Resiliensi, PR Lain Untuk Orangtua

Bukan hanya orang dewasa saja yang memiliki masalah, trauma, dan rasa sakit secara emosional. Anak-anak yang sering kita anggap berada di masa yang menyenangkan dan bebas masalah, juga dapat memiliki trauma, rasa sakit secara emosional, dan masalah. Masalah yang dapat dihadapi anak bentuknya beragam, mulai dari bullying, masalah akademis, memiliki orangtua yang bercerai, dan masih banyak masalah lainnya. Kasihan kan apabila anak kita mengalami keterpurukkan karena masalah yang dialaminya. Lalu apa dong yang dapat kita lakukan sebagai orangtua untuk dapat membantu mereka? Minimal yang dapat kita lakukan adalah ajarkan mereka resiliensi.

Apa itu resiliensi?

Resiliensi sering disebut dengan bounce back, yaitu kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami keterpurukkan. American Psychological Association menyebutkan definisi dari resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan baik terhadap kesulitan, trauma, tragedi, ancaman, atau sumber stres. Namun, perlu diingat bahwa menjadi resilien tidak berarti anak tidak akan mengalami kesulitan atau stres.

Anak yang resilien merupakan seorang pemecah masalah yang baik. Ketika mereka berhadapan dengan situasi yang sulit, mereka akan mencari solusi yang paling baik. Tidak berarti mereka harus menyelesaikan semuanya sendiri, melainkan mereka juga mengetahui bagaimana cara mencari bantuan.

Kabar baiknya adalah resiliensi dapat diajarkan.

BuildingResilienceInKids1

Lynn Lyons, seorang psikoterapis, dan American Psychological Association memberikan beberapa saran bagaimana menumbuhkan resiliensi pada anak dan remaja:

  • Jangan akomodir setiap kebutuhan anak

Ketika kita selalu menyediakan rasa nyaman dan kepastian pada anak, kita menghalangi kesempatan mereka untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Tentunya  memenuhi kebutuhan yang dimaksud di sini adalah yang sudah sampai di tahap berlebihan ya Mommies, misalnya menyediakan kasur tambahan di kamar karena anak tidak ingin tidur di kamarnya sendiri. Mirip seperti yang diceritakan Lita di artikel ini.  Kalau kebutuhan dasar dan pokok tentu harus tetap dipenuhi dong :D

  • Jangan hilangkan segala risiko yang ada

Orangtua memang pasti ingin menjaga anaknya agar aman, tetapi menghilangkan segala risiko yang dapat ditemui akan menghalangi anak untuk belajar resiliensi. Hal yang harus dilakukan orangtua adalah membiarkan adanya risiko dan ajarkan anak kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi risiko tersebut.

  • Ajarkan anak cara memecahkan masalah

Ajak anak untuk menemukan cara bagaimana mereka dapat mengatasi tantangan yang ada. Terus berikan mereka kesempatan untuk menemukan cara mana yang berhasil dan mana yang tidak.

  • Ajarkan anak kemampuan konkret

Ajarkan kemampuan spesifik yang diperlukan dalam menghadapi situasi tertentu.

Selanjutnya: Hindari bertanya mengapa. Lha, kenapa? :D Lihat di halaman selanjutnnya.


Post Comment