Nasihat Mama Mertua: Noto Ati

Oleh : Amelia Virginia 

Dear mother in law,

Don’t teach me how to handle mu children.
I am living with one of yours and He needs a lot of improvement.
(sumber: Instagram @mommiesdailydotcom)

Suatu pagi, saat asyik berselancar di Instagram, saya menemukan sebuah foto yang isinya quote, seperti di atas. Saya tersenyum dalam hati. Ingat dengan suami, mama mertua, dan teman-teman yang seringkali mengeluh soal mama mertuanya.

Bohong kalau saya nggak pernah mengeluh soal mama mertua. Meskipun saya nggak mengucapkannya, namun bukan berarti saya selalu sepakat dengan semua nasihat beliau.

Sama seperti Ibu sendiri, mama mertua hanya ingin saya menjadi istri dan Ibu yang baik. Dan tentunya, sifat controlling hampir ada di semua Ibu bukan? Jadi, sama seperti ibu kandung, mama mertua juga punya kecenderungan untuk membombardir kita dengan semua nasihat soal gaya hidup yang dianggapnya paling benar.

Bedanya? Dengan Ibu kandung kita bisa protes atau nrimo. “Biasalah, Si Mama…,” begitulah kita saat memilih untuk nrimo semua nasihat Ibu. Namun dengan mama mertua, biasanya kita hanya bisa nrimo. Takut untuk protes, hehehe…

Namun perlahan-lahan saya menyayangi mama mertua saya—semoga beliau juga begitu. Ada beberapa alasan, kenapa saya begitu menyayangi mama mertua saya, seorang instruktur senam yang andal ini?

Pertama, beliau jago masak! Keluarga besar suami saya pengusaha catering terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nenek dari suami saya adalah salah satu quality controller semua masakan dan servis catering-nya. Belaiu terkenal cerewet dan disiplin di kalangan pegawai catering. Dan satu yang pasti, MASAKANNYA ENAK!

Ini semua menurun hingga ke mama mertua. Masakan beliau juga tak kalah enaknya. Setiap kali saya menginap di rumahnya, beliau juga tak pernah lupa membelikan roti favorit saya. Seringkali, beliau juga memasakan makanan favorit saya, tumis tauge tahu. Dalam sehari semalam, berat badan saya naik satu kilogram. Terima kasih, Mama!

Kedua, beliau selalu ada. Beliau selalu pasang badan saat dibutuhkan. Beliau ada saat saya melahirkan. Meskipun saya bilang kepada Ibu dan mama mertua untuk datang pada saat bayi sudah lahir, namun beliau sudah duduk manis di ruang tunggu pada saat saya mengejan yang kesekian kalinya. Saat bayi sudah lahir, beliau menghammpiri saya dan si bayi yang sedang inisiasi menyusui dini. “Hidungnya perisis kamu, Mel…,” katanya sambil berkaca-kaca.

Di agama yang saya imani, perkara nomor satu seorang laki-laki adalah Ibunya. Bukan Istrinya. Sekarang, saya memahami hal itu. Mama mertua—dan tentunya papa mertua—telah membesarkan seorang pria pengasih dan bertanggung jawab. Saya percaya, Mama mertua adalah orang yang bijaksana sehingga saya nggak perlu takut dan cemburu saat suami saya mengutamakan Ibunya.

Ketiga, beliau punya sifat-sifat yang mirip seperti saya, hehehe. Cara kami berbicara sama-sama cepat. Cara kami berargumen kepada pasangan, sama. Emosi kami pun sama-sama meletup-letup. Jika senang sangat terlihat. Jika marah, juga terlihat—sangat jelas. Kami juga sama-sama penggemar buku. Penggemar ilmu agama.

Yang berbeda, beliau jauh lebih percaya diri dibandingkan saya. Nah, kalau ini persis dengan Ibu saya. Jadi, saya punya dua orang Ibu yang senang bergaul dan percaya diri. Sifat ini sangat dominan di putri saya, Btari Nay.

mertua

Keempat, nasihat beliau soal noto ati. Artinya, menata hati.

Suatu hari beliau bercerita, bahwa pernikahan yang mengubah sifatnya. Mama mertua mengaku bahwa sebeum menikah, beliau adalah orang yang keras. Hmm, mungkin seperti gue, ya? Begitu batin saya dalam hati. Namun, pernikahan membuat beliau harus belajar noto ati.

Pernah suatu kali, Ibu saya bertanya, “Kenapa, sih, pasangan muda seumurmu banyak sekali yang cerai? Di zamanku nggak ada yang kayak gitu.” Kalimatnya lebih mirip dengan protes daripada bertanya.

