Keterlambatan Bicara, Cikal Bakal Gangguan Serius Lain yang Dialami si Kecil?

Tahu nggak mommies, keterlambatan bicara pada anak bukan merupakan diagnosis suatu gangguan. Melainkan gejala dari sekumpulan gangguan lainnya.

Baru-baru ini saya terlibat diskusi cukup seru bersama awak media lainnya, yang diadakan Rumah Sakit Pondok Indah, dengan tema “Keterlambatan bicara pada anak.” Hadir sebagai narasumber dr. Gitayanti HadisukantoS, Sp. KJ (K), Psikiater Anak dan Remaja. Di kesempatan ini, saya pribadi baru tahu kalau ternyata terlambat bicara atau delayed speech, bisa mengindikasikan gangguan yang lebih serius. Artinya delayed speech bukan diagnosis gangguan, tapi gejala awal dari sejumlah gangguan yang bisa saja dialami si kecil.

IMG_9163Menurut dr. Gitayanti ada 6 jenis gangguan yang memiliki gejala keterlambatan bicara:

  1. Terlambat bicara karena gangguan berbahasa ekspresif

Gangguan ini dialami dalam kemamuan mengekspresikan bahasa lisan di bawah usia 3 tahun. Pemahaman bahasa pada gangguan ini, sebetulnya normal, malah tak jarang tidak diikuti dengan gangguan artikulasi (cadel).Berikut ini ciri-cirinya:

  • Usia 2 tahun: tidak mampu mengucapkan kata, atau beberapa kata.
  • Usia 3 tahun: tidak mampu mengekspresikan kata sederhana.
  • Kosa kata yang dimiliki si kecil terbatas.
  • Sulit memilih dan mengganti kata yang tepat.
  • Memendekkan ucapan yang panjang.
  • Si kecil bisa kehilangan awalan atau akhiran.
  • Salah menggunakan tata bahasa (kata penghubung, kata ganti dan kata kerja).

Yang perlu diingat dari gangguan ini, Dr. Gitayanti, mengungkapkan. Gangguan ini terjadi bukan karena disabilitas mental (retardasi mental), autisme, tulis atau epilepsi.

  1. Terlambat bicara karena gangguan berbahasa reseptif

Gangguan ini terjadi pada anak 2 tahun. umumnya kemampuan bahasa ekspresifnya juga terganggu, berikut dengan gangguan artikulasi, seperti cadel. Ciri-cirinya:

  • Sulit memahani struktur tata bahasa (kalimat negatif, pertanyaan dan perbandingan)
  • Kurang bisa memahami bahasa dengan bentuk yang lebih halus, seperti nada suara, dan bahasa tubuh.
  • Usia 12 bulan, tidak memberikan respons bila ditunjukkan suatu benda.
  • Usia 18 bulan, tidak mampu mengindentifikasikan objek sederhana, atau mengikuti instruksi sederhana.

Terapi yang bisa dilakukan untuk gangguan berbahasa repestif dan ekspresi adalah terapi wicara.

  1. Terlambat bicara karena disabilitas intelektual

Anak dengan gangguan ini memiliki IQ di bawah rata-rata (71-90), berakibat memiliki kemampuan belajar yang lambat. Gejala anak yang mengalami disabilitas intelektual, sebagai berikut:

  • Sering melamun atau bengong.
  • Sibuk sendiri, tidak bisa diam.
  • Prestasi akademis, tidak sesuai dengan usianya.
  • Kerap tantrum, karena kurang bisa mencari alternatif pemecahan secara kognitif.
  1. Terlambat bicara karena autisme (autism spectrum disorder)

Si kecil yang mengalami gangguan tumbuh kembang autisme, bisa mengalamiu keterlambatan bicara atau berkomunikasi. Dengan cakupan yang lebih luas, yaitu gangguan interaksi sosial timbal balik. Berikut ciri-cirinya:

  • Tidak ada kontak mata.
  • Tidak merespon jika diajak bicara
  • Cuek dengan orang-orang disekelilingnya.
  • Tidak bisa bermain pura-pura.
  • Jika berinteraksi tidak menatap mata orang lain/tidak tertarik pada ekspresi wajah orang lain.
  • Berminat pada satu benda, misalnya gerak baling-baling kipas angin, yang terus ia amati.

Gejala-gejala di atas biasanya terjadi sebelum usia 3 tahun. Inilah pentingnya, melakukan  deteksi dini. Agar bisa segera diambil tindakan pengobatan dan terapi .

  1. Terlambat bicara karena ADHD (attention defixit/hyperactivity disorder)

Anak dengan ADHD, mempunyai gangguan pemusatan perhatian. Perilaku yang ditunjukkan biasanya hiperaktid dan impulsif. Misalnya:

  • Selalu bergerak, lari, memanjat, sulit duduk diam untuk jangka waktu yang lama
  • Gelisah, selalu menggerakkan anggota badannya

Sebetulnya anak ADHD bicara banyak, tapi di beberapa kasus menurut dr. Gitayanti anak ADHD justru mengalami keterlambatan bicara.

Terapi ADHD, bisa dilakukan dengan pemberian obat, dan serangkain terapi (modifikasi perilaku, okupasi, integrasi sensorik dan orthopaedagogik.

  1. Terlambat bicara karena gangguan motorik

Jika beberapa gangguan di atas, terjadi sebelum 3 tahun. Makan pada gangguan ini, terjadi pada anak usia 5-11 tahun. Berupa sulit lompat, jongkok, lari, melempar, menankap, memanjat, dan merayap. Dan pada motorik halus, mengalami gangguan, menggengam, menjumput, menjentik, menulis, mewarnai, menempel, mengingat tali sepatu dan menggunting.

Hampir sama seperti terapi ADHD, gangguan bisa dapat diatasi dengan terapi integrasi, terpai okupasi, namun juga ditambah dengan fisioterapi.

  1. Terlambat bicara karena gangguan pendengaran

Orangtua sebaiknya juga harus waspada dengan gangguan ini. Biasanya ditandai dengan ciri-ciri:

  • Anak seperti tidak menyimak, dan tidak fokus dengan situasi yang sedang terjadi
  • Salah menjawab pertanyaan lisan, namun pada pertanyaan soal tertulis bisa dijawab dengan lebih baik.
  • Tidak merespons saat dipanggil, kecuali saat berhadapan langsung.

Gitayanti, mengingatkan agar orangtua segera memeriksakan si kecil, jika terjadi keterlambatan bicara. Karena bisa saja, merupakan satu gejala dari gangguan perkembangan yang serius. Semakin dini dilakukan diagnosa, dan dilakukan terapi. Semakin baik pula penanganannya.


One Comment - Write a Comment

Post Comment