Penyebab Terbesar Demotivasi dan Cara Mengatasinya

Semangat kerja, nggak selamanya menanjak tajam. Ada masanya, ngedrop alias demotivasi. Hmmm, apa saja, ya, penyebab terbesar seserang kehilangan semangat bekerja?

Setiap orang memiliki alasan tersendiri ketika ia memilih sebuah pekerjaan. Ada yang terdorong oleh rasa kekeluargaan di tempat kerja, yang membuat mommies diterima dan berada dalam di “rumah”. Atau di antara mommies mungkin tertarik dengan peluang karier yang sangat besar. Dan tak jarang, tertarik oleh gaji yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut.

Penyebab Terbesar Demotivasi dan Cara Mengatasinya - Mommies Daily

Namun ada kalanya motivasi kita jatuh ke titik terendah, sehingga kita tidak punya lagi gairah untuk bekerja. Kalaupun kita tetap bertahan, kita tidak mencapai hasil yang maksimal, alias seadanya saja. Mungkin mommies pernah atau sedang merasakannya. Pergi bekerja seperti sebuah siksaan, pinginnya cepat-cepat pulang. Tidak ada lagi gairah di dalam diri Mommies. Keriangan itu tiba-tiba hilang. Pada beberapa orang, puncak dari menurunya gairah ini adalah surat pengunduran diri.

Alasan terbesar seseorang demotivasi

Sama halnya tiap orang punya motivasi untuk bekerja, maka demikian pula setiap orang punya alasan uniknya untuk terdemotivasi.

  1. Beberapa penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa ketidak cocokan dengan atasan adalah alasan terbesar orang mengundurkan diri dari pekerjaannya.
  2. Penelitian dari Gallup, misalnya, menemukan bahwa 50% karyawan menyebut faktor atasan sebagai alasan mereka mengundurkan diri.
  3. Sementara lainnya lagi berhenti karena beban kerja yang banyak, minimnya peluang karier, rasa tidak nyaman, “office politics” atau lingkungan kerja yang secara fisik tidak sehat. Hubungan yang tidak harmonis dengan atasan membuat orang tidak betah bekerja, dan ingin pergi.

Bagaimana mengatasinya?

  1. Mommies mungkin tidak bisa mengubah tabiat atasan, tetapi mommies bisa menyesuaikan harapan, dan tindakan mommies sendiri. Selagi penyesuaian itu masih dapat ditoleransi, mengapa tidak melakukannya? Namun meninggalkan pekerjaan karena alasan yang sangat prinsip terkait perilaku atasan tentunya bukan hal yang tabu untuk dilakukan. Apalagi jika hal itu bertentangan dengan nilai-nilai pribadi mommies. Misalnya terkait kejujuran, keadilan ataupun rasa hormat terhadap sesama manusia.
  2. Selanjutnya menyadari hal-hal yang meningkatkan motivasi dan juga mendemotivasi dirinya. Jika Self-Awareness mommies cukup tinggi, maka mommies bisa mendeteksi faktor demotivasi ini lebih cepat. Self-awareness juga memungkinkan mommies untuk menyiasati diri supaya lebih termotivasi, bahkan dalam situasi menekan.
  3. Usahakan mommiesn menemukan satu faktor kuat yang menjadi motivator, artinya bisa menjadi penyeimbang untuk hal-hal kecil lainnya bisa menurunkan semangat kerja.

Mengenal diri, mengendalikan diri, memotivasi diri, adalah sebuah keterampilan yang membuat Mommies bisa “survive” dalam situasi apapun.

Artikel ini ditulis oleh: Billy Latuputty Psi., LCPC, Professional Career Coach dari Experd Consultant


Post Comment