Pengakuan Ibu Bekerja: Apa yang Orang Lain Lihat vs Apa yang Sebenarnya Saya Rasakan

Mari mundur ke masa-masa ketika saya baru melahirkan anak, cuti melahirkan selesai dan saya pun harus kembali bekerja. Pengakuan ibu bekerja ……….

pengakuan ibu bekerja

Hari pertama kembali bekerja….

Yang orang-orang lihat, betapa semangatnya saya kembali bekerja, sudah nggak sabar melakukan liputan, wawancara dan menulis artikel-artikel yang saya cintai.

Yang sebenarnya saya rasakan, betapa saya sangat merindukan momen-momen tidur siang bersama si kecil sambil menyusui mereka. Betapa saya ingin pulang ke rumah, kelonan, nggak perlu bekerja namun tetap dapat gaji (masalahnya, sini bukan yang punya perusahaan kan ya :D).

Saat mendapat undangan untuk liputan keluar kota atau negeri….

Yang orang-orang lihat, betapa seru dan menyenangkannya hidup saya. Bisa memiiki me time untuk memenuhi undangan keluar kota atau negeri. Bisa tidur di hotel keren, makan enak dan jalan-jalan gratis.

Yang sebenarnya saya rasakan, kalau bisa saya tukar diri saya dengan orang lain saat itu, saya akan dengan senang hati melakukannya. Percaya deh, ‘meninggalkan’ bayi berusia 5 bulan untuk liputan traveling dengan kapal pesiar atau mencicipi hotel baru di negara orang adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan. Masalahnya saat itu adalah, tidak ada tim lain di divisi saya.

Saat saya fokus bekerja sepenuh hati di jam-jam kerja……

Yang orang-orang lihat, betapa saya berubah menjadi teman kerja yang seru menjadi teman kerja yang workaholic dan nggak bisa lagi diajak begajulan. Saya adalah editor yang ambisius! Saya tidak mengerti artinya bersenang-senang.

Yang sebenarnya saya rasakan, saya hanya ingin pekerjaan saya cepat selesai sehingga saya tidak perlu lembur dan bisa segera pulang menemui si bayi di rumah.

Saat saya menjadi pemilih dalam urusan makanan dan minuman…..

Yang orang-orang lihat, saya memilki semangat untuk menurunkan berat badan agar saya bisa segera mengenakan celana jeans ukuran 25 saya. Atau bahkan, saya dianggap sok sehat dan sok bersih.

Yang sebenarnya saya rasakan, …… well ingin kembali kurus memang iya sih, ahahahah, tapi alasan utama saya lebih picky untuk urusan makanan karena saya concern dengan ASI yang akan diminum oleh si kecil. Kalau saja bisa, saya dengan senang hati memakan segala macam gorengan, junk food atau makanan nggak sehat lainnya yang sudah jelas rasanya jauh lebih nyam-nyam dibanding makanan sehat yang saya telan. Masalahnya, saya hanya memikirkan asupan gizi anak saya.

Saat saya menjadi pemain drama yang andal setelah kembali ke kantor pasca melahirkan….

Yang orang-orang lihat, hidup saya itu menyenangkan. Sudah menikah, sudah memiliki anak-anak yang lucu, pekerjaan menyenangkan, bisa traveling tanpa harus bayar, ambisius dalam bekerja demi mengejar karier dsb.

Yang sebenarnya saya rasakan, saya hanya nggak mau melibatkan orang-orang lain dalam drama hidup saya sebagai seorang ibu baru. Saya hanya nggak mau terlihat seperti saya tidak bisa bertanggung jawab dengan pilihan saya sebagai seorang ibu bekerja. Jadi satu-satunya cara, ya bersikap seperti saya menikmati setiap detik kegiatan saya di kantor.

Saya hanya mau, datang ke kantor HRD saya saat itu, terus bilang “Bisa nggak saya dikasih cuti melahirkan 6 bulan, dibayar full. Agar saya nggak perlu gelisah kalau harus pulang telat. Biar saya nggak harus merasa seperti sapi perah yang memiliki target harus dapat sekian milliliter per hari agar ASIP untuk anak saya cukup. Biar saya nggak harus terlihat seperti zombie di pagi hari karena malam harinya kudu begadang nemenin si anak.”

Yes I know that this too shall pass. But it doesn’t make today or tomorrow any easier.

Percaya deh, walaupun nggak mudah, tapi kita bisa kok melakoninya. Kadang, kalau melihat saya sekarang. Saya yang masih tetap bekerja dengan happy. Saya yang masih suka business trip beberapa kali dalam setahun. Saya yang suka nyiumin anak saat mereka sudah tidur karena saya harus pulang larut malam. Saya suka nggak percaya kalau saya sudah berjalan sejauh ini. Dan ternyata saya mampu menjalaninya. Jadi Mommies, ayo tetap semangaaaaaat!

Baca juga:

Menghadapi Tudingan Nyinyir Rekan Kerja Single

5 Hal yang Jangan Dikatakan kepada Ibu Bekerja

Dukungan yang Dibutuhkan Ibu Baru Saat Kembali Bekerja


4 Comments - Write a Comment

  1. mbaaaaak….yg ini saya bangetttttt sejak melahirkan sampe detik ini: Yang sebenarnya saya rasakan, saya hanya ingin pekerjaan saya cepat selesai sehingga saya tidak perlu lembur dan bisa segera pulang menemui si bayi di rumah.
    Saya udah gak pernah gaul lagi, gak pernah hang out ke mana-mana, yg di pikiran cuma pengen cepet pulang aja.

    Ini artikelnya mewakili kita-kita working mom banget euy…makasih ya mbak udah sharing

  2. Kalau anak sudah sekolah, beda lagi dramanya. Lihat anak yang masih menangis karna belum betah di sekolah, tapi kita (saya) harus segera berangkat ke kantor dan di sekolah pun gak bisa ditungguin kalau nangis, jadi terpaksa hanya bisa memeluk sebentar lalu dadah dadah dengan muka ceria, tapi nangis di motor hihihi. Drama banget ya

Post Comment