5 Cara Mengajarkan Toleransi pada Anak

mengajarkan-perbedaan

Kejadian bom dan teror belakangan ini sangat melelahkan ya moms. Rasanya sulit sekali dicerna. Satu hal yang bisa jadi catatan, rentetan kejadian ini adalah wake up call bagi kita para orangtua untuk mengajarkan toleransi pada anak.

Dulu, di sekolah, toleransi diajarkan di mata pelajaran PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) dalam bentuk tenggang rasa dan tepo seliro. Tapi melihat kondisi sekarang, rasanya tidak cukup ya mengandalkan sekolah untuk mengajarkan toleransi.

Flash back ke zaman saya kecil, saya sekolah di SD negeri, waktu itu entah kenapa teman-teman yang non-muslim seperti dikucilkan dan tidak ditemani. Apalagi di pelajaran agama Islam, mereka diminta ke luar kelas dan entah ke mana.

(Baca juga: Apa yang Paling Darurat Diajarkan pada Anak di Hari Pendidikan Ini?)

Baru setelah dewasa saya tahu bahwa mereka juga belajar agama sesuai kepercayaan masing-masing KALAU kebetulan ada gurunya. Kalau tidak ada, seperti mereka yang beragama Hindu atau Buddha ya berkeliaran saja menunggu di luar kelas.

Dari situ saja saya sudah merasa ada yang salah ya. Karena secara tidak langsung, sekolah juga ikut mengucilkan si anak dan membedakan perlakuannya. Iya betul mereka minoritas, tapi bukankah sekolah negeri justru seharusnya netral?

Karena mendidik anak bukan tugas pemerintah, jadi ayo kita kenalkan toleransi sejak dari rumah. Apa saja yang kita bisa ajarkan tentang toleransi pada anak?

1. Perkenalkan perbedaan sejak kecil

Sejak bisa mengobrol dua arah, saya selalu memperkenalkan berbagai hal pada anak saya. Saya selalu mendeskripsikan sesuatu yang berbeda, kemudian diberi embel-embel “beda itu tidak apa-apa, lho”. Juga diberi tahu bahwa setiap orang boleh memilih sesuai pilihannya masing-masing.

Berbeda ini bisa dari banyak hal dan tidak melulu soal agama. Bisa dari warna kulit, jenis rambut, tinggi badan, pilihan berpakaian, hal-hal yang bisa jelas dilihat anak.

2. Beri contoh

Beri contoh bahwa kita berteman dengan berbagai jenis orang dan itu tidak apa-apa. Kalau bertemu teman yang tidak berjilbab atau berjilbab panjang, jelaskan juga meski ia tidak bertanya agar ia sadar bahwa perbedaan itu nyata dan itu tidak apa-apa.

3. Biarkan anak ada di lingkungan yang beragam

Jika sekolahnya berbasis agama tertentu, ada baiknya untuk dikenalkan juga agama lain. Jelaskan bagaimana mereka beribadah dan apa hari besarnya. Bisa juga dengan memasukkan anak ke tempat les atau kegiatan lain yang berada di luar circle teman-teman sekolahnya.

4. Pilih media yang dibaca atau ditonton

Nilai yang tidak sesuai dengan nilai keluarga bisa datang dari mana saja. Pastikan untuk selalu memantau apa yang dibaca atau ditonton anak ya. Contoh sederhana, tahu film animasi Peppa Pig? Film itu sering sekali “mem-bully” Daddy Pig karena badannya yang gemuk. Padahal orang gemuk kan tidak apa-apa dan tidak perlu dikomentari apalagi diejek.

5. Hati-hati mengomentari orang lain

Nah ini yang tersulit. Kadang komentar suka muncul begitu saja ya jadi hati-hati agar tidak jadi blunder. Komentar seperti “wah bajunya kebuka amat” bisa jadi bertentangan dengan kata-kata kita tentang “orang punya pilhannya” masing-masing.

Sulit ya? Tapi minimal kita sudah melakukan cara-cara yang kita bisa untuk menjaga negara ini tetap damai. Karena bertengkar atas perbedaan itu tidak berguna sebab tak ada satu pun manusia yang sama.


Post Comment