Curhat dengan Atasan Juga Ada Batasannya, Lho!

Punya atasan yang sudah seperti sahabat sendiri tentu sangat menyenangkan. Bisa sharing segala hal, termasuk soal pekerjaan. Tapi bukan berarti curhatnya jadi kebablasan, lho ya! Tetap ada etikanya juga.

Menjalani pekerjaan sebagai jurnalis sudah jadi pilihan saya sejak SMA. Nggak tahu kenapa, saya melihat ada banyak nilai plus apabila bisa menjalankan profesi ini. Nggak cuma persoalan jam kerja yang fleksibel aja, tapi banyak kenikmatan lainnya seperti punya atasan yang asoy geboy, hahahaa.

Beneran, nih. Soal ini saya nggak bohong. Setidaknya saya sudah merasakannya ketika bekerja di lebih dari 5 media baik saat bekerja di majalah yang rata-rata isinya cowok, sampai media online seperti Female Daily Network yang kebanyakan isinya perempuan. Sekalinya bekerja di perusahaan non media, saya langsung jat lag. Merasa atasannya sangat bossy dan gila ‘hormat’. Kondisi yang seperti ini nggak pernah saya rasakan ketika bekerja di media. Sudah pastikan saat itu saya jadi nggak banyak omong, sangat membatasi bahkan hubungannya dengan atasan jadi cenderung jadi kaku.

Meskipun merasa nyaman dengan atasan, bukan berarti jadi kebablasan dan nggak melupakan etika, lho, ya. Khususnya dalam hal curhat karena tetap ada batasan yang perlu diperhatikan. Menurut saya, hal ini nggak berbeda dengan etika dalam pergaulan sehari-hari, kok. Di mana curhat idealnya pada orang yang benar-benar bisa kita percaya.

curhat dengan atasan juga ada etikanya lho-mommiesdaily

Lagi pula menurut saya curhat dengan atasan itu juga bisa mengurangi stress pekerjaan lho. Semua mommies juga pasti tahu bagaimana nggak enaknya kalau banyak tekanan dari atasan, terlebih kalau kita tidak bisa mengeluarkan isi hati, apa yang kita harapkan. Apakah pekerjaan sudah terasa over load apa belum. Bukankah kondisi seperti ini nggak bisa dibiarkan? Perlu penyaluran yang tepat. Nah, kalau kondisi ini nggak bisa dipahami satu sama lain, tentu akan berabe. Ujung-ujungnya hasil pekerjaan jadi nggak maksimal.

Bukan begitu, bukan?

Tapi…. urusan curhat dengan atasan ini juga ada etikanya, jangan sampai curhat ini malah jadi memicu masalah baru atau yang paling buruk lagi ‘mengancam’ karier kita sendiri. Sejauh ini, sih, ada beberapa rambu yang selalu saya coba terapkan.

Jangan jadi pengadu.

Percaya, deh, sifat yang satu ini nyebelin banget. Lah, kalau melihat anak yang saling mengadu saja suka bikin geregetan, masa saya sendiri yang sudah sangat dewasa juga jadi pengadu. Memang, sih, ada kalanya situasi di kantor tidak selamanya mengenakan, belum lagi melihat teman yang kerjaannya cari muka dan drama queen. Tapi sudahlah…

Sebagai orang yang sama-sama cari nafkah di kantor yang sama, menurut saya nggak perlulah kondisi seperti ini dicurhatin ke atasan.  Curhat juga harus professional, dong. Toh, sebenarnya tanpa kita curhat dan mengadu, seorang atasan akan mampu membaca situasi dan karakter anak buahnya.

Jaga kepercayaan 

Rambu ke dua yang perlu diingat adalah soal kepercayaan. Mengingat curhatan cerita pribadi dan rahasia dari antara saya dan bos bisa berpotensi menjadi gosip, jadi jangan pernah jadi ‘ember’. Jadi segala pembicaaraan yang terjadi jangan sampai dipublikasikan di depan umum sampai semua orang sekantor tahu. Terlebih sampai mempostingnya di sosial media. Ah, ini mah hukumnya ‘haram’.

Topik yang tepat 

Rambu selanjutnya adalah pemilihan  topik. Curhat yang terlalu mendalam juga sepertinya kurang bagus juga, sih. Biasanya topik yang boleh dicurhatin adalah hal atau kondisi yang kesamaan situasi. Misalnya, nih, saya dengan Fia sebagai Managing Editor memang sering curhat soal anak, kebetulan anak kami juga sama-sama lelaki dan sudah masuk dalam pendidikan SD.

Kalau Mommies gimana, punya cerita dan rambu yang berbeda dengan saya nggak?

 

 

 


Post Comment