Cuca, Brand Yoga Buatan Anak Negeri

Saat ini olahraga Yoga benar-benar sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang dianut oleh (nyaris) sebagian besar perempuan. Salah satu aspek penunjang yang ternyata penting adalah matras khusus Yoga.

Waktu kecil, saat anak-anak lain hobi lari-lari dan pelajaran olahraga lari dipandang paling gampang, saya malah nelangsa. Lari dan loncat-loncatan macam senam aerobik selalu bikin perut saya nyeri. Jadilah olahraga favorit saya macam senam lantai dan berenang. Jaman dulu mah yoga bisa dibilang belum ‘ada’, kali, ya? Apalagi sebagai kurikulum di sekolah.

Sekarang, dengan situasi ala-ala ibu rumah tangga yang susah keluar rumah, yoga merupakan salah satu pilihan olahraga yang paling fleksibel dilakukan. Hanya bermodalkan video yoga atau aplikasi gadget, yoga sudah bisa dilakukan sendiri di rumah. Walaupun tetap disarankan mengambil beberapa jam kelas yoga dengan instruktur terlatih dulu sebelum yoga sendiri di rumah, ya. Hal ini untuk memastikan gerakan yang dipraktikkan tidak salah dan justru akan menimbulkan cidera otot. Selain paling fleksibel, yoga juga bisa menjadi stress relief. Serta bisa menjadi pilihan aktivitas bersama pasangan dengan memilih yoga for couple.

Meski paling fleksibel, yoga tetap memerlukan matras khusus sebagai alas. Poin ini banyak disepelekan oleh yogi pemula, karena sering merasa belum berkomitmen terhadap yoga, alias baru coba-coba. Sayang, kan, kalau keburu beli matras mahal, eh, ternyata nggak suka yoga. Atau kadang karena terlalu banyak pilihan jenis-jenis matras yoga, ujungnya nggak beli juga karena bisa pinjem punya gym. Ya, nggak apa-apa juga pakai punya gym, asal bisa memastikan kalau kualitas matrasnya bagus dan kebersihannya terjamin. ‘Kan, dipakai oleh orang banyak.

cuca2

Apa, sih, yang menentukan kualitas matras yoga? Berikut poin-poinnya, ya.

  1. Yang utama untuk saya adalah matras tidak licin. Matras pertama saya bisa dibilang belinya asal murah. Jadi dapatnya juga kualitas yang ngasal. Efeknya, beberapa gerakan yoga tidak bisa saya lakukan dengan benar karena tangan atau kaki saya selalu merosot, nggak bisa nempel dengan sempurna ke matras. Nah, otomatis gerakan saya jadi berantakan dan efek yang harusnya saya dapat dari gerakan tersebut malah nggak bisa maksimal.
  2. Matras memiliki ketebalan ideal untuk menjadi bantalan gerakan yoga. Beberapa gerakan yoga memerlukan tumpuan yang empuk tapi tetap harus stabil. Matras yang terlalu keras akan kurang nyaman saat melakukan gerakan yang bertumpu pada salah satu tulang, sementara yang terlalu tebal juga bikin gerakan kurang stabil. Ukuran ketebalan rata-rata matras yoga adalah 6mm. Beberapa brand mengeluarkan juga matras dengan ketebalan kurang dari 6mm, tapi versi traveling yoga mat supaya ringan dibawa-bawa.
  3. Ukuran yang sesuai. Sebagai orang Indonesia yang nggak terlalu tinggi sebenarnya ukuran matras yoga nggak jadi masalah besar karena rata-rata sudah 170 cm lebih. Tapi untuk yang tingginya mendekati 170 cm, memang mendingan pakai yang panjangnya 180-an, ya.
  4. Bahan yang digunakan. Dari berbagai macam bahan yang digunakan sebagai matras yoga, beberapa di antaranya nggak anti bakteri dan berpori. Otomatis diperlukan perawatan lebih teliti untuk matras yang model seperti ini supaya terjaga kebersihannya. Kalau mau simpel, cari matras yang berbahan anti bakteri dan tidak berpori, jadi tinggal dilap saja setelah digunakan.
  5. Beberapa matras yoga dibuat dual-sided, jadi bisa dimanfaatkan kedua sisinya. Biasanya yang model seperti ini warnanya berbeda tiap sisi. Jadi seperti punya dua matras yang berbeda.
  6. Beberapa orang yang concern dengan bahan-bahan eco-friendly lebih memilih bahan yang non-toxic, non PVC, dan bio degradable. Bagus, sih, tapi pada beberapa brand, versi eco-friendly-nya biasanya lebih mahal tapi lebih cepat rusak.

Nah, selama ini di Indonesia pilihan matras yoga tidak banyak. Yang paling mudah ditemui adalah yang berbahan PVC dan harganya murah di kisaran 100-200 ribu rupiah. Tapi jenis ini biasanya licin saat dipakai yoga dengan pose yang perlu tumpuan kuat dan gampang cuwil-cuwil busanya. Alternatifnya adalah matras yoga ‘beneran’ yang kebanyakan cuma bisa didapat via PO (pre-order) dan harganya lebih dari satu juta. Nggak ada, lho, yang di tengah-tengah, gitu, harganya.

Saya sendiri kebetulan beruntung karena bisa mendapatkan salah satu matras yang bagus tapi dengan harga cukup murah karena kebetulan bisa titip teman yang pulang ke Indonesia. Kalau harus PO, wah, bisa dua kali lipat harganya. Seharga yang saya bayar untuk satu set matras berikut tasnya.

Tapi sekarang sudah ada brand Cuca di Indonesia.  Saya sendiri sempat ketemu brand ini waktu googling review matras yoga kira-kira setahun lalu. Tapi sayangnya waktu itu nggak ada yang jual di Indonesia. Malah saya kira salah satu brand luar seperti brand-brand yoga lain. Eh, nggak tahunya produk anak negeri.

Matras Cuca sudah dipakai di Fitness First Gym dan sudah terbukti ketahanannya selama bertahun-tahun. Bahkan founder dan owner-nya, mbak Priscilla Aliwarga sampai belum ganti matras karena miliknya masih bagus saja meski sudah lebih dari tiga tahun.

Saat memenuhi undangan peluncuran Active Wear-nya minggu lalu, saya sempat mengetes matrasnya. Dengan bandingan matras PVC dan karet yang saya punya, matras Cuca memang terasa seempuk PVC tapi sekesat karet. Dengan harga 699 ribu rupiah, matras ini masih seharga separuh harga PO matras sekelas Lulu Lemon. Matras yang saya pakai waktu itu memang kentara kalau nggak baru. Tapi nggak jadi licin dan gompal-gompal karena barang lama.

Selanjutnya: Nggak haya matras-nya yang berkualitas baik, Cuca juga memiliki active wear yang nggak kalah bagusnya, lho.


Post Comment