Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Mengenalkan Pasangan (Baru) pada Anak

Ditulis oleh : Maureen Hitipeuw

Salah satu pertanyaan terbesar alias million dollar question yang sering ditanyakan teman-teman saya yang berstatus single moms adalah tips untuk mengenalkan pasangan baru kepada anak-anak.

Setelah menyandang gelar selama 7 tahun lebih dan sekarang berstatus sudah memiliki pasangan serius (walaupun belum menikah lagi), juga berdasarkan pengalaman teman-teman saya yang juga berstatus sama, ada beberapa tips yang bisa saya bagikan untuk para single moms yang sudah memasuki fase tersebut.

Handshake

Yang perlu disiapkan sebelum membawa pulang pasangan baru dan memperkenalkan mereka kepada anak:

  1. Pastikan hubungan itu sudah mantap terlebih dahulu.

Namanya sedang jatuh cinta, pasti berjuta rasanya dan wajar kalau kita ingin berbagi perasaan berbunga-bunga ini kepada anak, tapi sebaiknya kita tidak terbawa hanyut dan jadi ceroboh. Yakinkan dulu hubungan ini adalah hubungan yang serius dan memiliki arah ke depannya sebelum memperkenalkan calon pasangan kepada anak. Kenapa? Karena di saat hubungan ini sudah solid maka akan lebih mudah bagi kita untuk melibatkan anak-anak dan mendapatkan restu mereka.

Kebayang nggak kalau hubungan kandas di tengah jalan? So, make sure you already have a secure and strong enough relationship before involving the children. Begitu juga berganti-ganti pasangan pastinya akan berdampak negatif bagi anak-anak. Memilih untuk tidak melibatkan anak-anak terlalu dini adalah pilihan terbaik karena jika anak-anak sudah attached secara emosional kepada pasangan dan ternyata hubungan tersebut harus berakhir? Mereka juga akan tersakiti.

Ask yourself these questions:

  1. Apakah hubungan ini memiliki potensi jangka panjang? Kalau tidak, sebaiknya ya tidak usah melibatkan anak-anak, kalaupun tetap mau memperkenalkan anak-anak cukup kenalkan pasangan baru sebagai ‘teman’ dan usahakan tidak menunjukan kemesraan di depan anak-anak untuk saat ini.
  2. Apakah saya dapat melihat sosok pria ini sebagai bagian dari keluarga saya? Jika jawabannya sudah mantap iya maka langkah selanjutnya adalah memperkenalkan dia dengan anak-anak.

Hanya setelah kedua belah pihak sudah sepakat bahwa hubungan ini adalah hubungan yang serius dan berkomitmen, baru lah kita bisa mengatur siasat bersama pasangan bagaimana untuk memperkenalkan mereka kepada anak-anak. Yang paling penting juga, bagaimana mengafirmasi hubungan kita dengan anak jika mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan soal sosok baru ini.

  1. Berdialog Dengan Anak Secara Terbuka

Mulai buka pembicaraan dengan anak, tentunya dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami. Ijinkan anak untuk terbuka dan menyuarakan concerns mereka. Biasanya anak-anak hanya ingin diyakinkan bahwa mereka akan selalu tetap dicintai oleh orang tuanya apa pun kondisinya. Apalagi jika anak tidak pernah melihat ibunya dengan pria lain selain ayah mereka. Perubahan ini perlu waktu untuk bisa mereka terima. Jadi tidak ada salahnya mengajak anak untuk ngobrol santai dan tanya perasaan mereka kalau Ibunya memiliki pasangan baru.

  1. Jangan Mengharap Pasangan Baru akan Berperan Penuh Sebagai Figur Ayah

Diskusikan secara terbuka dengan pasangan baru mengenai kondisi kita. Kuncinya jika pria tersebut adalah pria yang benar-benar siap menerima kita apa adanya maka dia akan berusaha untuk dapat diterima oleh anak-anak. Tapi pastikan pasangan juga untuk tidak memaksakan diri dan biarkan anak-anak yang mengambil kendali. Artinya ya jangan ngoyo harus langsung diterima oleh anak karena pada dasarnya setiap anak itu berbeda, maka penerimaan mereka pun akan beragam. Sepakati bersama bahwa kehadiran sosok baru ini bukan berarti dia akan menggantikan figur ayah dalam kehidupan mereka, apalagi jika ayah kandung anak masih terlibat aktif dalam anak-anak. Hadirkan sosok pasangan baru sebagai teman buat anak dan pendamping Ibu yang akan membantu membersarkan anak secara positif.

Bagaimana Memperkenalkan pasangan:

Rencanakan pertemuan yang tidak formal. Idealnya ciptakan situasi di mana semua pihak bisa relaks, bisa bersenang-senang dan tidak terlalu stress. Kegiatan ringan seperti misalnya main bowling mungkin, main mini golf atau sekedar makan pizza di restoran pizza favorit anak bisa jadi pilihan.

Tips Perkenalan Awal:

  1. Siapkan kegiatan yang fun. Kalau anak sudah cukup umur, libatkan mereka dalam merencanakan kegiatan ini. Tanya mereka misalnya kegiatan apa yang mereka inginkan.
  2. Jangan terlalu stress! Just be yourself dan fokus saja pada kegiatan fun yang dapat dilakukan bersama.
  3. Yakinkan anak-anak bahwa kita mencintai mereka unconditionally! Proses untuk dapat menerima ‘status’ baru Ibu mereka mungkin bagi beberapa anak akan berjalan secara lambat. Pada intinya, prioritas tertinggi kita sebagai ibu tunggal adalah memastikan agar anak-anak tahu dan merasakan bahwa mereka dicintai unconditionally. Seiring dengan berjalannya waktu, anak-anak dapat melihat sendiri bahwa kehadiran sosok baru dalam kehidupan si Ibu dan mereka bukan berarti kasih sayang Ibu akan terbagi atau berkurang. Justru ini adalah kesempatan untuk menambah orang yang penuh cinta dalam keluarga kita.

Pada dasarnya,  kita berhak untuk hidup bahagia dan memiliki hubungan yang baru walaupun status kita adalah ibu tunggal. Anak-anak juga mau ibu mereka bahagia kok, dan ibu yang bahagia pastinya akan membuat anak-anak mereka pun bahagia.

 

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal satu anak, blogger (www.scoopsofjoy.com) dan social media influencer, penggagas Single Moms Indonesia (www.singlemomsindonesia.com). Drink way too much coffee, pecinta jalan-jalan dan photography.


Post Comment