Cari Tahu Postingan Foto yang Disukai Pedofilia

Mari cari tahu foto seperti apa foto yang  menjadi ‘umpan’ para predator seks, seperti pedofilia.

Iya, lagi-lagi soal pedofilia. Bukan apa-apa, sebagai ibu yang mengerti bagaimana rasa khawatirnya orangtua pada anak-anak terhadap kejahatan seksual, belajar mengenai hal ini memang perlu bukan?

Nggak bisa dipungkiri kalau saat ini para predator seksual masih bekeliaran mencari mangsa karena kejatahan seksual pada anak memang belum sepenuhnya hilang. Masih ada meskipun kasat mata.

Lalu bagaimana? Selain harus membekali anak soal pendidikan seks sesuai usia anak, memberikan pemahaman soal underwear rules, apa yang boleh disentuh dan tidak, dan yang nggak kalah penting justru kembali bagaimana sikap kita sendiri, terutama yang berkaitan dengan mem-posting foto anak di sosial media.

foto anak yang disukai pedofilia-mommiesdaily

Ya, namanya orangtua kan… suka ‘gatel’ share foto anak. Apalagi usia anaknya masih balita, dengan badan yang ginuk-ginuk menggemaskan. Apapun yang sedang dilakukan anak, melihat polah anak yang lucu, bawaannya gatel mau foto dan posting di social media. Kala itu sepertinya dunia harus tahu apa yang betapa lucu dan beruntungnya kita jadi orangtua. Ya… sekalian biar dianggap kekinian :D

Siapa yang sering melakukannya? *ngacung*

Iya, saya memang melakukannya, tapi sekarang sudah belajar buat tobat, hahahaa. Waktu Bumi masih kecil saya sempat mengalami masa-masa seperi ini. Tapi, seiring usia anak bertambah, saya pun semakin belajar bahwa penting sekali jari-jari ini menahan untuk tidak memposting foto anak di social media. Terutama foto anak yang disukai pedofilia. Foto seperti apa, sih?

  1. Foto Telanjang

Ah, ini sih jelas big no no, ya…. jangan sampai deh kebablasan posting foto anak yang vulgar. Ini sih, malah terang-terangan memberikan umpan. Saran saya buat mommies yang memiliki anak perempuan juga lebih hati-hati memposting foto anak saat berbikini.

  1. Foto duck face

Duuuh…. Ternyata foto anak yang sedang duck face juga disukai para predator lho. Informasi ini saya dapatkan saat membaca artikel di Mamamia.com yang menuliskan hasil pengamantan Erin Cash, detektif Queensland Police yang sudah punya pengalaman lebih dari 12 tahun mendalami kasus kekerasan seksual pada anak, termasuk pedofilia.

  1. Foto anak ditutupi dengan emoticon pada area sensitif

Selain foto anak yang telanjang, dan duck face, Erin Cash bilang kalau foto anak-anak yang ditutupi dengan emoticon pada area sensitif ternyata juga disenangi pedofilia. Mungkin karena foto-foto ini memang mengundang imajinasi mereka ya?

Kalau diibaratkan, social media itu kan seperti mall yang penuh sesak. Siapa saja pun juga boleh masuk dan menikmatinya. Kalau nggak ngerem diri sendiri, ya, bisa kebablasan. Menahan diri untuk tidak update status yang sekiranya nggak penting untuk orang lain, sededar ‘nyampah’ memang perlu dilakukan. Sudah sadar, dong, kalau media social bukan diary tempat mencurahkan uneg-uneg segala macam?

Lagian, saya sih, malu, deh, kalau suatu waktu diingatkan sama time hope mengenai postingan kita yang ‘nggak’ banget. Belum lagi kalau ingat soal rekam jejak digital yang nggak akan pernah hilang.

Belum lagi soal penyebaran foto. Setelah kita posting foto anak di social media, kita kan nggak akan pernah tahu siapa yang menyalin foto tersebut, kemudian menyimpan, bahkan menggunakannya untuk keperluan yang justru merugikan kita.

Nah, kebayang nggak kalau kita memposting foto anak yang mungkin sekarang tampak lucu dan mengemasakan tapi nanti akan dilihat anak saat mereka dewasa dan mereka nggak suka??? Bisa protes keras pastinya. Malah siapa tahu anak kita merasa dieksploitasi dan merasa privacy-nya dilanggar.

Sekarang ini, sih, setiap kali mau memposting foto anak di social media, saya mencoba melakukan review ulang lebih dulu. Dengan bertanya pada diri sendiri.

  1. Apakah foto tersebut memang layak diposting?
  2. Bagaimana dengan ekspresi atau pakaian yang dikenakan oleh anak, tertutup atau terbuka?
  3. Apakah foto yang akan kita posting akan memancing imajinasi para predator? Bukan apa-apa, nih, saya pernah membaca sebuah artikel kalau para pedofilia ini sering sekali memanfaatkan fotoshop untuk meningkatkan ‘nilai’ dari foto tersebut.
  4. Kira-kira, apakah foto tersebut punya manfaat bagi orang lain atau sekedar saya ingin pamer saja?
  5. Kalau memang mau diposting, lebih layak untuk social media yang mana?
  6. Apakah difoto tersebut ada teman-temannya? Bisa saja kan orangtua dari teman anak kita ngga suka kalau foto anak di-share di social media.

 

 

 

 


Post Comment