Can You Keep a Promise As a Parent?

Ditulis oleh: Anna Urbinas

Hi Mommies, pernah punya pengalaman berjanji dengan si buah hati tetapi dikarenakan satu dan lain hal janji tersebut ditunda pelaksanaanya atau bahkan dibatalkan? Apabila pernah, maka welcome to the club!

Yes, minggu lalu saya telah melakukan hal yang sama. Terdengar sepele tetapi perlu dipahami, ketika berhadapan dengan toddler yang sedang bertumbuh dan belajar bagaimana bersosialisasi dengan baik, dan salah satunya adalah memegang janji yang telah diucapkan, maka ketika kita sebagai orangtua tidak dapat menepati janjinya, otomatis bisa menjadi contoh yang kurang baik di hadapan anak-anak.

Hal ini dimulai ketika anak saya meminta saya untuk menjemputnya dari day care tepat pulang kerja di hari jumat minggu lalu. Memasuki akhir minggu biasanya saya memang menjemput anak saya dari day care dan kami memiliki mommy-daughter time. Kami bisa pergi ke taman dekat rumah sambil melihat anjing-anjing mini lucu milik beberapa tetangga yang sedang jalan-jalan sore atau bisa duduk di taman sambil melihat ikan-ikan koi cantik berenang. Hal sederhana tetapi berkualitas sambil bercerita bagaimana harinya dilalui di day care, well no need to go to expensive place to make good bounding with your kids right?

Can You Keep A Promise

Sayangnya jumat minggu lalu, agenda pekerjaan saya di luar dugaan dan meeting cukup menyita waktu – alasan klise- tetapi cukup mengecewakan anak saya. Sehingga pada akhirnya saya tidak dapat menjemput dan harus meminta keluarga untuk menjemputnya. As I imagine it will be another drama when I got home. Anak semata wayang saya menangis begitu tiba di rumah, well sebenarnya dia sudah menangis ketika dijemput di day care oleh kerabat saya begitu melihat mommy tidak datang menjemputnya.

Dia menangis kecewa sejadi-jadinya begitu melihat wajah saya muncul di pintu rumah, sepertinya sedang melampiaskan kekecewaanya. Apakah saya balik membentaknya dan memarahinya untuk diam? Tentu tidak. Saya punya andil dalam rasa kekecewaanya. Saya biarkan dia menangis sampai puas, setelah itu saya ajak dia makan malam. Saya biarkan dia menikamati makan malamnya tanpa membahas apa yang terjadi di sekolah dan apa yang menyebabkan dia menangis.

Malam harinya masuk jam tidur, kami punya kebiasaan reading story before bed time. Anak saya meminta saya untuk membacakan majalah Bobo, kisah favoritnya keluarga bobo di halaman awal. Sebelum masuk ke agenda reguler membaca cerita, saya pun memulai pembicaraan empat mata dengan anak saya. Diawali dengan permohonan maaf karena seharusnya saya dapat menepati janji saya dan menjemputnya di day care, tetapi karena banyaknya pekerjaan yang belum selesai menyebabkan pulang lebih lambat dari kantor dan efeknya tidak dapat menjemput tepat waktu di day care. Tentu saja saya menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak seusianya. Lalu saya bertanya apa alasanya menangis? Dengan pelan dia menjawab “You not keep your promise, and that made me sad”. Saya pun memeluknya dan menjelaskan bahwa lain kali hal-hal seperti ini bisa dibicarakan tanpa air mata, tidak ada larangan mengeluarkan emosi dengan air mata, tetapi terkadang terjadi hal-hal di luar dugaan sehingga ada kalanya sesorang tidak dapat menepati janjinya, dan itu bisa  terjadi dengan siapa saja, di mana saja dan kapanpun.

Dengan mata bulat besarnya dia bertanya, “Pernahkah seseorang tidak menepati janjinya pada saya?” Saya jawab “Tentu saja pernah, tetapi ada berbagai cara menghadapinya dan kita akan belajar mengatasi hal tersebut”. Saya pun berjanji minggu depan di hari jumat saya akan kembali menjemputnya dari day care dan kami dapat menghabiskan waktu bersama di taman seperti biasa.

Lesson learnt yang terjadi dari kejadian ini adalah, anak saya belajar bahwa terkadang tidak semua hal dapat terlaksana seperti yang telah dijanjikan, terkadang ada hal-hal di luar kontrolnya yang terjadi sehingga dapat menimbulkan rasa kecewa. Sedangkan buat saya? Sebagai ibu saya mengajarkan satu level pengenalan rasa kekecewaan dan bagaimana mengatasi kekecewaan tersebut serta mencari solusi untuk mengatasi rasa kecewa yang telah terjadi. Well, being a mom is a full time job without instructions! Tetap semangat.


Post Comment