Ngobrol Tentang Pendidikan Seksual Sesuai Usia si Kecil, Yuk Mommies!

Jangan keburu parno dulu ya, kalau udah menyinggung soal pendidikan seksual. Berdasarkan tahapan usia, hal ini bisa banget kok dibicarakan dengan cara yang nyaman buat anak dan orangtua.

“Bunda, pipis itu dari depan apa belakang?”

“Bunda, Jordy lahirnya dari perut Bunda, ya?”

Dua model pertanyaan tadi ternyata bisa lho, dijadikan gerbang ngobrolin pendidikan seksual sama anak usia prasekolah. Kata Mbak Vera Itabiliana, Psikolog Anak ngobrol soal pendidikan seksual bisa dimulai sedini mungkin. Sesederhana, minta tolong si kecil menunjukkan anggota tubuh.

Ngobrol Tentang Pendidikan Seksual Sesuai Usia si Kecil, Yuk Mommies! - Mommies DailyImage: by Loic Djim on Unsplash

Saya sendiri yang menerima pertanyaan dari Jordy, jadi sering terjadi proses diskusi. Awalnya tanya soal proses pipis seperti apa, eh jadi merembet soal bagaimana saya melahirkan Jordy. Agak panjang jadinya, tapi kan harus tetap saya akomodir pertanyaan-pertanyaannya.

Yang perlu digarisbawahi, menurut Mbak Vera, sebagian orang masih sering salah kaprah. Bahwa pendidikan seksual itu semata-mata mengajarkan tentang hubungan seksual , pacaran, daerah pribadi, dan lain-lain. Tapi sebetulnya turunannya banyak sekali.

“Misalnya kita mengajarkan, nama-nama bagian anggota tubuh (kuping, vagina dan penis). Itu sudah termasuk pendidikan seksual. Dan itu kita lakukan sejak bayi bisa, misalnya bilang “Iih matanya bagus,” atau “Giginya mana?”. Di usia pra sekolah, mengajarkan anak pipis sesuai dengan jenis kelaminnya juga bagian dari pendidikan seksual,” jelas Mbak Vera.

Di usia prasekolah ini pula (3, 4 & 5), sering kali muncul pertanyaan yang ajaib. Mbak Vera bilang, soalnya anak-anak usia ini sedang membentuk konsep “aku”. “Aku itu apa sih?” , “Asal aku dari mana?.”

Baca juga: 10 Pertanyaan Soal Pendidikan Seksual yang Sering Ditanya Anak, dan Cara Menjawabnya

Bagaimana seharusnya bereaksi?

Sebelum saya beralih ke tahapan usia lainnya, berikut ini silakan diingat-ingat ya, mommies. Kiat dari Mbak Vera, reaksi apa sih yang sebaiknya kita tunjukkan ? (hal ini berlaku untuk semua tahapan usia)

  1. Gunakan istilah yang benar atau ilmiahnya
  2. Jangan ganti-ganti namanya, karena nanti akan membuat anak bingung
  3. Gunakan gambar, buku atau media internet (video misalnya). Pilih video yang sesuai dengan tahapan perkembagan si kecil.
  4. Menjaga sikap kita supaya lebih tenang, nggak kelihatan cemas, apalagi marah. Karena usia anak prasekolah suka tanya pertanyaan yang ajaib. Kalau kita marah, nanti dia mikir pertanyaannya salah.
  5. Jawabannya jangan berbohong. Jika memang belum tahu, jujur saja. Bisa gunakan kalimat, “Nanti mama cari dulu jawabannya, ya kak,” atau, “Yuk, kak kita cari jawabannya bareng-bareng.”
  6. Jangan cuek
  7. Jangan terlalu serius

Ngobrol sama si anak SD soal pendidikan seksual mulai dari mana?

Masuk usia SD, biasanya interaksi antar mereka sudah semakin intens, ya, mommies. Suka ada tuh yang bercanda sampai ke ranah private. Misalnya buka-buka rok. Nah itu bisa dikasih tahu baik-baik. Kalau itu bagian yang sangat pribadi.

Masuk kelas 4, 5 atau 6 mulai deh tuh ada masuk masa-masa pubertasi. Penjelasan orangtua mengenai pendidikan seksual mulai naik kelas. Tidak sebetas apa itu mimpi basah dan menstruasi. Tanggung jawab seksual kata Mbak Vera harus disertai, sekaligus menjelaskan seputar mimpi basah dan menstruasi tadi.

“Kalau kamu mimpi basah, itu tandanya tubuh kamu untuk memberitahu kamu kalau kamu sudah punya sperma. Yang perempuan caranya tubuh kamu sudah punya sel telur. Ini artinya kamu sudah bisa punya anak,” papar Mbak Vera menirukan format pembicaraan yang bisa mommies gunakan.

Baca juga: Mengajarkan Pendidikan Seks Tidak Cukup, Mari Belajar Mengenali Pelaku Pedofilia

Si anak SMP yang mungkin sudah mulai suka dengan lawan jenis

Pada fase ini, Mbak Vera menyarankan diulang lagi soal pembahasan pubertas tadi. Apa saja sih yang berubah, tanggung jawab seksual mereka apa saja. Karena pada rentang usia ini, biasanya anak sudah mulai suka dengan lawan jenis, kan, mommies. Poin tambahan yang juga penting, kita orangtua bertanggung jawab menjelaskan “Hubungan yang sehat itu seperti apa, sih?” Namun, hal ini terpulang lagi dengan nilai keluarga masing-masing, menyoal pacaran. Karena nanti akan berpengaruh, bagaimana format penjelasan ke anak.

Satu hal yang perlu digaris bawahi dari Mbak Vera: Naksir-naksiran antar lawan jenis terjadi secara alami. Tidak bisa dimatikan. Jangan tutup mata kalau anak punya kebutuhan. Umpamanya seperti kita masak air, tapi lubangnya kita tutup. Tidak dibiarkan uapnya keluar sedikit demi sedikit, sambil kita kontrol.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Komunikasi yang terbuka antar anak dan orangtua jadi kuncinya, mommies. Tapi tetap flesibel, ya. Artinya Mbak Vera bilang, sebagai orangtua kita bisa mengerti kalau anak sedang naksir dengan lawan jenis. Tapi tetap ada aturannya. Misalnya kalau mau nonton sama pacar, diantar. Atau tawarkan main ke rumah saat kita ada di rumah. Jadi tetap di bawah pengawasan, daripada dilarang sama sekali, nanti yang ada dia sembunyi-sembunyi. Bangun suasana menyenangkan, diskusi hubungan yang sehat seperti apa. Rasa sayang yang murni seperti apa, kalau lawan jenis benar-benar sayang sama kita, harusnya seperti apa sikapnya.

Mengenai libido saat pubertas, Mbak Vera juga wanti-wanti, olahraga teratur sangat membantu untuk mengatur libido anak.

Ada yang mau berbagi cerita, bagaimana sih kiat ngobrol pendidikan seksual di tiga tahap usia tadi?


Post Comment