Mengajarkan Pendidikan Seks Tidak Cukup, Mari Belajar Mengenali Pelaku Pedofilia

Hampir seminggu ini banyak orangtua yang menunjukan wajah muramnya. Raut yang menggambarkan perasaan yang campur aduk. Sedih, marah, kecewa juga khawatir. Penyebabnya, apalagi kalau bukan soal kasus pedofilia yang dengan seenaknya membuat grup di social media, tepatnya di Facebook.

Minggu lalu, begitu mendengar pemberitaan ini, bulu kuduk saya langsung merinding. Hati langsung mencelos dan membatin, “Apa lagi ini? Sudah segila itukah dunia kita sampai-sampai  para pelaku pedofilia berani membuat grup di Facebook yang anggotanya sampai ribuan? Saling berbagi pengalaman bahkan berbagi konten tindak pencabulannya terhadap korbannya yang notabene masih anak-anak?”.

Saya pun lebih memilih untuk tidak ikut menyebarkan pemberitaan tersebut di sosial media. Bukan karena nggak peduli, tapi memang karena saya benar-benar ngeri.  Tapi sekarang saya mencoba menuangkan rasa khawatir saya, termasuk seluruh tim Mommies Daily mengenai hal ini. Ya, beberapa hari ini topik obrolan kami memang nggak jauh-jauh dari kasus ini. Yang jelas, kami semua sadar kalau kekerasan seksual pada anak memang masih ada di depan mata. Dan sayangnya memang belum bisa dihentikan :(

pedofila

Seperti yang saya lansir dari  antaranews, Kepala Sub-Direktorat Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Roberto Pasaribu mengatakan kalau  Indonesia masih jadi ladang subur untuk pelaku pedofilia.  Lalu bagaimana? Mengingat para pedofilia ini bisa berkeliaran di mana pun, apa lantas bisa membuat kita mengekang anak? Memenjarakan di dalam rumah atau sekolah saja? Membuat kita terus menerus jadi ‘ekor’nya? Jelas saja nggak bisa.

Buat saya dan teman-teman di Mommies Daily, kasus ini seakan menyadarkan kami lagi kalau membekali anak pendidikan seks tidak cukup. Bagaimana mereka memahami underwaer rules, bagaimana anak-anak perlu diajarkan untuk melawan atau setidaknya berteriak ketika ada orang yang mecurigakan.

Baca juga : Tentang Underwear Rules

Faktor yang paling perlu kita ingat justru membekali diri lebih dulu. Termasuk mengendalikan diri untuk tidak ‘gatal’ memposting foto anak di social media. Hal ini jugalah yang disarankan Irma Gustiana, M.Psi, Psi, Psikolog Anak dan Keluarga. Selanjutnya, tidak ada salahnya untuk belajar memahami seperti apa, sih, sebenarnya ciri-ciri para pedofilia ini.

Mengingat pedofilia ini termasuk dalam gangguan psikoseksual, sehingga menyebabkan seseorang mengalami gangguan aktivitas seksual yang abnormal (menyimpang), Mbak Irma menjelaskan kalau sebenarnya secara fisik agak sulit untuk membedakan mereka yang mengalami gangguan pedofilia dengan yang tidak.

Namun ada beberapa ciri yang bisa menjadi perhatian apa saja?

  1. Memiliki fantasi keinginan atau perilaku seksual terhadap anak-anak.
  2. Lebih senang dan selalu merasa lebih nyaman berada di sekitar anak-anak
  3. Pandai menarik perhatian anak-anak sehingga sangat disukai di kalangan anak-anak dan orang dewasa di lingkungannya.
  4. Kesulitan menjalin hubungan dengan lawan jenis yang dewasa atau seusianya
  5. Cenderung merasa kurang percaya diri, harga dirinya rendah sehingga lebih menikmati dan merasa lebih percaya diri bila bersama-sama dengan anak-anak yang polos.
  6. Adanya trauma masa kecil, bisa memicu seseorang menjadi pelaku pedofilia. Mereka yang trauma karena pernah mengalami pelecahan seksual, dan tidak tertangani dengan baik memiliki kemungkinan untuk mencari pelampiasan ketika ia telah dewasa. Contohnya kasus emon di sukabumi, yang mengaku dulunya pernah mengalami kasus pelecehan seksual di masa kecilnya
  7. Ketagihan pornografi karena seseorang yang kecanduan pornografi memungkinkan seseorang untuk berfantasi atau berkhayal sehingga membuat seseorang terangsang dan mendorong dirinya untuk melakukan aktivitas seksual pada anak-anak yang polos dan lemah.

Oh, ya… berdasarkan artikel yang sempat saya baca di Mamamia.com ternyata para pedofila ini nggak hanya senang mencomot foto anak-anak menggunakan pakaian serba mini atau naked. Menurut Erin Cash, detektif  Queensland Police yang sudah punya pengalaman lebih dari 12 tahun mendalami kasus kekerasan seksual pada anak, termasuk pedofilia.

Ada beberapa foto yang sering kali dianggap menarik oleh para pelaku pedofil. Seperti anak-anak yang sedang mandi atau berenang, foto anak-anak dalam keadaan menanggalkan pakaian, atau  foto-foto yang sudah diberikan emoticon pada area sensitif. Soalnya pedofil ini ternyata sering sekali memanfaatkan fotoshop untuk meningkatkan ‘nilai’ dari foto tersebut. Bahkan, duck face yang beberapa waktu lalu sempat jadi trend juga dianggap sebagai foto yang ‘menjual’  dan diedarkan di situs tempat predator berkumpul. Artinya, foto yang kita anggap normal bisa saja mereka ambil dan edarkan di komunitas mereka. Mengerikan bukan?

Baca juga : Yay or Nay; Bikini Untuk Anak

Dengan adanya kasus ini Mbak Irma juga mengingatkan saya beberapa hal penting lainnya. Mulai dari mengajarkan anak menggunakan sosial media dengan bijaksana, dan berusaha untuk terus terbuka dalam mengkomunikasikan perasaan. Sudah tahu, dong, ya kalau kercerdasan emosi sangat penting dan bisa menular?

“Untuk itu orangtua  perlu bekali anak mengenali emosinya sendiri seperti takut, sedih, marah, kesal sehingga ketika anak dalam keadaan yang kurang nyaman karena adanya ancaman, ia bisa mengungkapkan perasaannya. Ajarkan juga pada anak kita anak untuk tidak menerima iming-iming dari orang lain tanpa sepengetahuan orangtua dan mempercayai instincnya jika anak merasa tidak nyaman dan segera mencari bantuan dengan berteriak atau menjauh dari seseorang yang dirasakan kurang nyaman”.

So parents, bisa kebayang ya kalau peran dan tugas kita itu sangat panjang. Nggak semata sampai pemberian ASI, MPASI, memberikan fasilitas mainan,  meyiapkan pendidikan sekolah. TAPI LEBIH JAUH DARI ITU!

 


Post Comment