Stand Up, Speak Out Against Child Abuse

Belum kelar kejadian anak yang diabaikan oleh orangtuanya selama berbulan-bulan di Cibubur, kemudian saya membaca postingan seorang teman di path tentang jasad Angeline (bocah cilik yang hilang di Bali) yang ditemukan di rumahnya! It’s shocking me.

Saat kasus tentang penelantaran dan kekerasan pada anak di Cibubur mencuat, saya sempat berpikir, kok bisa, para tetangganya menunggu sekian lama sebelum akhirnya mereka bergerak untuk melaporkan kasus ini ke KPAI. Begitu juga ketika awal-awal kasus Angeline ini mulai ramai dibicarakan, dan kemudian saya baca guru dari pihak sekolahnya juga mengakui bahwa setiap kali pergi sekolah dari tubuh Angelina tercium aroma tidak enak, saya juga sempat bertanya, kenapa guru atau pihak sekolah tidak langsung bereaksi?

e45dc2a67fbd3866a4744ce6f9a7322e

Well, jawabannya simple saja, karena saat ini, banyak orang (termasuk saya) seringkali merasa tidak enak jika mencampuri sebuah urusan yang notabene bukan urusan kita. Takut dianggap sok tau, kepo atau ikut campur membuat kita semua akhirnya abai terhadap apa yang terjadi dengan anak-anak di sekitar kita. Akhirnya, anak yang nyata-nyata membutuhkan bantuan dari kita semakin tenggelam dalam penderitaannya.

Berita tentang penemuan jasad Angeline benar-benar membuat saya ‘patah hati’. Terdengar lebay? Biarin aja. Nyatanya memang saya benar-benar sedih kok dengan berita ini. Kemudian pertanyaan saya adalah, mau sampai kapan kita acuh dengan hal-hal seperti ini lantas baru heboh setelah misalnya si anak menghilang, atau setelah dia mengalami penyiksaan berbulan-bulan. Atau bahkan (amit-amit) setelah si anak meninggal. Hasil obrolan saya dengan mbak Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi, sampai pada satu kesimpulan; sudah bukan zamannya lagi kita sungkan ikut campur dalam ranah pribadi sebuah keluarga jika memang kita tahu seseorang telah menjadi korban, terlebih jika korbannya adalah anak-anak.

Sejauh apa sih  sebenarnya kita  boleh ‘ikut campur’ jika melihat seorang anak mengalami tindak kekerasan atau penganiayaan?

Menurut mbak Vera, jika itu terjadi di lingkungan tetangga, pertama-tama kita bisa bertanya langsung kepada si anak, apa yang terjadi sesungguhnya. Kemudian, jika kita mengenal orangtuanya, kita boleh mengajak si orangtua berbicara mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dari sini, jika orangtua ngotot tidak ada apa-apa atau bahkan berbalik ‘menyerang’ kita dan melarang kita ikut campur dengan alasan itu adalah hak dia sebagai orangtua, kita bisa melibatkan  ketua RT atau RW setempat. Dan, jalan terakhir adalah kita bisa melaporkan kondisi ini ke KPAI.

Lalu, bagaimana seharusnya tindakan kita jika kita adalah tenaga pengajar di sebuah lembaga pendidikan dan melihat anak murid kita mengalami penganiayaan? Untuk kasus ini, sebagai sebuah lembaga, pihak sekolah bisa mendokumentasikan bukti luka atau memar melalui foto dan bisa dibicarakan saat pihak sekolah bertemu dengan orangtua. Pembicaraan bisa dilakukan secara ‘santai’ namun sambil menginformasikan kepada pihak orangtua bahwa pihak sekolah tahu apa yang terjadi pada si anak. Dan, sama seperti kasus di lingkungan tetangga, jalan terakhir yang bisa ditempuh oleh pihak sekolah adalah melaporkan ke KPAI.

Dari penjelasan mbak Vera di atas, memang terlihat sederhana langkah-langkah yang bisa kita tempuh, sekarang yang jadi pertanyaan tinggal “Maukah kita belajar untuk peduli dengan anak-anak di sekitar kita?” atau “Beranikah kita membela hak anak-anak yang terampas di tangan orang-orang terdekat mereka?”

Semoga kita semua mau dan berani untuk melakukannya :).

*Gambar dari sini