Kenapa Bayi Sering Gumoh?

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Gumoh, meskipun banyak orang yang mengatakan hal ini normal, namun tetap saja membuat nggak sedikit orangtua (termasuk saya) masih suka panik.

Salah satu ‘aktivitas’ pada anak saya ketika mereka masih bayi dan sukses membuat saya panik adalah … GUMOH! Well, walaupun setelah saya ingat-ingat kembali reaksi saya saat Dhia (anak pertama saya) gumoh perdana, kayakya memang lebay ya :D.

Belakangan, setelah saya tahu kalau gumoh atau dalam bahasa medisnya spitting up atau gastroesophageal reflux berarti keluarnya susu pada saat atau setelah bayi menyusu dan ini normal terjadi pada bayi di bawah usia 1 tahun, saya pun mulai bisa tenang setiap kali Dhia atau sekarang, Ghia (anak kedua saya) gumoh. Merasa memahami kebingungan para new mom, saya jadi ingin berbagi sedikit informasi mengenai si gumoh ini.

Kenapa Bayi Sering Gumoh? - Mommies Daily

Banyaknya muntahan yang terjadi saat bayi gumoh hanya 1-2 sendok makan saja dan durasi gumoh pada bayi sehat adalah kurang dari 3 menit.

Pada bayi sehat yang gumoh, ia tak menunjukkan gejala apapun.

Menurut data, 25% bayi-bayi di Indonesia mengalami gumoh hingga lebih dari 4 kali selama satu bulan pertama kehidupannya.

Saat bayi lebih besar, usia 1-3 bulan, saparuh dari bayi yang disurvei mengalami gumoh 1-4 kali dalam satu hari.

30% ibu di Indonesia mengalami kecemasan tentang kejadian gumoh. Nah, mungkin saja, saya masuk di dalamnya :D.

Beberapa hal yang dicemaskan ibu tentang gumoh ini adalah frekuensi gumoh, volumenya dan gejala yang menyertai seperti rewel atau menangis.

Kenapa bayi bisa gumoh? Karena organ pencernaannya belum sempurna. Selain itu, ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil juga berpengaruh. Jadi, saat ASI yang masuk ke dalam lambung terlalu banyak, lambung seakan tak mampu menampungnya. Ditambah lagi katup lambung (pintu masuk susu ke lambung) yang belum kuat. Seharusnya, katup ini menutup ketika susu sudah masuk ke dalam lambung. Tapi pada bayi yang berusia kurang dari 1 tahun katup ini belum bisa menutup dengan erat dan kuat. Akibatnya, susu dari lambung mengalir lagi ke atas menuju ke mulut dalam jumlah sedikit.

Meskipun ada bayi yang gumoh saat ia disendawakan pasca menyusu, tetap menyendawakan bayi usia menyusui wajib hukumnya. Terlalu banyak menelan udara saat bayi minum susu terlalu cepat juga bisa menyebabkan gumoh.

Bedasarkan pengalaman, untuk mencegah gumoh, selain menyendawakan bayi, saya juga menegakkan posisi tubuh si kecil menjadi lebih tegak selama kurang lebih setengah jam. Namun, pastikan bagian perutnya tidak tertekan. Harusnya, gumoh akan berkurang dan hilang saat bayi berusia 18 bulan, saat ukuran lambung lebih besar dan katup lambung lebih kuat.

Satu hal yang perlu dicatat tentang gumoh. Seringkali, banyak ibu yang tidak bisa membedakan gumoh dengan muntah. Ini yang bahaya. Sebab, muntah dan gumoh adalah dua kejadian yang berbeda. Pada muntah, bayi akan terlihat berusaha mengeluarkan susu dari dalam perut. Sebagian besar muntah merupakan kejadian yang tak normal. Muntah bisa jadi merupakan gejala penyakit yang lebih bersat seperti refluks (gastroesphageal reflux disease), sumbatan usus, infeksi telinga, infeksi usus, infeksi paru, radang otak, atau alergi protein.

Bila yang terjadi adalah muntah, maka mommies harus segera membawa bayi ke dokter. Pada kejadian gumoh pun, jika gumoh disertai dengan gangguan napas seperti tersedak, batuk, dan bunyi napas yang tidak biasa, ini juga harus diwaspadai.

Hal lain yang perlu dicemaskan saat bayi gumoh adalah volume gumoh yang lebih dari 2 sendok makan setiap gumoh dan berat badan bayi yang sulit naik.

Sekarang, saat si adik lahir, saya tak lagi terlalu panik saat ia mengalami gumoh. Tinggal angkat tissue, bersihkan, dan kembali menggendong :D


Post Comment