Mendampingi si Kecil Menghadapi Kematian Anggota Keluarga

Melewati masa duka ketika kehilangan anggota keluarga bukan hal yang mudah, terlebih untuk seorang anak kecil. Apa yang bisa kita lakukan, sebagai support system-nya?

Bisa mommies bayangkan? Dalam hitungan jam mengetahui 3 anggota keluarga berpulang, kalau saya mengibaratkannya, seakan dunia berhenti berputar saat itu juga. Apalagi ketika nyawa harus melayang karena perbuatan keji segeilintir orang yang tak punya hati dan nalar yang sehat.  Iya! Saya sedang bicara anak kecil yang kehilangan ayah dan kedua saudara kandunganya, dalam sebuah perampokan disertai pembunuhan di daerah Pulomas, Jakarta Timur, Selasa sore, 28 Desember 2016 lalu.

Dari 11 orang yang sempat disekap di sebuah kamar mandi berukuran sangat kecil, 6 orang di antaranya meninggal dunia, termasuk pemilik rumah Alm Dodi Triono (59), dan kedua Putrinya Diona Arika Andra Putri (16), Dianita Gemma Dzalfayla (9). Sisanya ada dua pengemudi pribadi Alm Dodi. Adalah  Zanetta Kalila (13), salah satu dari 5 korban perampokan yang berhasil selamat.

Mendampingi si Kecil Menghadapi Kematian Anggota Keluarga - Mommies DailyImage: www.expertbeacon.com

Sehari setelah kejadian, lewat layar TV saya meilihat Zanetta hadir di pemakaman ayah dan kedua saudaranya, masih menggunakan perban infus. Entah apa yang ada dipikiran anak berusia 13 tahun ini, mampu melihat prosesi pemakaman orang-orang yang dicintainya. Yang jelas Zanetta sedang mengalami masa berkabung. Dan di tengah keadaan ini, keluarga Zanetta berperan besar mendampingi dirinya. Melihat dengan jeli respon emosional seperti apa yang dikeluarkan Zanetta dalam masa berduka.

Terkait hal tersebut, dalam artikel dengan tema serupa, yang pernah saya tulis di MD, Irma Gustiana A,M.Psi, Psi (Psikolog Anak dan Keluarga) , menyampaikan tentang beberapa respon atau reaksi yang wajib diwaspadai oleh keluarga dan orang terdekat si anak, setelah mereka menerima kabar duka.

Baca juga: Saat Harus Menyampaikan Kabar Duka Kepada Si Kecil

  1. Masa depresi yang terlalu lama, di mana anak kehilangan minat pada kegiatan dan kejadian sehari-hari.
  2. Sulit tidur, tidak berselera makan, terus menerus takut sendirian untuk waktu yang lama.
  3. Terjadi regresi secara mental misalnya kembali mengompol, bertingkah seperti bayi
  4. Menarik diri, enggan untuk bersosialisasi
  5. Menjadi lebih mudah marah dan kesal
  6. Prestasi sekolah menurun tajam atau malah tidak mau pergi sekolah.

Tapi perlu diketahui juga, reaksi emosioal setiap anak berbeda. Ada pula yang tergolong normal, “Sedih dan menangis dalam waktu yang tidak terlalu lama, marah karena berpisah, lelah dan sulit tidur pada awal-awal kehilangan, hingga bertanya mengenai arti kematian yang menimpa orang yang meninggalkannya,” tutur Irma kepada Mommies Daily.

Masa pemulihan, adalah masa penentuan

Dimulai dari 10 tahun, seorang anak mulai mengenal konsep kematian dengan baik. Tak heran jika ada reaksi emosi berupa perasaan cemas, takut akan kesendirian, takut akan suatu kejadiaan atau agresivitas yang datangnya dari orang lain.

Namun, usia Zanetta belum cukup matang untuk bisa mengelola perasaan sedihnya dengan baik. Maka kata Irma, peran lingkungan sekitar yang menjadi penentu keberhasilan seorang anak bisa recovery dari masa berdukanya.” “Yang terpenting adalah berusaha membuatnya nyaman, jangan terlalu memaksakan anak untuk bisa memahami semua yang terjadi dalam waktu singkat. Anak butuh ruang, apalagi bagi anak yang menginjak remaja” kata Irma lagi.

Sekadar catatan kecil dari hasil pengamatan saya, perlu juga dilakukan pembatasan akses kepada media. Baik itu media cetak apalagi elektronik, tak terbayang rasanya, jika Zanetta harus mendengar dan menonton berulang kali tentang berpulangnya anggota keluarga tercinta dengan cara yang tak manusiawi.

Zanetta, peluk erat dari kami para mommies yang dari jauh mendoakan kamu.


Post Comment