Saat Harus Menyampaikan Kabar Duka Kepada Si Kecil

sadboy*Gambar dari sini

Kevin sebut saja begitu, pada suatu kesempatan membacakan surat perpisahan kepada kawan baiknya yang telah berpulang dalam peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 jurusan Surabaya – Singapura di daerah perairan Belitung Timur 28 Desember 2014. Momen tadi saya saksikan di televisi. Seketika itu saya merinding, dari mana Kevin mendapatkan keberanian membacakan kalimat demi kalimat untuk kawannya yang telah meninggal dunia? Apakah Kevin menyadari sepenuhnya dia sedang berada di momen berduka? Apa yang Kevin bayangkan tentang kematian? Dan masih banyak pertanyaan yang terbesit di otak saya megenai kedukaan yang dialami oleh seorang anak.

Dalam kehidupan sehari-hari kejadian suka dan duka memang tidak bisa kita elakkan, we must face it! Yang jadi permasalahannya bagaimana jika kita harus menyampaikan kabar duka atau kematian kepada si kecil? Entah itu kehilangan salah satu anggota keluarga, kawan, atau orangtuanya.

Berduka dan Respon Emosional

Perasaan berduka atau kehilangan karena kematian dalam ilmu psikologi dikenal dengan istilah “Grief”. Lebih lanjut  Irma Gustiana A,M.Psi, Psi  (Psikolog Anak dan Keluarga) dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia dan Klinik Rumah Hati menjabarkan mengenai momen berduka. Menurut  Santrock (2004 ; 272) duka cita atau grief adalah kelumpuhan emosional, tidak percaya, kecemasan akan berpisah, putus asa, sedih dan kesepian yang menyertai disaat kehilangan orang yang kita cintai. Sementara itu, Stewart (1988 : 605) menyatakan bahwa Grief adalah perasaan duka cita karena orang yang dicintai meninggal. Kesimpulannya, Grief dapat diartikan sebagai respon emosional terhadap kehilangan seseorang akibat adanya kematian.

Terkait dengan respon emosional yang disimpulkan oleh Grief di atas, menurut Irma ada beberapa respon atau reaksi yang wajib diwaspadai oleh orangtua maupun orang terdekat anak setelah mereka menerima kabar duka.

 

alone*Gambar dari sini

  1. Masa depresi yang terlalu lama, di mana anak kehilangan minat pada kegiatan dan kejadian sehari-hari.
  2. Sulit tidur, tidak berselera makan, terus menerus takut sendirian untuk waktu yang lama.
  3. Terjadi regresi secara mental misalnya kembali mengompol, bertingkah seperti bayi
  4. Menarik diri, enggan untuk bersosialisasi
  5. Menjadi lebih mudah marah dan kesal
  6. Prestasi sekolah menurun tajam atau malah tidak mau pergi sekolah.

Mengingat dampak psikologi setiap anak pasti berbeda-beda, ada pula di antara mereka yang bereaksi normal, di antarannya “Sedih dan menangis dalam waktu yang tidak terlalu lama, marah karena berpisah, lelah dan sulit tidur pada awal-awal kehilangan, hingga bertanya mengenai arti kematian yang menimpa orang yang meninggalkannya,” tutur Irma kepada Mommies Daily.

Bagaimana cara menyampaikan berita duka kepada si kecil? Baca di halaman selanjutnya.


Post Comment