“Konsentrasi, Dong, Nak…”

raising-hand*Gambar dari sini

Sebuah artikel di Telegraph.co.uk pernah membahas hasil penelitian Oregon State University yang diterbitkan di online journal Early Childhood Research Quarterly. Penelitian ini menyatakan bahwa rahasia untuk membesarkan anak yang berhasil secara akademik bukanlah dengan melatih mereka matematika atau memutarkan musik klasik sejak usia dini, melainkan dengan mengajarkan mereka untuk memperhatikan (to pay attention).

Penelitian yang mengikuti 430 anak dari usia 4 sampai 21 tahun tersebut memonitor perkembangan akademis dan sosial, serta perilaku di rumah maupun di sekolah. Orangtua mencatat berapa lama anak bermain dengan satu mainan tertentu saat di rumah, sementara guru diminta untuk memberikan tugas lalu memonitor mana anak-anak yang menyerah dan mana yang tetap tekun bekerja sampai selesai.

Hasilnya, anak-anak dengan attention span terbaik dan kegigihan memiliki kemungkinan lebih besar untuk menyelesaikan pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi.

Rentang perhatian anak sendiri berbeda-beda tergantung usia perkembangannya. Para ahli perkembangan anak mengatakan bahwa rata-rata anak usia 4-5 tahun seharusnya bisa fokus mengerjakan suatu tugas selama 2-5 menit dikali usia mereka. Tapi tentu saja aturan ini tergantung pada situasi dan berbagai faktor, antara lain:

  • Waktu pengerjaan tugas (apakah pagi hari, sebelum atau sesudah tidur siang, dsb).
  • Apakah anak menyukai tugas yang diberikan.
  • Apakah ada gangguan untuk anak berkonsentrasi, seperti kondisinya sedang lelah atau kelaparan, atau ada kakak-adik yang mengganggunya.
  • Tingkat kesulitan tugas dan instruksi yang diberikan. Jika tugas yang diberikan terlalu sulit, anak dapat beralih dan berhenti memberikan perhatian pada tugas tersebut.

Sebagai orangtua, tanpa kita sadari kita sering menginterupsi apa yang sedang dilakukan anak, karena kita tidak memikirkan nilai dari yang mereka lakukan. Padahal kita juga ingin anak bisa mengikuti pelajaran dengan baik di kelas dan punya keuletan untuk memecahkan masalah maupun mengejar mimpinya.

Masalahnya, kemampuan untuk paying attention atau memerhatikan tidak bisa terjadi begitu saja. Agar anak memiliki rentang perhatian yang panjang, orangtua perlu melakukan dorongan dan stimulasi. Lima tahun pertama hidup anak adalah saat terbentuknya pengembangan fokus dan konsentrasi. Bagaimana caranya?Lihat di halaman selanjutnya, ya.


5 Comments - Write a Comment

  1. Vanshe: Pas banget artikelnya, kebetulan anakku juga punya permasalahan yang hampir sama dengan Bumy. Kira2 kalau udah “terlanjur” antisipasi ke depannya gimana ya? Apa mengurangi gadget dan lebih banyak stimulasi uda cukup bantu menambah konsentrasi? atau ada masukan lain dari gurunya?

    1. Hai Shinta, setelah tahu hasil observasi itu, jatah screen time Bumy aku cut. No more gadget, at least not until he’s 6 yo. Sementara TV aku cut jadi 30 menit per minggu. Drastis bangetttt, memang… Konsekuensinya ya Bumy jadi “sakaw” TV dan gadget xD Suka tau-tau merengek bilang kangen main game, kangen nonton tokoh favoritnya di Disney Channel, as expected lah yaa. Tapi mungkin karena usianya udah cukup gede, dia ngerti sih, saat aku jelasin kalau kebanyakan TV dan gadget nanti bisa bikin nggak pinter… yah kadang pakai trik nge’dongeng’ juga biar dia lebih termotivasi.

      Saran dari Wakepsek-nya senada banget dengan tips yang aku tulis di artikel, kayak:
      1. Sediakan corner khusus buat Bumy main dan beraktivitas yang nggak melibatkan gadget dan TV. Jadinya aku limpahi aja dia dengan mainan yang fisikal, peralatan arts & crafts, buku, dll.
      2. Ajak dia engage dalam aktivitas sehari-hari. Ini sebenernya mudah aku terapin karena nggak hire PRT di rumah, hehe… Jadi ya kalo aku cuci piring, dia bantuin ngebilas (yang enteng dan aman-aman aja). Aku nyikat kamar mandi, dia bantu nyiram. Nyuci mobil sama papanya, gitu-gitu deh.

      Sementara soal tv, dari yang tadinya bisa nonton tiap sore atau malam selama 3 jam, sekarang cuma dapet jatah seminggu sekali, selama 30 menit, dengan supervisi xD Aku juga nggak ngasih nonton tv sebagai reward, ya sesuai jadwal aja tiap minggu dia dapet jatah nonton tv 30 menit.

      setelah 3 minggu, akhirnya Bumy bisa move on dari An*ry B*rds dan bilang udah nggak suka lagi, nggak mikirin lagi :))) Kalo kebetulan lagi di tempat yang nyetel TV (kayak di rumah Oma Opanya), Bumy juga jadi kurang tertarik melongo di depan TV. Dia kayak bisa nge-distract dirinya sendiri dengan latihan piano, main mobil-mobilan, atau minta kertas dan pensil buat ngegambar. Fiuuh Alhamdulillah :D

Post Comment