7 Alasan Orangtua Tidak Memberikan Vaksin untuk Anak & Tanggapan Para Ahli

7 mitos yang kerap beredar tentang alasan orangtua tidak memberikan vaksin kepada anak, dan saran dari pada expert apa yang sebenarnya terjadi.

Ternyata perjuangan sosialisasi tentang pentingnya kenapa vaksinasi dibutuhkan, bukan hanya terjadi di Indonesia. Beberapa waktu lalu, saat musim dingin terjadi, terjadi 147 kasus wabah campak yang menyebar di 7 negara di Amerika Serikat, di antaranya Kanada dan Meksiko. Sebagian wabah dimulai dari Disneyleand, California. Namun keadaan ini, masih jauh lebih baik, karenas sudah ada vaksin campak, jika tidak, diperkirakan akan ada 4 juta kasus setiap tahunnya.

6 Alasan Orangtua Tidak Memberikan Vaksin untuk AnakContohnya sebelum 1963, ketika vaksin campak, hampir setiap orang di masa kecilnya terkena campak, dan 440 di antaranya meninggal dunia setiap tahunnya. Untungnya, sekarang 80-90% anak-anak di AS sudah diberikan vaksin, meskipun sebagian orangtua tetap konsisten tidak memberikan vaksin untuk anak, alasan paling umum adalah karena keamanan.

Walau pada kenyataannya sepanjang sejarah kesehatan, penemuan vaksin ada salah satu yang terpenting. Sayangnya masih ada informasi yang salah tentang vaksin yang berkontribusi terhadap kecemasan yang dirasakan orangtua, misalnya kesalahpahaman bahwa vaksin untuk campak dan rubela (MMR) dapat menyebabkan autisme. Faktanya menurut Kathryn Edwards, M.D direktur the Vanderbilt University Vaccine Research Program, di Nashville, selama lebih dari satu dekade sudah ada lebih dari selusin penelitian yang menunjukkan tidak ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme tadi.  Ini dia 7 kekhawatiran atau alasan (sebagian) orangtua tidak memberikan vaksin kepada anaknya, dan fakta yang sebenarnya dari para ahli yang sebetulnya terjadi dari situs parents.com:

 1.Terlalu banyak vaksin, akan memengaruhi kekebalan tubuh anak

Fakta: Orangtua yang lahir di tahun 1970-an dan 80-an biasanya akan mendapatkan vaksin untuk 8 penyakit. Semuanya didapat pada 2 tahun pertama, dan pada kenyataannya bisa melindungi diri dari 14 penyakit. Jadi logikanya, jika anak kita sekarang mendapatkan lebih banyak vaksin, dan setiap vaksin ada yang lebih dari satu kali suntikan , mereka akan terlindungi dari hampir dua kali lipat penyakit yang kerap menyerang anak-anak.  Tapi fokusnya bukan pada berapa banyak jumlah suntikan yang anak terima, tapi jumlah antigen yang tubuh anak terima dari vaksinasi untuk membangun antibodi dan melawan infeksi di masa depan mereka.  Mark H. Sawyer, MD, seorang profesor pediatri klinis dari University of California San Diego School of Medicine dan Rumah Sakit Anak, Rady, mengatakan: “Saya seorang spesialis-penyakit menular, tapi saya tidak melihat infeksi pada anak-anak setelah mereka mendapatkan semua vaksin rutin pada 2, 4, dan 6 bulan usia, yang akan terjadi jika sistem kekebalan tubuh mereka kelebihan beban. “

2. Sistem kekebalan tubuh anak saya belum matang, jadi lebih aman untuk menunda beberapa vaksin atau hanya mendapatkan yang paling penting 

Fakta: Menurut para ahli di AS, ini adalah kesalahpaham terbesar di antara orangtua saat ini. justru menurut Neal Halsey, M.D, dokter spesialis anak dan direktur The Institute for Vaccine Safety di Universitas Johns Hopkins, Baltimore. Mitos semacam ini berdampak pada jangka waktu kerentanan terhadap penyakit seperti campak. Contohnya dalam kasus MMR, menunda vaksin kurang dari 3 bulan akan meningkatkan risiko kejang dan demam.  Tidak bukti yang menyatakan, menunda vaksin menjadi lebih aman. Fakta yang ada adalah jadwal vaksin yang direkomendasikan pada ahli, sudah dirancang untuk memberikan perlindungan semaksimal mungkin. Bahkan, puluhan ahli penyakit infeksi dan epidemiologi dari CDC (Centres for Disease Control and Prevention), universitas dan rumah sakit di seluruh AS, melakukan penelitian selama satu dekade hanya untuk mengeluarkan rekomendasi.

3. Vaksin mengandung racun, seperti merkuri, alumunium, formaldehyde dan antibeku? 

Fakta: Sebagian besar vaksin, terbuat dari air dan antigen, tapi tetap dibutuhkan bahan tambahan untuk menstabilkan efektivitas vaksin. Orangtua khawatir terhadap merkuri, karena ada beberapa vaksin yang digunakan mengandung thimerosal pengawet, yang terurai menjadi etimelkuri. Namun, menurut para peneliti, etimerkuri tidak menumupuk di methylmercury tubuh, seperti neurotoxin yang ditemukan di beberapa ikan. FYI, mommies, thirmerosal telah dihapus dari semua vaksin bayi sejak 2001 sebagai tindakan pencegahan.  Sementara vaksin yang mengandung alumunium, digunakan untuk meningkatkan respon kekebalan tubuh, dan merangsang priduksi antibodi yang lebih ebsar dan membuat vaksin bekerja lebih efektif. Meski aluminium dapat menyebabkan kemerahan  dan bengkak di tempat suntikan, namun jumlahnya sangat kecil, dan tidak memiliki efek samping jangka panjang, sejak digunakan di beberapa vaksin, dari 1930-an lalu.  Sedangkan untuk formaldehida, digunakan untuk menonaktifkan potensi kontaminasi, mungkin juga ada di beberapa vaksin. Tapi tenang mommies, jumlahnya lebih kecil dari jumlah formaldehida yang didapat manusia dari sumber lainnya, seperti bauh dan isolasi. Bahkan menurut Dr. Hasley, tubuh kita secara alami menghasilkan formaldehida lebih banyak dari yang terkandung di dalam vaksin.  Antibeku sendiri, memiliki nama kimia ethylene glycol dan propilene glycol, yaitu bahan-bahan yang juga digunakan untuk membuat vaksin, sama halnya seperti polyethylene glycol tert-octylphenyl ether. Keduanya tidak berbahaya.

4. Vaksin tidak benar-benar bekerja, misalnya vaksin flu 

Fakta: Walau vaksin flu termasuk vaksin yang sangat rumit, namun penelitian menunjukkan bahwa vaksin mengurangi risiko 50-60% terkena flu. Intinya memberikan vaksinasi, sama dengan menghindari kematian, rawat inap, ataupun cacat yang disebabkna oleh penyakit itu sendiri. Contohnya vaksin flu pada ibu hamil yang berguna untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat bila ibu hamil mengalami influenza.

5. Vaksin tampak seperti cara bagi perusahaan farmasi dan dokter untuk mencari uang 

Fakta: Sebenarnya masuk akal bagi jika perushaan farmasi untuk memperoleh keuntungan produk yang mereka buat, hal ini sama aja kok mommies, seperti perusahaan produsen obat, misalnya. Tapi memamg tidak ada ketetapan yang jelas dari Pemerintah tentang harga vaksin, inipun terjadi kan ya, di Indonesia. Atupun berapa besar keuntungan yang harus diambil si produsen. Bahkan tak jarang lho, mommies, beberapa perushaan farmasi justru menggunakan dana sendiri untuk melakukan penelitian seputar vaksin.

6. Efek samping dari beberapa vaksin, lebih buruk dari penyakit yang sebenarnya 

Fakta: Tahukah mommies, dibutuhkan waktu setidaknya 10-15 tahun dan empat fase pengujian keselamatan serta efektivitas, baru sebuah vaksin bisa disetujui beredar di masyarakat. Dari situ, FDA baru mendalami data untuk memastikan vaksin aman. Belum berhenti sampai di situ, masih ada pihak CDC, AAP , dan American Academy of Family Physicians yang akan memutuskan apakah akan merekomendasikan vaksin yang dimaksud. Memang benar ada efek samping dari vaksin berupa demam, tapi jarang ditemukan efek samping yang jauh lebih serius dari itu.

7. Memaksa melakukan vaksinasi, sama saja dengan bentuk kekerasan hak manusia

Fakta: Hukum atau ketentuan vaksinasi di setiap negara berbeda-beda, biasa digunakan sebagai persyaratan masuk sekolah maupun daycare. Alasannya hanya satu, untuk melindungi sebagian kecil anak-anak uang mungkin memiliki sistem kekebalan tubuh yang tidak begitu baik. Ada pula, negera uang memberlakukan pengecualian, seperto anak dengan leukemia, atau gangguan kekebalan tubuh langka.  Intinya vaksin itu ditujukan sebagai perlindungan bagi anak. karena sebuah wabah sangat cepat menular, dan menyebar. Jadi menurut hemat saya, semua terpulang lagi kepada orangtua si anak, apakah ia punya kesadaran bahwa menjadi anti vaksin, berarti berisiko membunuh bayi orang lain.

Semoga informasi tadi makin menyadarkan kita para orangtua, kalau vaksinasi anak bermanfaat untuk kesehatan dalam jangka waktu yang panjang dan melindungi anak-anak lainnya.

 


Post Comment