Budgeting, Kunci Keuangan Aman-Nyaman

Financial education and discipline conceptDi awal minggu ini, terpikir oleh saya untuk membahas soal pengeluaran. Nggak heran, sih, mengingat momennya sudah memasuki tanggal tua hehehe… Tapi, ternyata beberapa hari sesudahnya, pemerintah resmi menaikkan harga BBM bersubsidi. Bisa ditebak kalau kebijakan ini akan disusul dengan kenaikan harga barang-barang dan akhirnya cost of living juga, ‘kan?

Sebenarnya, sih, tanpa perlu ada faktor kenaikan harga BBM bersubsidi, biaya hidup kita pastinya akan menanjak terus setiap tahunnya. Halo, inflasi? Jadi, menurut saya, sejatinya sih, we should really be prepared untuk secara teratur mengevaluasi biaya kebutuhan hidup.

Tapi memang, melakukan reality check terkait kondisi finansial itu nggak mudah. Memulainya aja berat!

Berkaca dari pengalaman sendiri, ‘gong’ untuk mulai memerhatikan secara khusus soal finansial adalah saat harus belanja kebutuhan newborn. Ketika menyusun daftar kebutuhan buat menyambut si jabang bayi, baru, deh, mata kami terbuka (terbelalak lebih tepatnya) ketika sadar kalau “Ternyata belanja kebutuhan bayi itu mahal, yaa! Gimana nanti beli popok setiap bulan?? Susu? Imunisasi?”

Dengan hadirnya kesadaran itu, resmi berakhirlah masa-masa ‘bahagia’ kami sebagai DINKS, haha… Pastinya kami terkaget-kaget ketika pertama kali duduk bareng membahas biaya hidup, tujuan finansial, dan “kawan-kawannya.” Maklum, baru kejedot sama yang namanya realitas, hahaha.

Nah, supaya bisa mengatur pengeluaran, pastinya perlu tahu dulu, dong, berapa biaya hidup kita. Seperti waktu akhirnya kami memakai jasa perencana keuangan, tahap pertama yang harus dilakukan ya menemukenali apa saja jenis pengeluaran dan berapa yang dikeluarkan setiap bulan maupun tahun, atau istilah lainnya, melakukan “budgeting.

Waktu itu, untuk menyusun jenis pengeluaran saja saya kesulitan. Saya nggak tahu berapa yang saya keluarkan untuk makan siang, belanja bulanan, dan lain-lain, padahal pengeluaran itu sifatnya rutin. Kalau yang rutin saja saya nggak tahu berapa jumlahnya, gimana bisa siap untuk pengeluaran yang ‘dadakan?’

Tapi, manfaat budgeting ternyata nggak cuma itu, masih banyak keuntungan lain yang bisa didapat, seperti

- Nggak ada lagi pengeluaran yang tidak terduga. Semua pengeluaran itu bisa diduga, kok kalau menilik pengalaman sendiri. Bahkan yang completely out of our scenario (because maybe it’s too horrendous to consider) saja bisa ‘ditampung’ di Dana Darurat. Ligwina Hananto pernah menyarankan kita membuat catatan pengeluaran yang dibuat selama 10 hari. Tujuannya ya supaya kita bisa mendapat gambaran pengeluaran yang rutin kita buat. Ini berguna banget lho, Mommies, karena kalau ada pengeluaran yang nggak bisa kita identifikasi, sama halnya dengan kebocoran yang tidak terdeteksi dalam keuangan kita. Sayang, ‘kan?

- Seiring dengan waktu, kita jadi tahu berapa budget yang ‘wajar’ dan realistis untuk suatu jenis pengeluaran. Misalnya nih, untuk biaya makan siang di kantor. Sebelumnya, saya nggak pernah menghitung berapa yang saya keluarkan dalam sebulan untuk makan siang. Ketika tahu angkanya, agak terhenyak juga. Jadi berpikir, kok sayang, ya, segitu hanya untuk makan siang? Sepertinya dengan sedikit bersikap frugal, budget-nya bisa dialihkan untuk hal-hal yang lebih penting atau bermanfaat; menabung buat bayar kekurangan kamar rawat inap RS, misalnya.

Atau saya jadi tahu, kalau ada pengeluaran di cashflow kami yang sengaja dikecil-kecilin biar nggak terkesan boros (sama diri sendiri aja jaim! Gimana nggak kejedot kenyataaan… OK, back to topic). Contohnya pemakaian pulsa HP dan internet. Setiap bulan pasti nambah kuota, tapi seolah nggak rela menaruh angka budget lebih besar. Padahal, lebih nyebelin lagi kalau harus mengorek budget pengeluaran lain untuk membiayai ‘kekurangan’ yang bisa diantisipasi.

Terakhir, pengeluaran yang bersifat tersier kayak nongkrong, makan di mall, beli buku, atau totok wajah, misalnya. Saya maunya, sih, hidup sesuai kebutuhan dan kemampuan tapi tetap nyaman. Setiap orang tentunya perlu saluran emosi to deal with stress and pressures from life, ‘kan? Well, beberapa metode untuk de-stress itu butuh duit, so the reality told me, hehe. Makanya, daripada denial seperti sengaja ngecilin budget tertentu tadi, lebih baik saya hitung budget yang acceptable untuk hal-hal tersier ini.

Kesimpulannya, dengan budgeting, kita bisa menyusun aliran uang yang paling nyaman buat hidup kita, tapi sekaligus ‘membatasi’ sebagai rem biar nggak kebablasan boros.

Apa lagi kegunaan budgeting? Silakan lihat di halaman selanjutnya.


Post Comment