Duh, Suamiku Ketagihan Nonton Film Porno!

Menyaksikan film porno bersama pasangan sebenarnya boleh-boleh saja, tapi bagaimaa jika film porno ini dijadikan sebagai foreplay setiap kali ingin ‘berhubungan’?

Sudah pernah membaca artikel yang saya buat soal membuat video pribadi dengan pasangan sebagai salah satu bentuk variasi seks? Nah, kali ini saya mencoba mengulas sisi lain dari film porno, di mana pasangan suami istri akhirnya addict untuk menyaksikan film porno sebelum aktivitas seks dimulai.

nonton film porno

Ups… bukan pasangan suami istri, sih, lebih tepatnya si suami. Jadi, beberapa waktu lalu saat ngobrol dengan beberapa teman dekat, satu di antara mereka ada yang mengeluhkan, kalau di setiap hubungan aktivitas seksual sang suami harus lebih dulu menyaksikan film porno.

“Awalnya, sih, gue pikir asik-asik aja, karena gue anggap variasi, cari referensi gaya baru dari film porno yang kami tonton. Tapi lama kelamaan, kok, suami gue selalu harus dipancing dengan nonton dulu. Memang gue nggak cukup membuatnya terangsang, ya?”

Sebagai perempuan sekaligus istri, saya cukup paham dengan kekhawatiran yang dirasakan teman saya ini. Lah moso, tiap berhubungan harus nonton film porno dulu? Tentu hal ini bisa jadi salah satu kebiasaan suami yang sangat mengganggu saat bercinta. Saya pun akhirnya mencoba mencari tahu, seberapa besar, sih, dampak negatif yang ditimbulkan akibat kebiasaan nonton film porno?

Menurut seksolog berlatar belakang pendidikan psikologi, Zoya Amirin, pasangan suami istri yng hobi menonton film porno, meski bersama pasangan sekalipun, memang punya dampak negatif secara psikologi. Soalnya, pada dasarnya, film porno ini kan yang secara eksplisit seksual dibuat untuk merangsang seksual, jadi seakan-akan yang menyaksikan itu jadi punya teman imajinasi sehingga bisa terangsang untuk melakukan hubungan seksual.

Zoya memaparkan, menyaksikan film porno memang bisa membuat seseorang menjadi ketagihan, soalnya film porno ini memang sengaja dibuat ‘sempurna’ sehingga yang menyaksikannya bisa terangsang. Terlebih untuk kaum pria, biasanya kan mudah terangsang dengan visual atau bentuk fisik.

Dengan demikian, bagi pasangan yang sudah menikah kebiasaan menyaksikan film porno ini tentu saja perlu diubah. Biar bagaimanapun, saat pasangan suami istri yang nonton film porno, artinya sama saja seperti ada pihak ketiga sebagai ‘pemancing’. Nggak bagus kan?  Bisa-bisa istri hanya dijadikan objek sasaran saja.

Penjelasan dari  Zoya Amirin seakan mengingatkan saya kembali, bahwa pada dasarnya hubungan seksual antara suami istri memang harus dilakukan atas dasar suka sama suka,  rasa sayang, dan tentunya rasa nyaman di antara keduanya. Sementara kalau hubungan seksual sudah dikendalikan dengan film porno, seakan-akan perlu pihak ketika sebagai foreplay.  Bukankah keintimnan yang sewajarnya bisa terbangun jadi rusak?

Idealnya kan hubungan seksual ini juga harus dilandasi hal-hal romantis?  Artinya, sisi emosional juga punya peran yang sangat penting, bukan hanya pemuas hasrat saja. Kalau  Mbak Zoya bilang, “Film porno tidak saja mampu memboikot keintiman suami istri tapi juga bisa memboikot kepuasan seksual”. Jadi, bisa terbayang, ya, dampak negatifnya sangat besar akibat kebiasaan menyaksikan film porno?

Tentu  akan lebih menyenangkan kalau suami istri bisa  mencari variasi seks  secara wajar. Ketimbang menyaksikan film porno, lebih baik mencari tahu foreplay yang lebih sehat dan mencoba gaya baru sendiri. Mungkin kebiasaan nonton film porno ini nggak bisa hilang dalam satu dua hari, perlu proses untuk mengubahnya. Di sini, peran komunikasi juga sangat dibutuhkan. Nggak ada salahnya, kok, mengungkapkan rasa keberatan ataupun keinginan yang berkaitan dengan hubungan seksual.  Lagipula, kalau tidak ngomong, dari mana pasangan bisa tahu apa yang kita suka dan sebaliknya?


Post Comment