Hal Bodoh yang Saya Lakukan Saat Hamil

Saat hamil anak pertama, ada beberapa kebodohan yang saya lakukan. Dan ada satu yang membuat saya menyesal hingga saat ini.

Kalau dipikir-pikir, perbedaan yang saya rasakan saat akan punya bayi yang pertama dengan kedua ternyata cukup besar. Saat hamil pertama saya sangat clueless. Jadinya, buku-buku tentang parenting seakan jadi alas tidur, hahaha. Saya juga mempelajari banyak hal dari forum-forum yang berbicara tentang parenting. Saya mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari mencari informasi, lebih baik mana pakai popok sekali pakai atau cloth diaper sampai membeli hampir semua barang-barang bayi yang direkomendasikan.

Dari semua informasi tentang menyiapkan bayi yang saya jejalkan hampir setiap hari sebelum Dhia lahir, kini saya sadar. Dulu, saya lupa menyiapkan satu hal. Saya lupa menyiapkan diri sendiri untuk menghadapi ‘dunia lain’ sebagai ibu. Saya lupa untuk terus mengenali diri sendiri dan terus menumbuhkan rasa percaya diri. Bombardir informasi malah membuat saya selalu ingin terlihat sempurna. Hasilnya, baby blues berminggu-minggu :(

Agar kebodohan saya tak terulang, saya jadi ingin share di sini. Beberapa kebodohan lain yang saya lakukan saat hamil pertama:

happy-mom-with-baby_ulbjuu

1. Membeli semua barang bayi, hingga yang paling canggih sekalipun
Selain boros, membeli semua barang bayi yang umumnya disebutkan dalam buku atau artikel, ternyata tak selamanya berguna. Contohnya, saat saya membeli sebuah gendongan canggih, yang menurut review, bayi akan terasa nyaman dalam gendongan ini. Faktanya, Dhia baru bisa tidur tenang dalam gendongan saya, bila digendong pakai kain jarik yang adem dan sederhana. Yang paling membuat saya menyesal adalah saat saya membeli alat monitor bayi. Hingga saat ini, saat anak kedua saya sudah berusia 1 tahun, alat ini belum saya gunakan sekalipun. Hahaha. Ini karena anak-anak saya tidur satu tempat tidur dengan saya.

2. Terlalu terikat dengan rencana proses melahirkan
Konon, agar bisa menjadi ibu adalah dengan melahirkan anak secara normal. Iya, sih, itu adalah cara alami manusia untuk melahirkan anak. Tapiiiiiii, saat ketuban pecah dini, dan jantung janin melemah, saya sarankan jangan sekali-sekali ngeyel pada dokter saat ia menyarankan untuk dilakukan operasi cesar. Ini adalah hal terbodoh yang saya lakukan 6 tahun lalu. Saat itu, saya yakin akan ada pembukaan saat tiba-tiba ketuban saya pecah lebih dini. Kenyataannya, hingga lebih dari 12 jam ditunggu, pembukaan yang terjadi hanya satu jari sempit dan jantung janin mulai melemah. Panik dan khawatir, kondisi ini justru memperparah keadaan.

3. Terlalu khawatir dengan kehamilan
Sepertinya, hampir semua ibu atau calon ibu baru level kekhawatirannya meningkat tajam. Ini terjadi pada saya. Saat hamil Dhia dulu, saya sering merasa lemas. Dengan gaya sok tahu saya, saya bilang ke dokter kandungan saya, bahwa Hb saya rendah (bahkan sebelum saya cek darah) dan memaksa dokter untuk memberikan saya surat pengantar untuk menjalani tes laboratorium. Saya ingat betul dengan kalimat yang keluar dari mulut dokter saat itu, “Tidak perlu cek laboratorium, Bu. Ibu dalam keadaan sehat. Jari-jari masih berwarna pink yang bisa diartikan kadar Hb ibu dalam keadaan baik.” Namun, karena saya ngeyel luar biasa, akhirnya dokter memberikan surat pengantar tersebut, dan hasilnya, Hb saya benar-benar normal. Hahaha. Khawatir boleh saja, tapi membuka pikiran dan hati untuk berdiskusi dengan ahlinya akan sangat membantu memperbaiki keadaan.

4. Tidak memberi batasan pada tamu yang ingin berkunjung
Saya pikir, dengan kedatangan banyak teman atau saudara menengok bayi akan membuat saya menjadi lebih senang. Kenyataannya, saking ramainya membuat saya tak bisa beristirahat. Saya juga seakan tak punya waktu untuk beradaptasi dengan kehadiran bayi. Kebodohan lain yang berkaitan dengan keinginan saya memperlihatkan bayi ke semua kenalan adalah membawa Dhia yang masih berusia 1 bulan ke kampung halaman, yang mana kampung halaman saya berjarak 418 km atau 10 jam perjalanan darat. Kalau yang ini, saya menyesal sampai sekarang.

Hamil anak kedua, membuat saya belajar lebih banyak. Selain, karena sudah (sedikit) berpengalaman, improvisasi dalam pengasuhan anak justru saya rasakan lebih nyaman. Namun demikian, terus menggali informasi tetap penting, lho. Hanya saja sekarang saya lebih selektif dalam penerapannya.


Post Comment