belajar. Ada bantuan khusus untuk meminimalkan efek dari gangguan ini, hingga kemungkinan hilang sepenuhnya bisa terjadi. Walau belum ada penelitian yang valid, bahwa anak bisa lepas dari gangguan SPD ini sama sekali.

Terapi Sensori Integrasi
Saat observasi, kekuatan otot dan pembagian tenaga pada area punggung, bahu, dan tangan Rimba terlihat kurang optimal. Ia kesulitan membagi tenaganya pada aktivitas yang memerlukan pergantian besar tenaga. Pada area koordinasi, aktivitas Rimba dengan gerakan-gerakan yang membutuhkan kerja kedua sisi kanan dan kiri tubuh secara bersama atau bergantian, terlihat kurang optimal. Termasuk gerakan melintasi garis tengah tubuh. Kekuatan otot jari dan tangan pun belum maksimal, karena dipengaruhi oleh kekuatan otot besar penopang lengan yang belum berfungsi dengan sempurna.

Sesuai anjuran Vera, Rimba harus ikut terapi Sensori Integrasi untuk mengejar ketinggalannya dari teman-teman seusianya. Sensori integrasi sendiri merupakan proses neurologis dalam mengatur informasi yang kita terima dari lingkungan sekitar, serta digunakan untuk beradaptasi kembali dengan lingkungan tersebut.

Terapi Sensory Processing Disorder

Terapi ini fokus pada beberapa area:

Area gross motor (kemampuan seluruh otot tubuh), agar Rimba bisa meningkatkan kekuatan leher dan punggung sebagai otot penopang tubuh. Area kekuatan otot untuk membantu meningkatkan keseimbangan saat mobilisasi pada media stabil, atau tidak stabil. Kontrol jari dan tangan pun diharapkan bisa memanipulasi fine motor skill (kemampuan motorik yang berhubungan dengan koordinasi mata, tangan, dan jari).

Terapi di area gross motor ini memiliki tujuan jangka panjang yang akan membantu Rimba mengikuti kegiatan belajar dengan tenang, serta mampu mempertahankan postur saat duduk dan menyimak dalam kelas. Juga fokus pada persepsi visual Rimba yang akan memberikan stimulasi vestibular yang sesuai. Ia diharapkan bisa memberi perhatian penuh terhadap sebuah aktivitas hingga selesai. Jika ada kegiatan mewarnai, ia diwajibkan menyelesaikan seluruh bagian yang diminta tanpa paksaan.

Dalam jangka panjang, Rimba diharapkan bisa meningkatkan atensi dan gerakan mata. Selama ini memang saat berkomunikasi, Rimba menolak untuk bertatapan mata dalam waktu yang lama. Ia hanya mau menatap saya beberapa detik, kemudian melihat ke arah.

Terapi Area Motor Planning (perencanaan gerak) bertujuan agar Rimba mampu meningkatkan kemampuan perencanaan gerak di masa depan, dengan latihan-latihan melewati berbagai rintangan di media stabil dan tidak stabil, serta melakukan berbagai gerakan kompleks saat beraktivitas.
Akan lebih mudah untuk Anda melihat aktivitas yang dilakukan di terapi tersebut melalui video di sini.Seiring dengan berjalannya waktu, terapi-terapi tersebut akan semakin bertambah tingkat kesulitannya. Sejauh ini, Rimba mengalami kemajuan yang signifikan, terutama di keseimbangan, kemampuan bahasa, dan motorik halus.

Ada kalanya saya sedih, melihat anak saya yang usianya 5 tahun, tapi perkembangannya seperti anak usia 2-3 tahun. But, hey, the progress that he made this far, makes me feel grateful and full of joy. Apa lagi di field trip terakhir, kata gurunya ia jauh lebih mandiri, tanpa perlu saya temani lagi.

Di tulisan saya selanjutnya, saya akan menjelaskan ciri-ciri dari Sensory Processing Disorder.


Post Comment