Ketika Suami Mendadak Pergi untuk Selamanya

Oleh: Febria Silaen

Karena tidak satu pun manusia tahu, kapan dan bagaimana ajalnya akan tiba.

Dalam obrolan via whatsapp beberapa waktu lalu, kalimat dari sahabat perempuan saya sempat membuat saya harus kembali menahan air mata.

“Today just miss him so much.”

Ketika Suami Mendadak Pergi untuk Selamanya - Mommies DaiilyImage: Anthony Tran, Unsplash

Terasa sekali kerinduan sahabat saya, teman sejak SMA yang biasa kami sapa Ai, kepada suaminya. Ya, ini adalah waktu-waktu yang berat bagi Ai, setelah tiga bulan lalu ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami tercinta.

Masih lekat dalam ingatan saya, kalimat pendek yang dikirim Ai lewat Whatsapp grup kami, yang hanya berisi empat ibu-ibu yang sudah berteman lebih dari 20 tahun.

“Say, Rendra meninggal.”

Singkat sangat singkat dan sempat membuat kami semua bertanya-tanya. Tapi apalah arti pertanyaan ketika memang kabar yang kami dengar benar adanya. Rendra, suami Ai meninggal. Rendra yang kami kenal sebagai sosok lelaki yang bertanggung jawab, ulet dan teramat mencintai keluarganya.

Kepergiaan yang mendadak tidak hanya membuat kami terkejut tapi kami juga kehilangan. Dan kami pun seperti diingatkan, suatu hari, suatu ketika kami pun bisa saja mengalami ini. Tapi Ai lebih dulu mengalaminya dan sangat tiba-tiba. Rendra, kabarnya masih beraktivitas pagi hingga siang. Namun, saat di rumah siang hari, Rendra ini mengeluh sakit dan tidak enak badan. Dan sore hari Rendra meninggalkan istri, dua anak dan kami semua.

Acara pemakaman berjalan baik dan kami tidak banyak bicara. Kami terlalu berduka hingga tidak bisa saling memberikan kekuatan untuk menghibur. Hanya air mata dan pelukan tanpa kata-kata yang banyak. Dan yang kami sadar sebagai perempuan, istri dan ibu adalah Ai sahabat kami akan menjalani hari-harinya sendiri. Berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ai menjadi ibu dan bapak bagi anak-anaknya. Ai harus menjalani hidupnya tanpa belahan jiwa, sayapnya patah satu.

Setelah beberapa hari kepergian Rendra, kami pun mengunjungi Ai. Ada banyak cerita dan kesedihan tentunya Tapi ketegaran Ai untuk bisa menjalani dan melanjutkan kehidupan menjadi pelajaran dan pengalaman bagi kami.

Biar bagaimana pun hidup harus tetap berjalan meski situasi dan kondisi tidak lagi sama. Tapi karena anak-anak adalah harta dan warisan berharga dari suami, inilah yang membuat Ai kuat.

Perubahan hidup pun harus dijalani dengan tegar oleh Ai. Sosok perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, kini berubah menjadi sosok perempuan yang harus mandiri dan mampu menjadi penopang bagi keluarganya. Dia harus bisa mengatur semua kebutuhan rumah tangga seorang diri.

Sangat tidak mudah. Kami yang membayangkan saja, sering kali ikut menangis. Sebab, kami sendiri tidak sanggup untuk bisa menata hati, emosi dan menahan kerinduan. Apalagi ketika kami sebagai ibu harus bisa menjawab kerinduan anak-anak terhadap ayahnya. Ah, berat. Berat sekali.

Namun, sedih yang berlarut bukan menjadi pilihan Ai. Meski jujur sering kali dirinya mengakui teramat merindukan Rendra. Bagaimana tidak, sejak menikah dan memiliki anak mereka selalu bersama. Memutuskan untuk memulai bisnis dari rumah. Setiap hari selalu bersama, tanpa terpisah jarak dan waktu. Dan kini semua berbeda. Ai kini sendiri menjalani hari tanpa suami, tanpa imam yang selalu menopangnya.

Tiga bulan mungkin dihitung jari adalah waktu yang singkat, tapi tentu tidak bagi Ai. Tiga bulan yang dilalui sangat berat, hari-hari yang dijalani memaksa dia bangkit dan melanjutkan hidup. Untuk anak-anak, untuk dirinya dan keluarga.

Sosok Ai kini berubah. Kondisi dan waktu memaksa dirinya untuk mengambil keputusan untuk melanjutkan kehidupan dan masa depan anak-anak. Ai, yang kami kenal tidak melek teknologi kini memaksa dirinya untuk belajar banyak. Kehidupannya kini tidak hanya mengasuh anak, mengantar sekolah, mengurusi rumah tetapi juga pencari nafkah.

Dan juga menata hati dan emosi ketika rindu yang tak berujung dirasakan Ai. Bersikap tegar meski rapuh di depan anak-anak. Memberikan pelukan yang hangatnya sama seperti pelukan yang Rendra berikan kepada anak-anak.

Melanjutkan usaha yang Rendra pernah geluti pun dilakukannya. Membuka toko di rumah, menjalani hari-hari dengan terus menjaga cinta untuk suami. Itu yang kini dilakukan Ai.

Dan kami pun mendapatkan nasihat dari Ai, bahwa keterbukaan dalam rumah tangga sangat penting. Tidak hanya soal nomor rekening bank, Pin ATM, tapi juga urusan yang terkesan sepele password gawai, sosial media hingga tempat rahasia menyimpan barang berharga, suami istri harus saling tahu.

Bahkan Ai, kini juga pelan-pelan memberitahu anak sulungnya, Reno tentang Pin ATM dan beberapa hal penting juga dicatat. Sebab, musibah tidak ada yang tahu. Itu alasannya.

Dan kami pun belajar untuk saling terbuka kepada pasangan bahkan anak-anak kami. Ya, karena kita memang tidak akan pernah tahu kapan ajal tiba. Tapi dengan saling terbuka untuk segala hal akan membantu suami atau istri bahkan anak ketika suatu hari ajal itu tiba.

Ai, kamu adalah perempuan, istri dan ibu yang hebat bagi kami.

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment