Teruntuk Para Ibu yang Ambisius

Karena menghadapi para ibu yang ambisius itu, selain menyebalkan juga melelahkan!

Salah satu ‘perjuangan’ yang cukup melelahkan sebagai ibu bekerja adalah perjuangan menghadapi tipe ibu-ibu yang super ambisius. Pertama kali saya menyadari kehadiran mereka adalah saat anak-anak sudah mulai masuk sekolah. Itulah momen ketika hati kecil saya menjerit “OMG….. kenapa sih ibu-ibu ini ambisius banget. Chilll…… wong ini hanya urusan lomba anak-anak buat seru-seruan

Teruntuk Para Ibu yang Ambisius - Mommies Daily

Percayalah, di kepala mereka nggak ada tuh pemahaman tentang “Ini hanya seru-seruan.” Yang mereka pikirkan, ini adalah ajang untuk menunjukkan bahwa anak mereka hebat dan di balik anak hebat tentu saja ada ibu yang jauh lebih hebat :D. Oke, kapan kita memiliki kans terbesar untuk berhadapan dengan mereka?

1. Dalam sebuah lomba
Mau itu lomba balap karung, lomba menghias cupcake, lomba menggambar, lomba modeling selama itu jenisnya LOMBA, maka selalu hadir para ibu-ibu ambisius. Saya pernah melihat lomba menghias cupcake tapi tangan yang bekerja adalah tangan ibunya. Saya pernah pernah melihat seorang ibu marah-marah ke anaknya yang duduk di TK karena anaknya mewarnai bunga dengan warna cokelat. Saya pernah disamperin sama seorang ibu yang marah karena anaknya kalah dalam lomba modeling anak dan dia mempertanyakan kreadibilitas saya sebagai juri, hahahaha.

2. Dalam kegiatan sekolah
Tahu dong sekolah sekarang itu, nyaris segala hari dirayakan. Mulai dari hari Kartini, Hari Guru, Hari Bumi, Hari Air dan hari-hari lainnya. Biasanya setiap kelas memiliki tanggung jawab untuk membuat sesuatu. Naaaah, inilah saatnya tanduk para ibu ambisius muncul. Kelas anak-anak mereka harus lebih kece, lebih keren, lebih kreatif dan lebih segala-galanya. Mulai dari konsep, ide, dekorasi, acara, sampai goodie bag. Mending kalau mereka melibatkan anak-anak dalam prosesnya. Yang ada merekalah yang ribet mengerjakan semuanya. Kebayang kalau di setiap kelas ada barisan ibu ambisius. Saya hanya bisa pukpuk ibu-ibu lainnya :D.

3. Dalam membuat tugas sekolah
Anak kelas satu SD diminta membuat alat komunikasi sebagai tugas sekolah. Dan yang kemudian hadir di ruang kelas, adalah, mulai dari kotak bekas digambar dan diwarnai sederhana menjadi wujud handphone, hingga telepon umum lengkap dengan kotak teleponnya setinggi satu meter, dengan potongan jendela yang rapih. Kira-kira, seberapa besar andil si anak dalam prakarya tersebut?

Untuk para ibu ambisius yang ambisius-nya termasuk dalam golongan di atas, sadar nggak kalian, kalau apa yang kalian lakukan membuat:

- Anak-anak tidak menikmati serunya sebuah lomba.
– Anak-anak tidak belajar untuk menerima kekalahan
– Anak-anak tidak terbiasa mengembangkan imajinasi mereka seluas-luasnya
– Anak-anak tidak belajar bertanggung jawab terhadap tugas yang mereka punya
– Anak-anak tidak belajar, bahwa segala sesuatu itu tidak harus langsung sempurna. Karena ada proses untuk membuatnya menjadi sempurna.

Di sisi lain, kenapa saya merasa terganggu dengan ini semua? Karena pada akhirnya, nilai-nilai yang saya tanamkan kepada anak-anak saya mulai dipertanyakan oleh kedua anak saya.

Di saat saya mengajarkan mereka untuk menghargai hasil karya mereka sesederhana apapun itu, mereka melihat dan mendengar bahwa ada teman mereka yang dengan nyamannya dibuatkan oleh mamanya, supirnya, ART-nya atau orang lain.

Untungnya saya tipe mama lempeng nan tambeng, jadi maaf ya nak, mama tetap dengan aturan mama :p.

Dan buat kalian semua para ibu ambisius yang hobi banget mengambil alih pekerjaan anak, yakin banget kalian akan imortal dan bisa mendampingi anak kalian selama-lamannya?! Coba dipikir ulang. Kurang-kuranginlah ambisiusnya.


2 Comments - Write a Comment

  1. Hi Mba Fia.. Sehat selalu ya..
    Pengen ikutan comment ah.. secara gw sering banget liat ibu ibu nan ambisius ini di hampir setiap lomba yang pernah gw & sha2 ikuti.
    Mungkin waktu ikut lomba motivasinya si ibu ibu itu adalah hadiah nya kali yaa.. atau mereka ga mau ngerasa rugi karena sudah keluar biaya yang kadang kadang cukup lumayan untuk satu kali ikut lomba, terutama modeling.
    Jadi aura geregetan dan ga sabaran jd muncul di si ibu ibu itu..
    Yang disayangkan adalah, kalau anak nya nggak menang.. kadang keselnya si ibu-ibu ambisius itu suka dilampiaskan ke anaknya ataupun ke juri bahkan pernah ada yang kepemenangnya..

    1. Hai @AnyaJomes,

      Iya kalau udah urusannya sama modeling, aselik ganas-ganas para ibunya, ahahahahaha. Apalagi kalau jadi juri, diambekinnya bisa dahsyat :D. Yah, semoga kita nggak termasuk dalam golongan seperti itu ya (aseeeeeeek). Thank you ya untuk komennya, salam untuk ShaSha dan sehat juga untuk kalian sekeluarga :)

Post Comment