Bye Bye Balita, Welcome ABG!

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Ada 10 hal yang saya syukuri begitu anak saya lepas dari masa balita dan memasuki masa remaja. Karena kadang, mengasuh balita itu nggak selucu tampilan si kecil ketika di foto, ya nggak..!

Melihat linimasa social media saya yang dipenuhi oleh teman-teman yang punya anak balita membuat saya bersyukur saya sudah melewati itu semua, hahaha. Hunting nursery room, rekomendasi baby sitter, dokter anak yang pro ASI, resep MPASI, pesta syukuran cukur bayi, dan konsultasi soal pernak-pernik kebutuhan bayi lainnya. Mendengar cerita teman-teman saya, rasanya dengan bangga saya bisa bilang, “I’ve been there, done that!”

Bulan ini, anak saya, Pi, berulang tahun yang ke-10. Melihat kembali foto-foto lama Pi saat masih balita; pipinya chubby, keningnya lebar, matanya belo, badannya montok. Uber imut! Belum lagi celotehannya yang polos dan jenaka. Berbeda 180 derajat dengan dirinya sekarang, yang tirus, badannya tinggi kurus dan pembosan. Rasanya, ingin kembali ke masa-masa Pi balita. Namun, jika diingat-ingat, sebetulnya masa kanak-kanak itu tidaklah selucu fotonya. Banyak hal dari pertumbuhannya yang sekarang saya syukuri.

Bye Bye Balita, Welcome ABG! - Mommies Daily

1. Bebas dari memerah ASI. Sebagai ibu bekerja, memerah ASI adalah hal terberat yang saya ingat pernah saya alami. Hidup saya terpaku pada jam dan hitungan botol ASIP yang tersisa di freezer. Maklum, ‘penghasilan’ susu saya mepet. Harus pontang-panting supaya bisa survive sampai 6 bulan. Pulang kantor sebisa mungkin harus on time, hindari hal-hal yang tidak efisien dalam bekerja, dan merelakan waktu hang out dengan teman.

Baca juga:

Tips Memerah ASI Saat Harus Dinas Kantor Ke Luar Negeri

2. Bisa begadang (marathon serial). Punya bayi berarti siap mental sering-sering begadang. Suatu kali, saya janjian mau piknik dengan adik. Namun, sampai menjelang siang belum ada kabar darinya. Rupanya, adik mengeluh semalaman begadang karena anaknya yang berusia 13 bulan susah tidur. Alhasil, batal deh, piknik barengnya. Sekarang, tidak pernah lagi saya alami begadang karena anak. Kalaupun begadang, itu karena ada serial di Netflix yang ingin saya habiskan!

3. Momok bernama demam. Sewaktu masih balita, anak sering sekali kena demam. Habis imunisasi, panas. Capek sedikit, panas. Ada orang dewasa sakit, dia juga panas. Saat anak sakit, rasanya raga ikutan lemas. Belum lagi, Pi punya ‘bakat’ kejang demam. Hu…hu…! Adrenalin tak berhenti terpacu sampai si demam itu pergi dari tubuhnya. Sekarang, bukannya nggak pernah demam, sih. Tapi tidak sesering dulu.

4. No more Barney! Di rumah, anak adalah raja. Tayangan televisi, musik di MP3, sampai laptop semua dijajah tontonan anak. Dulu, tiada hari tanpa lagu-lagu dan video Barney, Thomas, Teletubbies, In the Night Garden, dll. Sampai-sampai ‘jingle’ di kepala isinya stok lagu anak-anak. Ha…ha…ha…! Sekarang, selera lagunya sudah sama dengan ayah ibunya. Thank God!

5. Tidur sendiri. Dulu, tidur harus dikelonin. Dia selalu minta dibacain buku, lalu dipuk-puk pantatnya sampai ia tertidur (hadeh!).

6. Nambah teman diskusi. Sekarang, dia selalu nimbrung apa pun yang sedang dibahas oleh saya dan suami. Mau tahuuu…aja!

7. Bisa disuruh-suruh. Semakin besar artinya kemandiriannya bertambah. Tidak ada lagi kerepotan memandikan anak, menyuapi, memakaikan baju, dan sebagainya. Malah, sekarang ketambahan bala bantuan. Dia sudah bisa diserahi tanggung jawab mengepel lantai dan membantu melipat baju dari cucian. Lumayan!

8. Urusan makan jadi lebih gampang. Tidak perlu lagi repot-repot slow cook, buatin nasi tim, daging ataupun ikan digiling, sayuran diumpetin di nasi. Dia bisa makan apa pun sama dengan yang saya makan. Kalau saya sedang malas masak, dia sudah bisa bikin scramble egg atau nasi goreng sendiri.

9. Asisten belanja. Tak perlu lagi repot menghadapi anak mendadak tantrum atau lari-larian mengejar anak ke sana kemari di supermarket. Dia bisa menjadi asisten belanja yang membantu mengambil barang-barang daftar belanjaan, menghitun berapa uang yang harus dikeluarkan, dan membawakan tas belanjaan.

10. Teman hang out. Mau jalan ke rumah teman, menghadiri acara seni, nonton bioskop, atau piknik, ada teman jalan yang siap menemani kapan pun. Kalau diajak ke kafe, eh, dia maunya pesan kopi sendiri. Ya ampun, udah gede, ya!


Post Comment