Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Tragedi Las Vegas

Beberapa hari lalu, terjadi tragedi penembakan di Las Vegas yang menewaskan puluhan orang. Saat anak melihat pemberitaan yang ‘mengerikan’ seperti ini, kemudian mengajukan banyak pertanyaan, jawaban apa yang perlu kita siapkan?

Kemarin, Fia cerita kalau kedua anaknya sempat bertanya mengenai pemberitaan soal tragedi pembunuhan massal di Las Vegas. Fia mengakui, kalau dua anak lelakinya yang kini sudah duduk di bangku SD memang sudah diizinkan untuk menonton televise, “Asal nggak nonton sinteron, anak gue memang sudah boleh nonton berita di TV. Setelah nonton, seperti berita tragedi seperti peristiwa Las Vegas, anak-anak jadi banyak tanya lagi ke gue,” ujarnya.

MENJAWAB PERTANYAAN ANAK TENTANG TRAGEDI LAS VEGAS -mommiesdailyjpg

Kebayang, sih, kalau akhirnya kedua anak Fia jadi banyak tanya. Hal ini pun terjadi pada Bumi. Setiap kali nonton berita atau video bersama mama saya, ujung-ujungnya pasti akan bertanya ke saya. Buat saya, kondisi ini  tentu saja positive karena menandakan anak tidak segan berdiskusi dengan oragtuanya.

Pertanyaan semacam, “Kok, orang bisa bebas membunuh begitu, sih, kenapa sampai begitu?”, “Yang membunuh itu orang jahat, ya?”,“Nanti akan pasti akan ditanggap dan dipenjara kan?” sudah familiar saya dengar.

Pertanyaan yang cukup sederhana bukan? Tapi kalau salah menjawab dan memberikan penjelasan ke anak menurut saya akan bahaya juga, sih. Saya pun akhirnya meminta pandangan pada Mbak Vera Itabiliana, sebagai psikolog anak dan remaja. Ketika anak terpapar berita yang berkaitan dengan kekerasan, apa yang perlu diterangkan oleh orangtua.

Yang jelas, menurut Mbak Vera, anak-anak memang sebaiknya memang dihindari dengan berita yang ‘menyeramkan’ seperti ini. “Pada dasarnya, berita kekerasan itu sebaiknya tidak dikonsumsi oleh anak-anak, kalau memang kita ingin menyampaikan pada anak untuk lebih hati-hati, lebih baik disampaikan secara langsung. Tidak perlu anak ikutan nonton berita tragis seperti itu.”

Sebabnya, menurut Mbak Vera jika anak terlalu sering terpapar berita yang negatif, seperti peristiwa kekerasan, anak berisiko menganggap hal itu biasa terjadi. “It’s  a part of our life, ya mungkin biasa saja kalau seperti itu. Jika marah, kesal, lalu melakukan kekerasan. Itu kan yang tidak diinginkan. Dengan seringnya melihat pemberitaan kekerasan, anak juga bisa kehilangan sensitifitas karena memang dia sudah biasa, karena ekspos di media yang juga mungkin berlebihan,” papar Mbak Vera.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Seperti yang dijelaskan Mbak Vera, anak-anak  yang usianya masih di bawah 12 tahun memang belum bisa membedakan sesuatu yang lebih nyata atau khayalan. Termasuk mana yang baik dan buruk, karena mereka memang baru melihat sesuatu yang kongkrit.

“Mereka belum mampu melihat adanya kemungkinan-kemunginan yang lain. Contohnya, saat kita tidak suka dengan seseorang ada banyak cara untuk mengekspresikannya, tidak perlu langsung pukul atau marah. Nah, kalau mereka terlalu sering melihat yang seperti ini, khususnya lewat dari media, yang dikhawatirkan value tersebut yang diambil oleh anak.”

Tapi bukan berarti anak yang sudah masuk usia remaja bisa bebas melihat berita kekerasan, lho, ya. Soalnya, anak-anak yang sudah masuk pra remaja juga tetap perlu didampingi karena emosinya masih mudah terpengaruh.

Oleh karena itu, Mbak Vera mengingatkan kalau pada saat anak menganggap bahwa di dunia ini banyak sekali orang jahat, seperti yang mereka lihat di TV, orangtua perlu meluruskannya. Bahwa di dunia ini memang ada orang yang jahat, tapi tidak sedikit orang yang melakukan kebaikan. “Dengan begitu anak pun punya pemikiran yang postitif dan menimbulkan rasa aman pada anak. Jangan sampai anak malah jadi cemas dan takut karena mendapatkan value yang tidak seimbang ketika terpapar berita kekerasan. Jangan lupa berikan contoh kalau di lingkungannya masih banyak orang yang baik”.

IMG-20171004-WA0040

Tidak lama setelah saya menghubungi Mbak Vera lewat telepon, Mbak Vera mengirim foto di atas ke WhatsApp  saya, kemudian pesannya, “Ini yg saya maksud, orangtua perlu kasih penjelasan ke anak-anak kalau masih banyak orang baik di dunia ini dan dia harus jadi salah satunya.”

Umh, semakin jelas ya, kalau kita memang nggak nggak boleh membiarkan anak terpapar melihat tontonan yang sifatnya kekerasan. Seperti yang Mbak Vera terangkan, bahwa perkembangan pola pikir anak-anak memang masih terbatas. Tugas kitalah yang harus memberikan filter dan meluruskan jika memang value yang diterima anak tidak tepat.

 


Post Comment