Yang Sabar, dong, Anakku Sayang…

Saya sangat percaya kalau anak itu lahir nggak ujug-ujug langsung sabar. Sabar itu ya perlu dilatih, apalagi mengingat kalau sabar itu salah satu kecerdasan emosi yang perlu dimiliki. 

Ngomongin soal kesabaran, saya mau membuat pengakuan lebih dulu. Bahwa sampai detik ini saya masih perlu belajar mati-matian untuk punya sumbu sabar yang panjang. Makanya saya sering takjub dengan orangtua yang saya kenal punya kesabaran ekstra.

Contohnya, seperti Mbak Valencia Mieke Rhanda. Meskipun dirinya menolak dibilang superwoman, tapi buat saya ia salah satu contoh ibu yang luar biasa yang banyak menginspirasi saya. Nggak cuma hebat karena bisa sabaaaaaar banget memiliki anak yang spesial, ia pun mendedikasikan dirinya untuk membuat Rumah Harapan yang membantu anak-anak yang sedang sakit.

Selain Mbak Just Silly, ada banyak orangtua hebat yang saya tahu mereka punya sumbu kesabaran yang jauh lebih panjang dari saja. Seperti Mbak Yola Tsagia, perempuan kuat di balik berdirinya komunitas Indonesia Rare Disorder. Atau ayah hebat seperti Nobel Larosa, yang membesarkan anak spesial dengan kondisi penyakit langka.

Sementara saya? Ah, masih jauh dari kata sabar. Jadi, kalau saya aja nggak sabaran, gimana saya bisa berharap, anak saya, Bumi bisa sabar? Lah wong ibunya aja modelan kayak gini (tunjuk idung sendiri). Itu salah satu kekhawatiran saya pada akhirnya. Karena gimanapun Bumi pasti butuh contoh nyata dong dari saya dan suami. Jangan sampai Bumi menjadi fotocopy saya untuk urusan ketidak sabaran (matiii gue….).

Baca juga : Anak = Mesin Fotokopi Orangtua

Jadi, selain bolak-balik mengingatkan diri saya untuk memanjangkan sumbu sabar, saya juga mencoba beberapa hal untuk melatih sikap sabar anak saya:

yang sabar dong anakku sayang-mommiesdaily

Melatih anak mengenal emosinya lebih dulu

Menurut psikolog anak dan remaja, Mbak Nina Teguh, untuk melatih anak agar punya kecerdasan emsosional yang baik, hal yang pertama harus dilakukan adalah mengajarkan anak untuk mengenali emosi dirinya lebih dulu. Misalnya kapan anak sedang senang, sedih, kecewa, atau ketika marah. Ketika anak bisa mengidentifikasi perasaannya, maka bisa diajarkan untuk mengelola emosi sehingga dirinya bisa menyesuaikan antara emosi yang disampaikan dengan situasi yang sedang berlangsung.

Memberi pemahaman kenapa perlu sabar

Menjelaskan anak soal makna sabar memang susah-susah gampang, yang jelas memang perlu disesuaikan dengan usia anak karena akan berkaitan dengan cara mereka memahaminya. Sabar itu tidak melulu soal bagaimana cara meredam emosi ketika sedang marah, tapi ruang lingkupnya bisa lebih besar, lho! Contohnya, sabar untuk bisa berjuang, kerja keras, dan pantang menyerah. Namun, ketika menjelaskan soal sabar pada anak tentu saja harus menggunakan bahasa yang sesuai, nggak njelimet sehingga anak bisa menangkap mengapa perlu sabar dan apa aja dampak positif yang bisa didapatkan kalau kita bisa sabar.

Menunda keinginan anak

“Ibu…. Aku boleh makan sushi, nggak?”

“Ibu, aku boleh beli mainan baru nggak?”

“Ibu, kapan aku dibeliin buku cerita baru?”

Biasanya, anak balita sudah punya keinginan seperti ini bukan? Apalagi anak saya yang sudah berusia 7 tahun. Ternyata, salah satu langkah yang cukup efektif untuk melatih anak bersabar adalah menunda keinginan tersebut. Tapi, keinginan yang saya maksud di sini bukan keinginan mendasar seperti mau makan karena lapar, lho, ya. Saat anak meminta sesuatu yang sifatnya nggak urgent, orangtua perlu menundanya. Jangan sampai apa yang diinginkan anak langsung dipenuhi. Ingat, lho, anak itu bukan raja. Mengingat anak zaman sekarang sangat kritis, jangan lupa jelaskan mengapa keinginannya tersebut tidak bisa langung diwujudkan karena memang harus menyesuaikan dengan beberapa kondisi, terutama soal kondisi keuangan :D.

Melatih lewat media permainan

Tahu, dong, ya, kalau dunia anak-anak itu nggak akan jauh-jauh dari dunia bermain. Nah, melatih kesabaran ini bisa juga diajarkan dengan cara yang menyenangkan seperti lewat permainan. Misalnya, nih, lewat bemain puzzle, atau lego. Menurut saya, jenis permainan seperti ini bisa melatih anak untuk lebih sabar, bagaimana ia perlu ketekunan dan sabar untuk  bisa menyelesaikan permainan tersebut.

Merespon sikap anak dengan kesabaran

Nah, sebenernya ini adalah poin yang paling sulit, hahahaha. Ada kalanya, saya suka dibikin geregetan dengan sikap atau polah anak saya, Bumi. Bukannya merespon dengan sabar, kadang malah mulut nyerocos nggak jelas. Padahal, orangtua perlu memberikan respon yang baik saat menghadapi anak. Kalau memang sedang sibuk mengerjakan sebuah aktivitas, nggak ada salahnya juga kok memberikan pemahaman ke anak kalau kita memang sedang sibuk. Tapi, tentu saja perlu memerhatikan bagaimana cara kita merespon. Menurut saya, sih, anak juga perlu tahu  dan memahami kalau sebenarnya ada banyak hal di luar dirinya yang juga harus kita perhatikan dan kerjakan.

Sejauh ini, sih, lima langkah di atas yang sering saya lakukan. Kalau mommies yang lain, punya ‘resep’ lainnya nggak?


Post Comment