Ibu Bekerja, Berhenti Melakukan 4 Hal Ini Agar Karier Tidak Jalan di Tempat

Merasa karier kita tidak secemerlang teman-teman lain yang juga memiliki masa kerja yang sama? Coba cek, jangan-jangan kita sering melakukan 4 hal ini!

Saat bekerja di kantor saya yang lama, saya beberapa kali bertemu dengan rekan kerja yang usianya sama dengan saya atau di atas saya sedikit, namun secara jenjang karier dia berada di bawah saya. Tidak bermaksud arogan atau jumawa, namun saat menemukan kondisi-kondisi seperti ini, saya suka bertanya dalam hati, apa yang membuat karier dia seperti ini?

Memang ada dua tipe, tipe pertama adalah orang-orang yang tidak berminat untuk mengejar karier (dan saya banyak juga bertemu dengan orang-orang seperti ini lho), dan ini nggak dosa juga, kan, prioritas orang beda-beda ya. Dan tipe kedua, saya pahaaaam banget kalau orang ini sangat menggebu-gebu untuk meraih jenjang karier yang lebih tinggi, tapi kok ya nggak pernah ada promosi dari perusahaan.

Tapi, setelah saya berada dalam satu divisi dan membawahi beberapa orang yang masuk ke dalam tipe kedua ini, saya jadi mulai paham kenapa (mungkin) mereka tidak mendapat kesempatan dari perusahaan atau atasan mereka sebelumnya untuk menempati posisi yang lebih tinggi lagi.

hal yang membuat karier ibu bekerja tidak berkembang

*Image dari media.licdn.com

1. Sering sekali menjadikan anak sebagai alasan
Baiklah, saya juga seorang ibu. Tidak terhitung banyaknya saya harus izin karena urusan anak, karena bagaimana pun anak adalah prioritas utama dalam hidup saya. Tapi, ada masa-masanya saya juga berbagi tugas dengan suami ketika memang saya benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya. Itu gunanya suami sebagai ayah dan support system bukan? Nah, sayangnya ada beberapa ibu bekerja (bukan single mom) yang SELALU excuse bahkan untuk urusan yang menurut saya itu bisa lho dikompromikan dengan suami mereka. Tanpa peduli apakah kantor sedang deadline atau tidak.

Misal, percaya atau tidak, ada yang pernah izin ke saya untuk setengah hari bekerja karena dia harus mencari sepatu sekolah anaknya *__*. Atau, ada juga yang izin tidak masuk karena kalau dia bekerja si anak mengancam akan mogok makan *__*. Ini baru dua alasan yang menurut saya ajaib. Bayangkan kalau setiap bulan selalu ada alasa-alasan nggak penting yang diajukan di luar izin-izin yang memang benar-benar penting!

2. Tidak berani memilih
Lupakan konsep ideal balancing life between family and work. Saya pernah menulis, bahwa akan selalu ada satu sisi yang harus kita ‘korbankan.” Bukan korbankan dalam artian drama nan menyedihkan gitu. Misal, di waktu yang bersamaan harus mengantar anak ke dokter dan ada meeting dengan klien. Saya memilih mengantar anak ke dokter. Itu artinya, saya mengorbankan pekerjaan saya untuk saat itu! Jadi, jangan memaksa diri untuk menciptakan hidup seimbang, bisa mengantar anak ke dokter abis itu sreeet terbang ikutan meeting maha penting dan lanjut dengan me time dsb. Percayalah, hidup itu tidak seindah omongan bapak Mario Teguh kan :D.

Saat kita takut memilih mana yang harus didahulukan, yang ada kita malah jadi nggak maksimal di dua-duanya. Urusan pekerjaan separoh jalan, urusan keluarga juga nggak maksimal. Belajar untuk berani memilih. Namun ingat point pertama ya, sebagai ibu bekerja, kita memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dan juga kantor. Kita kan yang memilih untuk bekerja?

3. Cenderung membatasi diri karena status sebagai ibu
“Ah gue kan udah ibu-ibu, nggak cocok deh kayaknya nulis artikel seks.”

“Duh, udah punya anak nih, nggak bisa business trip lagi.”

“Yah jangan gue deh, nanti nggak maksimal ngerjainnya. Maklum udah punya buntut?”

Familiar dengan ceplosan-ceplosan ini? Bagaimana perusahaan bisa menawarkan kita posisi yang lebih tinggi kalau kita sendiri sudah nggak pede dengan kemampuan diri? Perusahaan akan berpikir kalau setelah menjadi ibu memang kita nggak berminat untuk meraih karier yang lebih tinggi lagi.

4. Lupa caranya tampil menarik
Ya…ya…ya, saya tahu bagaimana hectic-nya hari-hari kita sebagai seorang ibu. Namun, bagaimana pun kita harus ingat bahwa kita adalah ‘perwakilan’ dari tempat di mana kita bekerja. Saat melihat kita, klien langsung mengingat nama perusahaan kita. Kalau, kita selalu tampil kusam, berantakan, rambut uwel-uwelan, otomatis kita tidak akan menjadi ambassador yang akan dipilih oleh perusahaan. Sedangkan posisi seperti level manager ke atas mau tidak mau akan sering meeting dengan klien, dan bertemu dengan orang lain. Bagaimana perusahaan mau mengutus kita kalau secara tampilan aja kita sudah berantakan?

Saya selalu memberikan perumpamaan seperti ini: Sebagai ibu saya ingin kedua anak saya tampil bersih dan rapih saat keluar rumah. Kebayang kalau mereka dekil dan berantakan, orang akan berpikir ibunya pasti nggak bisa mengurus. Kok bisa sih ibunya diem aja melihat anaknya seperti itu. Nah, demikian juga dengan perusahaan.

Tapi kaaaan, don’t judge the book by it’s cover katanya. Sayangnya, tampilan pertama tetap akan mempengaruhi pandangan orang terhadap kita. Jadi, nggak perlu  cetar membahana ala Victoria Beckham, but at least pastikan bahwa pakaian kita sesuai dengan posisi kita dan wajah kita juga terlihat segar.

Happy Monday Mommies.

Baca juga:

Pengakuan Ibu Bekerja: Apa yang Orang Lain Lihat vs Apa yang Sebenarnya Saya Rasakan

Kesalahan yang Sering Dilakukan di Tempat Kerja

Ibu Bekerja Berhenti Memikirkan 5 Hal Ini!


Post Comment