Memertahankan Pernikahan Setelah Suami Berselingkuh

Saya tertegun mendengar cerita salah seorang teman. Anggap saja namanya, Rani. Suatu hari, dia pernah bilang, “Suami gue sudah beberapa kali selingkuh, Dis,” ungkapnya sambil tersenyum miris. Saya tahu persis, di balik  senyum yang ia suguhkan kala itu hanya untuk menutupi rasa luka mendalam di hatinya.

Membayangkan suami selingkuh satu kali saja saya sudah sudah tidak sanggup. Apalagi kalau sampai berulang kali? Seperti yang dirasakan teman saya ini. Semula saya sempat bertanya-tanya, kok, mau-maunya sih, teman saya ini diselingkuhi berulang-ulang? Kenapa tidak bercerai saja?

pasangan selingkuh

Yang jelas, kalau dilihat dari pekerjaaan, teman sudah memiliki posisi yang baik di perusahaan agency. Singkatnya, kalaupun bercerai, ia mampu mandiri, membiayai hidup ke tiga anaknya. Dari segi fisik? Tubuhnya proporsional, dengan kulit putih dan hidung yang mancung. Cantiklah.

Walaupun begitu, tetap saja kan, saya tidak pernah tahu apa yang sebernarnya ia rasakan karena saya memang tidak pernah berada di posisinya. Meskipun tidak habis pikir, sebagai teman saya tetap menghormati keputusannya untuk tetap memertahankan rumah tangganya.

“Gue besar dari keluarga yang bukan broken home. Dan gue nggak kepengen anak-anak ngerasain orang tuanya hidup terpisah. Anggap saja perselingkuhan suami sebagai cobaan. Gue sudah milih dia sebagai suami dan gue akan mempertanggungjawabkan pilihan gue.”

Mendengar jawabnya, tiba-tiba lidah saya kelu. Iya, saya paham, memutuskan bercerai bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Seperti yang diungkapkan Mbak Nina Teguh, psikolog anak sekaligus keluarga, ketika pasangan selingkuh juga tidak harus ‘dibayar’ dengan bercerai. Saya pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut, termasuk alasan apa yang membuatnya memertahakan pernikahan meskipun sudah diselingkuhi.

Sebelum mengetahui dengan pasti suami selingkuh, awalnya sempat curiga nggak, sih?

Ada kecurigaan. Kayak handphone selalu di password, saya juga nggak boleh pegang hp-nya. Tengah malem bukannya tidur, malah keluar kamar yang ternyata lagii asik teleponan, nggak bisa lepas dari hp, bahkan kalau nyetir pun masih sibuk bales chat.

Baca juga: Cara Mudah Mengetahui Pasangan Selingkuh

Saat tahu suami selingkuh, apa yang  dilakukan pertama kali?

Nangis. Waktu pertama kali tahu, ya nangis. Tapi setelah beberapa kali terus keulang lagi… malah jadi ketawa aja. Dan mikir kok masih aja yaaa? Tapi memang pasti ada saja jalannya yang membuat saya bisa membuktikan perselingkuhannya. Suatu ketika saya pernah nggak bisa tidur malam, akhirnya inseng buka-buma sosmed lalu emailnya. Cek cek iseng gitu… eeehh taunya ada email balasan dengan kalimat mesra. Panggil sayang-sayang segala. Waktu itu langsung nangis. Badan rasanya dingin dan bergetar hebat. Sampe ditenangin sama ART karena nangis sejadi jadinya.

Kalau tahu suami selingkuh, saya juga langsung tanya, itu perempuan siapa, ada hubungan apa, ngapain ngomong mesra-mesra, dll. Abis nangis, pasti marah. Selain ke suami, saya juga kontak ke perempuan itu. Reaksinya, ada yang akhirnya ngerti dan menjauh, ada juga yang diem nggak ngerespon. Biasanya sebelum marah ke suami, akan simpan nomer telepon perempuan yang dicurigai tanpa sepengetahuan suami.

Faktor apa saja, sih, yang akhirnya membuat memertahankan rumah tangga meskipun sudah selingkuh bahkan sampai berulang?

