Anak Kompetitif, Bagus atau Jelek?

trophy*Gambar dari sini

Anak saya, Bumy, kini sudah berusia 5 tahun. Saya perhatikan, kepribadiannya semakin terbentuk; satu hal yang sangat kentara, dia supel banget, kayaknya ke manapun kami mampir, dia selalu dapat teman baru. Tapi, juga ada satu hal yang harus distabilo adalah begitu kentara pada dirinya, yaitu tabiatnya yang kompetitif.

Memang sih, yang dikompetisikan oleh anak-anak usia TK ini hal-hal yang nggak penting – buat kita orang dewasa setidaknya, hehe – seperti meributkan pilihan mainan yang paling bagus. Menyebutkan kata-kata yang paling sulit. Siapa yang melempar bola paling jauh. Atau siapa yang bisa bernyanyi paling kencang. *pasang ear plugs*

Saya baca dari artikel di Parents.com, anak-anak usia prasekolah dan TK (5-6 tahun) memang sedang “hobi” membanding-bandingkan. Atau dengan kata lain, lagi kompetitif-kompetitifnya. Jiwa kompetitif anak-anak usia ini sebenarnya terkait dengan naluri yang meningkat akan kompetensi diri mereka, yang mereka ukur dengan cara membandingkan dirinya dengan teman-temannya.

Anak seusia ini juga mulai memahami konsep menang. Karenanya, jangan heran kalau mereka akan berkompetisi tentang apa saja: punyaku yang lebih besar, lebih bagus, lebih merah warnanya. Mereka nggak selalu paham kompleksitas menang dan kalah, tapi mereka mengerti kalau menang itu bagus, jadi mereka mau menang dalam segala hal.

Sebenarnya nggak ada yang salah, sih, dengan sikap kompetitif. We are, after all, living in a competitive world. Masyarakat kita saat ini menganggap penting sekali untuk berhasil ke sekolah yang terkenal bagus, atau dipilih sebagai anggota tim tertentu, atau menonjol pada bidang ekskul tertentu, misalnya. Orangtua tentunya ingin agar anak memiliki kualitas diri yang memungkinkan mereka jadi sukses, dan karenanya nggak ingin mematahkan semangat anak dalam berkompetisi.

Selanjutnya: Jadi, kompetitif baik atau buruk?


6 Comments - Write a Comment

  1. adiesty

    Bumy lucuuuu banget, sih…. hahahaha… kalau ngomongin anak kompetitif di usia balita, gue jadi inget salah satu temen sekolahnya anak gue, deh. Jadi, temennya Bumi ini akan uring2an kalau dia nggak dapet bintang lima dari gurunya. Bahkan pernah suatu kali sampai nangis meraung2. Waktu liat, sempet kaget juga, sih. Soalnya waktu itu Bumi masih kelompok bermain. Sementara anak gue sendiri kok, yang gue perhatiin terlalu santai, ya. Malah jiwa kompetitifnya rada kurang. Mesti banyak dilatih, nih.

    TFS, ya, Riska :*

    1. Hahaha iyaa, ya Dis, nama anak-anak kita sama percisss, beda ejaan doang.

      Wah, macem-macem, ya, ternyata tabiat anak-anak dalam kompetisi ini. Kalo gue suka mengelus dada liat kelakuan anak sendiri yang kompetitifnya sedemikian rupa, elo malah pengen encourage Bumi biar lebih kompetitif. Diajak main bareng aja, gimana? Siapa tau nanti ketularan hahaha…

  2. nenglita

    Aah, asli gue edit tulisan ini sambil senyam senyum, haha! Bumy lucuuuuu…

    Langit pernah juga mengalami fase ini. Jumlah Barbie siapa yang lebih banyak, siapa yang punya apa, bisa ngapain, dsb dst. Kalo main sama teman dia nggak langsung nuduh teman curang, tapi kalo main sama gue, nah baru deh tuh. Hahahha!

    Tfs ya, Ris, ini jadi pelajaran banget buat gue :)

Post Comment