Pertanyaan Ibu senada dengan komentar Dewi Montik yang beredar di media sosial, beberapa tahun lalu. Kurang lebih, ia mengomentari perempuan zaman sekarang yang sombong. Sedikit-dikit minta cerai. Mentang-mentang sudah bisa cari uang sendiri. Itu membuat saya berpikir.

Nah, noto ati ala mama mertua sebetulnya selaras dengan perceraian yang kerap terjadi di era modern ini. “Seorang perempuan harus bisa noto ati, Mel. Kalau nggak bisa kuat dan noto ati, wis mbuh (nggak tahu, deh). Buyar kali rumah tangganya.“

Mengenal kedua mertua saya, saya tahu bahwa mama mertua sudah menjadi jagoannya noto ati. Beliau nggak pernah terdengar protes soal sifat papa mertua. Beliau mencintai papa mertua—begitu sebaliknya—dengan sangat-sangat tulus. Itu semua terlihat dari pengabdian mama mertua selama bertahun-tahun. Menerima semua kelebihan dan kekurangan suaminya dengan ikhlas.

“Namanya juga Papa…,” beliau seringkali bersenda gurau begitu kepada saya dan suami. Dari senda guraunya, beliau tampak menikmat rumah tangganya. Beliau juga tahu persis cara menangani konflik harian yang muncul. Dan noto ati, berujung pada keluarga harmonis.

Sebetulnya, jika ditanya apa kekurangan pasangan? Pasti banyak sekali yang keluar. Atau mungkin, mendadak curhat? Ilmu noto ati yang dipraktikan oleh mama mertua selama bertahun-tahun, mengajak kita untuk nggak berfokus pada kekurangan-kekurangan yang ada, melainkan pada kenikmatan yang muncul, sekecil apapun.

Saya pikir, ini yang nggak muncul di perkawinan modern. Di mana pernikahan hanya dianggap sekadar intitusi halal untuk melakukan seks. Nggak jarang, ketika ada teman-teman yang menikah ucapan yang keluar adalah, “Wah, udah halal sekarang, ya!”

Kalau hanya mencari halal-haram dari sebuah hubungan, percayalah, hubungan kita akan sangat primitif karena hanya mengandalkan seks. Seks yang halal. Atau mungkin, seks yang tadinya haram dan dihalalkan lewat institusi pernikahan?

Karena pernikahan di-drive oleh seks, kita lupa soal mencintai, menyayangi, dan menerima pasangan dengan tulus, ikhlas. Lupa bahwa setiap momen pernikahan hendaknya disyukuri. Dan lupa bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah mencari rasa aman dan tentram.

Begitu konflik muncul, seks tidak terakomodasi dengan baik, perasaan tidak di-emong dengan kasih, kita akan mencari orang ketiga untuk melampiaskan napsu dan sayang. Ujung dari ini semua adalah perceraian, bukan?

Ada dua hal yang saya coba untuk pratikan dari ilmu noto ati ala mama mertua. Pertama adalah manage your expectation. Ekspektasi yang terlampau tinggi akan membuat kita bekerja lebih keras—kadang bahkan nggak masuk akal. Atau, jatuh dengan lebih sakit jika tidak tercapai.

Kita harus cek kembali ekspektasi kita kepada pasangan. Jika pasangan kita bukan orang yang romantis, jangan mengaharapkan momen romantis di dari jadi pernikahan. Jika pasangan kita bukan orang yang peka—seperti suami saya—lebih baik bersikap straight forward daripada mengharap dia bisa membaca isi kepala kita.

Kedua—ini khusus untuk orang-orang emosional seperti sayajangan reaktif. Jika pasangan melakukan atau mengatakan hal-hal yang nggak kita sukai, lebih baik kita menarik diri sebentar daripada bereaksi negative secara berlebihan.

Reaksi negatif yang berlebihan yang memakan energi yang besar. Energi yang besar akan membuat emosi yang meledak-ledak dan itu semua nggak akan pernah menyelesaikan masalah, teman.

Saya, sedang belajar untuk memilih cara saya bereaksi. Saya memilih untuk lebih kalem. Memproses semua informasi di dalam kepala, baru memberi hati giliran untuk memilih reaksinya. Jika saya terus mengandalkan hati dalam bereaksi, saya percaya suami saya yang memilih jalan selingkuh.

***

Saya tahu banget noto ati itu nggak mudah untuk dijalani. Lagi-lagi kita akan dihadapkan dengan ego. Namun, jika niatnya adalah untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan pasangan dan menciptakan keluarga yang bahagia, sepertinya ilmu noto ati layak untuk dicoba, deh.


Post Comment