Anak. Kalau lagi berasa capeeekkk banget, yang saya ingat cuma anak-anak. Kalau sudah begitu kayaknya dateng lagi sisa kesabaran dan energi.

Baca juga : Gagal Bercerai Karena Anak, Baikkah?

Bagaimana dengan faktor finansial?

Nggak, cuma demi anak. Bukan karena tergantung secara finansial, saya kan juga kerja. Kalau mau ninggalin suami, juga bisa. Bahkan pernah kok, suami nggak memberikan nafkah. Pasti banyak yang bilang pernikahan kami ini sudah nggak sehat. Tapi saya percaya doa. Biar suami dibukakan pintu hatinya.

Sempat berpikir untuk cerai?

Sering. Bayangkan saja, selain masalah selingkuh, urusan finansial kami pun tidak baik.

Bagaimana cara berdamai dengan hati, termasuk kondisi suami yang selingkuh?

Nggak ngerti juga gimana caranya. Tapi sepertinya waktu yang bisa bantu ngejawab semuanya. Makin lama akhirnya bisa memaafkan, meskipun kadang masih suka ingat dan jadi kesal. Terus terang saja, dulu sempat bener-benar benci dan hilang rasa sayang ke suami. Sempat mau balas dengan selingkuh juga. Pernah suatu kali bohong, dan ngaku kalau saya selingkuh juga, rupanya dari sana malah nimbulin penyesalan dan ketakukan buat dia. Saya bahkan bisa memaafkan perempuan-perempuan itu, malah akhirnya ada satu orang yang bisa dekat. Temenan di sosial media, prinsipnya saya  keep your friend close and keep your enemy closer. 

Lalu apa yang bikin mampu memaafkan dan melanjutkan pernikahan?

Saya mutusin untuk ngelanjutin pernikahan, berarti harus bisa memafkan. Ikhlas dengan apa yang sudah terjadi, toh kalo dia jahat lagi ada Allah kok. Nggak perlu dibalas, balasan dari Allah lebih kena.

Percaya atau nggak, itu sudah terbukti kok, Dis. Kayak segala usaha, atau kerjaan dia, ada aja hambatannya. Atau dikasih sakit. Beberapa waktu lalu suami memang sempat sakit, dan sepertinya itu jadi titik balik buatnya.

Waktu sakit sakit dan beberapa bulan di RS, saya yang tetap di sampingnya. Malah sampai kehilangan pekerjaan gara-gara kebanyakan bolos nemenin dia di RS. Kalau saya pulang nengok anak, suami langsung nyariin. Jadi kayak nggak boleh jauh dari dia. Sampai sekarang alhamdulillah nggak badung lagi dia. Saya percaya, semua pasti ada pelajaran yang bisa kami petik. Alhamdulillah sekarang usia pernikahan kami sudah masuk 12 tahun, dan hubungan semakin baik. Suami mungkin akhirnya bisa sadar dan lihat sendiri.

—–

Aaaah…. mendengar cerita teman saya ini, saya kok, seperti membaca sebuah buku novel atau film drama dalam versi yang sesungguhnya. Setidaknya saya belajar, bahwa dalam sebuah perkawinan memang banyak hal yang perlu dipelajari, termasuk berlajar untuk memaafkan. Saya pun berharap, apa yang sudah dilakukan temen saya untuk terus berjuang memertahankan pernikannya memang akan berbuah manis karena tidak semua perempuan punya mental baja seperti dirinya.  Semoga saja…


2 Comments - Write a Comment

  1. belajar memaafkan dan ikhlas melupakan itu adalah pelajaran hidup yang sungguh teramat sangat sulit buat saya, salut buat perempuan2 yang hatinya sekuat baja. saya sendiri masih amat sangat jauh dr itu, saat ini sedang belajar dg sungguh2 ilmu ikhlas, trauma saya membuat saya sampai masih belum siap punya anak kedua karena hal2 yang pernah dilakukan suami saya. rasa sakitnya masih membekas.

Post Comment