Orangtua Juga Penting Belajar Kelola Emosi

Yulia Indriati

Saat anak sedang bertingkah yang memancing emosi, jangan sampai kita sebagai orangtua juga terpancing emosinya. Bagaimana cara yang pas menghadapinya?

“Ibu tegas banget, sih, ngomongnya,” kata anak saya Nami (7thn), setelah saya ngoceh tentang permintaan dia untuk mampir jajan padahal hari itu bukan hari jajan sesuai kesepakatan kami.

Kalau Nami komentar kayak gitu, artinya saya sudah bikin dia “deg” dan kadang saya juga jadi ikutan “deg”, sambil mikir, iya juga, sih ngapain ngomel. Kalau saya bilang dengan nada datar aja, toh dia nggak mungkin bisa jajan kalau saya nggak “nyerah”, terlepas dia akan bete.

final1 (1)

*Gambar dari sini

Waktu Nami masih berusia sekitar 3,5 tahun, saya mulai sadar bahwa marah dengan intonasi tinggi alias marah-marah jarang berhasil membuat anak saya berperilaku lebih baik. Marah, kan, beda dengan marah-marah. Kalau marah itu menurut saya wajar saja, anak perlu kenal emosi yang beragam. Tidak mungkin juga dia tidak pernah lihat orangtuanya marah. Dan, dalam perjalanan hidupnya dia akan banyak berhadapan dengan emosi marah, entah dirinya yang marah atau melihat orang lain marah.

Tapi kalau marah-marah, selain intonasi tinggi dilengkapi ngomel plus nyindir ditambah nasihatin panjang lebar. Model kayak begini seringkali membuat anak saya kelakuannya malah makin menjadi-jadi. Padahal saya maunya dengan saya marah-marah itu, dia jadi patuh dan tidak mengulangi lagi. Yang terjadi sebaliknya, dan saya perhatikan power struggle (http://24hourparenting.com/?s=power+struggle) ini terjadi berulang kali.

Agak lupa bagaimana turning point-nya, suatu hari saya merasa harus ada yang diubah dari “strategi” komunikasi saya terutama saat menghadapi kelakukannya yang memancing emosi. Cara yang pas buat saya adalah: pas dia “bertingkah” saya bilang ke diri saya dalam hati: “cool ayo cool aja.” :p atau “ tenang, santai, tarik napas.”

Tentunya sejak saya ubah cara komunikasi ini nggak tiba-tiba anak saya jadi manis dan nggak bertingkah lagi, sih. Perubahan perilaku selalu butuh waktu. Dan, meski sudah coba terus untuk tenang, tetap ada saat saya kelepasan ngomel dan nyoba sampai saya ketemu cara yang pas untuk kami berdua.

Ini dia yang akhirnya saya terapkan, kalau dia ‘bertingkah’

  1. Bertahan dengan kesepakatan. Tidak boleh goyah hanya karena dia ngamuk. Jadinya, penting banget untuk punya kesepakatan, terutama untuk saya, supaya ada acuan untuk konsisten. Kalau sudah sepakat sebelum ke Mal tidak akan beli mainan, ya sudah bertahan dengan itu. Intonasi datar, tenang dan tetap cool.
  2. Saat dia ngamuk dan ingin melanggar kesepakatan, beri empati. Empati adalah mendengarkan tanpa menyalahkan atau membenarkan. Saya suka mikirnya, kalau saya lagi ngamuk, saya juga maunya didengar. Hehehe. Saya biasanya bilang dengan mengusahakan adanya kontak mata: Mama tahu kamu mau banget beli mainan, kalau mama jadi kamu, mama juga ingin, sih. Mainannya keren, baru lagi. Tapi kita udah janji, sekarang bukan waktunya beli mainan. Jadi sekarang kita tidak akan beli mainan.
  3. Di lain waktu, malamnya atau besoknya, saat mood dia lagi OK (ini penting banget untuk lihat-lihat mood), saya akan bahas lagi, kenapa kemarin ngamuk minta beli mainan padahal sudah sepakat untuk tidak beli. Yang ini bahasnya mesti super santai banget, ada selipan becanda, bahas kelakuan dia dan saya, dan bagaimana supaya lain kali tidak perlu ada kejadian seperti ini lagi.

Setelahmencoba berkali-kali baru akhirnya berhasil, satu paket dengan malu dilihat orang dan tidak jarang malu sama teman atau orangtua lain yang kebetulan bareng sama saya pada saat kejadian. Tapi sekarang sudah lumayan, kalau saya bilang tidak karena sudah menjadi kesepakatan, anak saya sudah malas juga untuk ngamuk.

Saya dapat tips ini dari para psikolog anak yang menulis di 24hourparenting.com. Ada dua artikel yang saya anggap penting yaitu:

  1. Tentang marah-marah, dan cara mengelola emosi kita dan juga anak, linknya >> http://24hourparenting.com/2015/04/mengenal-dan-mengatasi-tantrum/
  1. Seputar disiplin positif, kenapa reward dan punishment tidak efektif untuk anak, ini bacaan penting untuk orangtua yang merasa kalau “lembek” ke anak, khawatir anak akan jadi manja, dan kalau “keras” ke anak khawatir akan menjadi orangtua yang otoriter dan tidak dekat sama anak, linknya >> http://24hourparenting.com/2015/03/kenapa-reward-punishment-nggak-efektif-untuk-anak/

Setiap orangtua pasti punya cara sendiri-sendiri mengatasi emosi diri sendiri dan emosi anak.  Kalau mommies, saat lagi kesal, bagaimana cara menanganinya?  Let’s share and learn together.

Artikel ini ditulis oleh Yulia Indriati, ia adalah Content Manager di 24hourparenting.com. 24hourparenting.com adalah adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan orangtua